Senin, 04 Juli 2022
05 Dzul Hijjah 1443

Di Beranda Istana Alhambra (1 – Mendapat Beasiswa)

Senin, 22 Nov 2021 - 13:08 WIB
Istana Alhambra di Granada, Spanyol. Foto: Shutter Stock - inilah.com
Istana Alhambra di Granada, Spanyol. Foto: Shutter Stock

“Andalusia!”, demikianlah nama yang terus berputar di kepalaku, negeri dimana sebentar lagi aku akan menimba ilmu untuk studi lanjut mengikuti program S2 dalam ilmu politik. Setiap kali mendengar namanya, aku teringat pahlawan  besar Islam bernama: Tariq bin Ziyad, sang pembuka jalan dakwah di daratan Eropa untuk pertama kali. Tariq  memimpin pasukannya menyeberangi Selat sempit yang memisahkan Benua Afrika dan Benua Eropa.

Aku sebenarnya lebih suka mengatakan Selat ini sebagai penghubung antara dua Benua yang sangat berbeda, akan tetapi telah saling mempengaruhi selama berabad-abad, sebelum Tariq dan pasukannya menginjakkan kakinya. Sementara Padang Pasir Sahara yang merupakan Padang Pasir terluas di dunia menjadi pemisah antara kawasan Afrika bagian Utara dengan kawasan Afrika bagian tengah. Hal ini terlihat dari budaya bangsa-bangsa yang hidup di kawasan Afrika Utara yang berada di Laut Mediterania  lebih dekat dengan bangsa-bangsa Eropa yang memiliki laut yang sama, dibanding bangsa-bangsa yang hidup di kawasan Afrika Tengah.

Setelah berhasil menyebrang,  sang Komandan kemudian mengumpulkan pasukannya di tepi pantai di bawah bukit batu yang menjulang, ia ke kemudian berpidato untuk mengobarkan semangat jihad pasukannya. Ia menutup pidatonya dengan perintah membakar seluruh perahu yang baru saja digunakan. Diantara kalimat heroik  yang diabadikan oleh banyak buku Sejarah Islam: “ Kini tidak ada lagi jalan untuk kembali, di depan kita adalah musuh yang sudah menanti dan di belakang kita adalah lautan. Karena itu, hanya ada satu pilihan bagi kita, menang atau syahid!”.

Sejarah kemudian mencatat, petualangan Tariq beserta pasukannya mengalahkan orang-orang Visigoth dalam pertempuran Guadalate, telah membuka jalan bagi ummat Islam untuk membangun peradaban di benua Eropa selama  lebih dari 7 abad (711 M-1492M), di saat bangsa Eropa mengalami masa kegelapan. Saat itu bangsa Eropa belajar sains dan teknologi termasuk kedokteran, ilmu hukum dan filsafat, serta musik dari Ummat Islam.

Karena semua ilmu-ilmu ini ditulis dan diajarkan dengan menggunakan Bahasa Arab, maka mereka tidak punya pilihan kecuali mempelajari Bahasa Arab. Mereka juga mengenakan pakaian yang digunakan ummat Islam, mengikuti selera makannya,  mempelajari seni dan musiknya, supaya naik status sosialnya. Hasil dari menimba ilmu di Andalusia inilah, beberapa ratus tahun kemudian melahirkan generasi bangsa Eropa yang tercerahkan yang kemudian mendorong gerakan Renaisans. Dalam bidang sains dan teknologi di mulai di Inggris yang kemudian dikenal dengan “Revolusi Industri”, sedangkan dalam bidang hukum dan politik dimulai di Perancis.

Baca juga
Erupsi Semeru, 2.004 Warga Mengungsi di 19 Titik

Nama Tariq kemudian diabadikan menjadi nama bukit batu tempat Tariq berpidato: Jabal Tariq yang dalam Bahasa Arab berarti : Gunung atau Bukit Tariq, akan tetapi lidah bangsa Eropa menyebutnya “Gibraltar”, begitu juga nama selat yang diseberanginya.  Wilayah ini, kini masih menjadi bagian dari protektorat Inggris. Sementara kawasan Andalusia yang dikuasai ummat Islam selama berabad-abad, bangsa Eropa menyebutnya kawasan Iberia yang terletak di bagian Barat Daya benua Eropa dimana saat ini berdiri negara Spanyol dan Portugal.

Berita gembira disetujuinya proposalku berjudul: “Upaya Menemukan kunci keberhasilan Ummat Islam membangun peradaban di Andalusia, dan penyebab keruntuhannya”, aku terima dari Wakil Rektor bidang kerjasama, melalui pesan WA. Saat itu Malam Senin, bulan menggantung di langit menampakkan dirinya bulat sempurna dengan cahaya yang kuning keemasan terang kemilau. Tidak tampak sedikitpun noda yang mengganggu di wajahnya, awan tipis hanya lewat sekali- sekali membuatnya tampak hidup dan membedakannya dengan lukisan.  Aku  berusaha untuk menatap sepuasnya fenomena alam langka ini.

Sudah menjadi kebiasaanku untuk duduk berlama-lama di ruang terbuka di beranda belakang seusai menunaikan shalat Isya, di rumah kecil yang ku sewa. Rumah ini aku pilih karena berada tidak jauh dari kampus tempatku mengajar yang berada di Kabupaten Bantul, di pinggiran Yogyakarta, yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Di bagian belakang istana kecilku masih membentang sawah dan kebun, sehingga udaranya terasa segar dan lingkungan nampak hijau di siang hari. Dibantu lampu kecil di tempat duduk yang bisa diatur posisi sandarannya, aku suka membaca buku atau jurnal atau perkembangan berita mutakhir dari Ipad hadiah seorang sahabat.

Baca juga
Lantunan Kalimat Tauhid Iringi Kedatangan Jenazah Eril di Area Pemakaman

Aku suka mengikuti berita politik dari Radio BBC berbahasa Inggris dan Arab, TV berita Aljazeera berbahasa Inggris dan Arab, Al Arabia, sekali-sekali CNN atau Fox News yang disiarkan dari Amerika. Menurutku Aljazeera jauh lebih objektif dan lebih cepat dalam menyiarkan berbagai peristiwa penting yang terjadi di berbagai pojok dunia, dibanding banyak media berita dunia lainnya.  Aljazeera baik yang berbahasa Inggris maupun bahasa Arab menjadi langgananku. Dengan Wifi semua terasa murah dan mudah. Aku biasanya ditemani wedang jahe panas, kopi susu, atau atau teh poci, tergantung suasana hati.

Sekali-sekali aku membuka HP untuk memeriksa barangkali ada pesan penting dari kolega dosen atau dari mahasiswaku. Sebagai dosen muda yang memegang mata kuliah Politik Islam kontemporer, aku berharap bisa melanjutkan studi ke Amerika, Eropa, atau Australia. Aku tidak tertarik kuliah di Timur Tengah. Pertimbanganku sederhana, di tempat-tempat ini berada berbagai universitas berkualitas dengan tradisi riset yang kuat, dan ditopang oleh berbagai perpustakaan dan lingkungan belajar yang damai, jauh dari hiruk-pikuk ketegangan politik atau perang. Keinginanku untuk kuliah lanjut juga tidak bisa dilepaskan dari kewajiban seorang dosen bila kariernya di perguruan tinggal ingin maksimal.

Malam semakin sepi saat aku mulai merasa lelah dan mengantuk. Aku berdiri sambil berusaha mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk melakukan gerakkan peragangan. Sambil bergerak ke arah kamar tidur, aku buka Hpku sekali lagi. “Alhamdulillah!”, bibirku bergerak spontan dengan suara pelan tapi dalam. Aku tidak ingin mengganggu istri dan anak kecilku yang tampak lelap dalam tidurnya. Aku letakkan HP di meja dekat tempat tidur, tubuhku lalu ku arahkan ke Kiblat. Aku bersujud sebagai bagian dari bentuk syukur atas doa dan usahaku yang tidak pernah kendur, akhirnya didengar Allah. Air mata bahagia menetes satu-satu di lantai semen kamar tidur. Setelah puas, aku lalu ke kamar mandi, mengambil wudhu. Kubentangkan sajadah untuk Shalat  Syukur, untuk menyempurnakan terimakasihku padaMu Tuhan.

Baca juga
Final Kejuaraan Dunia BWF: 'Unstoppable' Loh Kean Yew

Aku tidur lelap sekali malam itu, dan mimpi indah sekali walau tidak ingat lagi mimpi apa sebetulnya. Pukul 3 dini hari, tanpa alarm aku terbangun. Sudah menjadi kebiasaanku untuk Shalat Tahajjud sejak beberapa tahun terakhir. Malam itu adalah Malam Senin, jadwal untuk aku  makan Sahur  untuk memenuhi sunah puasa keesokan harinya. Aku menepuk pelan kaki istriku agar si kecil tidak terganggu tidurnya. Ia lalu bangun mencuci wajahnya kemudian bergerak ke dapur. Sarapan atau makan sahurku selalu berupa roti panggang, ditambah susu dan madu.

Saat Ipah menyajikannya, aku bilang:

“Bi siap-siap untuk pindah” kataku memulai.

Aku memanggilnya; “Habibati”, yang dalam Bahasa Arab berarti kekasihku atau yang aku kasihi.

“Maksudnya ?”, Responnya.

“Proposalku untuk melanjutkan studi ke Andalusia diterima”. Jawabku datar.

Ia tersenyum, wajahnya cerah, tanda gembira.

Ipah istriku pandai menyembunyikan suasana hatinya baik saat bahagia maupun bersedih, khas karakter orang Jawa.  Aku menyukai sikapnya ini sehingga tidak mengganggu bathinku, khususnya saat ia bersedih. Aku pertama kali melihatnya di kampus. Ia kuliah di fakultas agama, dan beberapa angkatan di bawahku. Walaupun ia bukan asli orang Yogya, tetapi keluarganya sudah lama tinggal di kota Gudeg ini.

“Aku harus ziarah ke makam keluarga sebelum berangkat!”, gumamku pelan.

Ipah hanya tersenyum tanda tidak keberatan.

(Bersambung)

***

Sebuah novel oleh Muhammad Najib, Duta Besar Kerajaan Spanyol

Tinggalkan Komentar