Senin, 23 Mei 2022
22 Syawal 1443

Di Beranda Istana Alhambra (21 – Jejak Ilmuwan Muslim di Andalusia)

Ilmuwan - inilah.com
Ibnu Sina (Foto: Dok Islamic Center Jakarta)

Sejumlah ilmuwan Barat baik yang kini mengajar di berbagai kampus di Eropa maupun di Amerika telah mengakui bahwa Barat berhutang besar pada Dunia Islam. Meskipun kalau ditarik garis ke atas, maka kita akan menemukan ujungnya berada pada sejumlah ilmuwan Yunani kuno seperti Aristoteles, Socrates, dan Plato.

Akan tetapi sejak runtuhnya Romawi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan di Barat, sehingga disebut sebagai “Masa Kegelapan” (the era of darkness), terjada kevakuman. Akibatnya, terjadi keterputusan rantai estafeta pewarisan ilmu, sain, dan teknologi diantara bangsa-bangsa di Eropa.

Pada saat bersamaan Dunia Islam justru berada dalam puncak kejayaannya. Umat Islam bukan saja mewarisi berbagai penemuan Bangsa Yunani kuno dan Romawi, akan tetapi juga mengintegrasikannya dengan warisan China, India, dan Persia yang membuat peradaban Islam maju luar biasa.

Kemajuan Dunia Islam dapat dilihat dari peradaban yang tumbuh di kota-kota utamanya. Dari sepuluh kota termodern pada tahun 1.000 M, tujuh kota berada di dunia Islam, diantaranya: Cordoba, Bagdad, Cairo, Damaskus, Isfahan, Bukhara, dan Nishapur. Sementara yang di luar kekuasaan Islam, hanya Kota Song di China, Kota Kyoto di Jepang, dan hanya satu di Eropa, yakni: Konstantinopel, dengan peringkat nomor satu diduduki oleh Cordoba yang berada dibawah Dinasti Bani Umayyah.

Dengan demikian Dunia Islam menjadi penyambung diskontinuitas, atau menjadi perantara Barat menemukan kembali warisan Yunani kuno dan Romawi yang telah dilupakannya. Dari tangan Dunia Islam, bahkan Barat menerima kembali warisan leluhurnya dalam bentuk yang lebih bagus dan lebih kaya, berkat sentuhan kreatifitas dan pengembangan yang dilakukan Dunia Islam dengan cara mengawinkannya dengan kemajuan yang dicapai bangsa lain.

A: “Bagaimana ceritanya peradaban Islam bisa sangat maju saat itu?”

I: “Sebenarnya ajaran Islam kalau kita merujuk pada Al Qur’an dan Hadist , maka kita akan menemukan berbagai perintah agar kita terus-menerus menggunakan akal dan fikiran untuk memahami berbagai ciptaanNya. Lebih dari itu, Islam mewajibkan Umatnya untuk menuntut ilmu, mengajarkan, dan mengembangkannya.

Karena pentingnya ilmu dalam Islam, sampai-sampai keterlibatan kita di dunia ilmu dinilai sebagai bagian dari ibadah. Sejak zaman Rasulullah, kemudian diteruskan oleh Khalifahurrasyidin, tradisi menggunakan fikiran dan menuntut ilmu sudah terbentuk. Akan tetapi baru menemukan momentumnya, ketika Khalifah Harun Al Rasyid membuat Baitul Hikmah di Bagdad yang menterjemahkan berbagai buku yang berasal dari China, India, Persia, dan Yunani, kedalam Bahasa Arab untuk dipelajari.

Al Makmun yang menjadi Khalifah berikutnya melanjutkan program ayahnya dengan lebih agresif. Menurut Dr. Amira Bennison dari University of Cambridge, paling tidak ada tujuh puluh penerjemah  terpilih yang memiliki kemampuan Bahasa berbeda yang dipekerjakan oleh Al Makmun dengan gaji sangat besar”.

Baca juga
Pemerintah Akan Taati Putusan MK Soal UU Cipta Kerja

A: “Apakah dengan menterjemahkan saja kemudian membuat Dunia Islam maju?”.

I: “Perbedaan Bahasa menjadi hambatan serius tersebarnya ilmu pada saat itu. Menurut Prof. Peter Scott Adamson yang mengajar di Ludwig Maximilian University of Munich dan King’s College London, perbedaan bahasa membuat penemuan Bangsa India hanya tersebar di wilayah India, begitu juga penemuan China, Persia, dan bangsa-bangsa lain, hanya berputar di wilayahnya masing-masing.

Dunia Islam mengintegrasikannya, mengkajinya, lalu melahirkan berbagai gagasan baru sebagai bentuk pengembangan. Metodologi riset yang rasional dan sistematis juga muncul pada periode ini, begitu juga eksperimen di labolatorium, planetarium untuk mengamati bintang, sehingga ilmu Fisika, ilmu Kimia, Biologi, Astronomi, Optik, Pertanian, Matematika,Kedokteran dan banyak lagi cabang ilmu baru yang sebelumnya tidak dikenal tumbuh dan berkembang luar biasa.”

A: “Siapa saja ilmuwan Islam yang dianggap berjasa?”.

I: “Banyak sekali jika mau disebutkan semuanya, jika mau disebutkan sebagian dan paling banyak dibicarakan sampai sekarang diantaranya: Ibnu Sina (Avecina) yang selama beratus tahun, bukunya dalam bidang kedokteran masih dijadikan rujukan di sejumlah universitas di Eropa. Ibnu Sina adalah orang yang mengenalkan ilmu kedokteran modern, karena sebelumnya orang yang sakit berobatnya kedukun, yang mengandalkan mantra dan doa untuk penyembuhan. Pendekatan perdukunan sering menyimpulkan setan, makhluk halus, atau santet yang dibuat orang sebagai penyebab penyakit pasien.

Metodologi pengobatan yang dikembangkan Ibnu Sina disebut modern, karena ilmu kedkteran tidak lagi bersifat subjektif pada dokter atau tabib, akan tetapi menjadi objektif, karena siapa saja yang mengikuti prosedur yang sudah dibuat, maka ia akan memiliki kemampuan yang sama dalam menyembuhkan orang sakit.

Tidak ada penyakit yang disebabkan oleh makhluk halus. Ibnu Sina juga yang memulai gagasan mengumpulkan orang sakit di satu tempat, merawat dan memantaunya secara intensif yang kemudian dikenal dengan Rumah Sakit (hospital). Sebelumnya dukun dan tabib mendatangi pasien dari rumah ke rumah.

Ilmuwan Muslim lainnya adalah Ibnu Rusyd (Averroes) mengenalkan filsafat rasionalitas yang mendorong kebebasan berfikir dalam melihat dunia. Karena itu, Dunia Islam saat itu terbebas dari berbagai Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat. Di Barat pemikirannya mendorong lahirnya Protestan dalam komunitas penganut Nasrani dan liberalisme dalam dunia politik, ekonomi, dan kehidupan sosial secara umum.”

A: “Apakah Ibnu Sina mengembangkan sendiri ilmu kedokterannya?”.

I: “Maksudnya ?”.

A: “Apakah ilmu kedokterannya didapat dari kajiannya terhadap Al Qur’an dan Sunnah?”.

I: “Tentu tidak, ia mempelajari ilmu kedokteran yang ada pada waktu itu, baik yang berasal dari Yunani, Romawi, China, Persia, maupun India. Kehebatannya terletak pada pengembangannya, sehingga melahirkan obat-obat dan metode penyembuhan baru, yang membuat banyak penyakit yang sebelumnya tak tersembuhkan bisa diobati”.

Baca juga
Sempat Buron, Briptu Christy Ditangkap di Hotel Kemang

A:”Kalau dalam bidang sains, teknologi, kedokteran, dan bidang heksak lainnya Aku telah banyak membaca dan mendengarnya, bagaimana dalam bidang sosial atau non fisik ?”.

I: “Di Barat Ilbnu Khaldun dikenal sebagai Bapak Ilmu-ilmu Sosial (Social Sciences). Ia mengenalkan metodologi riset modern dalam kehidupan sosial, termasuk di dalamnya ilmu sejarah yang paradigmanya terus digunakan Barat sampai sekarang. Kalau kita harus meminjam istilah yang digunakan Barat, maka Ibnu Khaldun merupakan ilmuwan yang  pertama kali memisahkan ilmu non-agama dari ilmu agama, yang waktu itu telah menimbulkan perdebatan yang luar biasa. Ia kemudian berkonsentrasi pada ilmu sosial non-agama.

Dengan kata lain, Ibnu Khaldunlah orang yang pertama kali melakukan sekularisasi dalam ilmu pengetahuan. Belakanga muncul ilmuwan Barat asal Perancis bernama Emile Durkheim yang mengenalkan dikotomi istilah “sakral” dan “profan”, yang substansinya sama.

A: “Sebagai Umat Islam, bagaimana kita harus mendudukan persoalan ini yang telah menyita perdebatan selama puluhan tahun”.

I:”Di Indonesia perdebatan masalah sekularisasi baru terjadi beberapa puluh tahun terakhir, padahal di dunia Islam sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Kalau kita memaknai sekularisasi berdasarkan interpretasi dan pengalaman Barat yang memisahkan masalah agama dan non-agama memang jadi persoalan. Akan tetapi, kalau kita menggunakan pengalaman dunia Islam, khususnya cara pandang yang dikenalkan oleh Ibnu Khaldun, tentu tidak ada masalah”.

A: “Maksudnya tidak ada masalah ?”.

I: “ Ibnu Khaldun meyakini bahwa semua ilmu bersumber dari Allah, hanya saja ada yang sifatnya Qauliyah, yakni tertulis eksplisit di dalam kitab suci Al Qur’an, dan ada yang bersifat Qauniah, yakni berbentuk hukum-hukum alam yang tersebar di darat, laut, udara, antariksa, dan alam semesta secara keseluruhan yang harus digali.

Hukum-hukum alam juga dapat dipilah menjadi dua lagi, yakni yang bersifat fisik dan non fisik. Yang bersifat fisik, kini kita kenal sebagai ilmu fisika, ilmu kimia, astronomi, kedokteran, biologi, dan seterusnya.

Sementara yang bersifat non fisik kini dikenal dengan istilah ilmu-ilmu sosial (social sciences), termasuk ilmu politik, ilmu sejarah, ilmu hukum, ilmu filsafat, dan sebagainya. Hukum-hukum alam ini lazim disebut Sunnatullah

A: “Jadi istilah yang sama tetapi memiliki pengertian yang berbeda”, Aku menyimpulkan.

I: “Pada saat ilmu-ilmu yang masuk kategori Qauniah ini sampai ke Barat, banyak yang dipandang tidak sejalan dengan keyakinan keagamaan mereka, setidaknya berlawanan doktrin yang dikembangkan oleh para pemuka agamanya pada waktu itu. Karena itu, muncul gerakan yang dimotori oleh para cendekiawannya untuk menempuh jalan sendiri, yang berbeda dengan jalan yang dipandu para pemuka agamanya. Jalan yang dipilih oleh para cendekiawan ini kemudian dikenal dengan sekular.

A: “Bagaimana dengan kekhawatiran dari sejumlah tokoh akan kemungkinan kita terperangkap dalam bid’ah ? Karena bid’ah dapat menyeret kita ke Neraka”.

Baca juga
Ketua MUI Minta Umat Islam Hati-hati Terkait Nikah Beda Agama

I: “Kalau di wilayah Qauliah maka kita harus hati-hati karena potensi bid’ah nya sangat besar, apalagi terkait ritual baku yang sudah disepakati para ulama. Tetapi di wilayah Qauniah, justru dituntut kreatifitas dan kreasi yang namanya ijtihad, yang justru didorong dan mendapatkan pahala.  Kalau orang NU menyebut wilayah ini sebagai bid’ah khasanah.”

A: “Sekarang Aku baru tahu tidak semua bid’ah dihukumi dalalah, tetapi ada juga bid’ah yang hasanah”, Aku coba untuk menegaskan.

A: “OK ! Semua inikan cerita di Bagdad, lalu bagaimana ceritanya sampai mempengaruhi Eropa?”.

I: “Saat itu kekuasaan Islam membentang dari India sampai Andalusia, mereka menggunakan bahasa yang sama, yakni Bahasa Arab, baik sebagai bahasa komunikasi, bahasa Pemerintahan, bahasa Bisnis, bahasa ilmu, maupun bahasa agama yang digunakan dalam berbagai ritual atau ibadah. Buku-buku yang diproduksi di Bagdad disalin atau diperbanyak, lalu disebarkan ke seluruh dunia Islam, hingga sampai ke Andalusia. Begitu juga para ilmuwannya bergerak dari satu wilayah Islam ke wilayah Islam lainnya.”

A: “Siapa saja diantara mereka yang sempat hidup dan mengajar di wilayah Andalusia?”

I: “Ibnu Rusyd yang hidup pada (1126 M-1198 M), lahir di Cordoba dan sebagian besar hidupnya di wilayah Andalusia. Kemudian Abu Ishaq Al Zarqawi yang hidup pada (1029 M-1087 M), merupakan  ahli matematika dan Astronomi yang sebagian besar waktunya dihabiskan di Kota Toledo.  Kemudian Al Zahrawi yang hidup pada (936 M-1013 M), seorang ahli kedokteran yang menciptakan sejumlah peralatan operasi atau bedah.

Dan yang sangat spektakular Abbas Ibnu Firnas yang menguasai ilmu matematika, fisika, astronomi, dan aerodinamika, yang memiliki ide bagaimana manusia bisa terbang. Pada tahun 875 M, ia berhasil membuat peralatan dari kayu yang dikombinasikan dengan kulit, kemudian ditempelkan di badannya.

Dirinya kemudian melompat dari ketinggian dan berhasil mendarat dengan selamat. Jadi jauh lebih awal dan lebih maju dibanding Leonardo da Vinci yang hanya membuat lukisan manusia terbang enam abad sesudahnya.”

A: “Selain melalui buku, apakah ada interaksi langsung antar ilmuwan diantara pusat-pusat ilmu pada waktu itu?”.

I: “Menurut Profesor Simon Schaffer dari University of Cambrige, perdebatan diantara para ilmuwan di Cordoba seringkali dilakukan dengan cara mengundang para ilmuwan dari Bagdad dan Samarkhan, atau kota-kota lain sesuai dengan kompetensinya. Kira-kira seperti seminar internasional saat ini”.

A: “Sekarang Aku baru faham benang merahnya, atau rantainya bagaimana ilmu pengetahuan yang dikembang dunia Islam dimulai dari Bagdad, sampai ke Andalusia, kemudian dipelajari Barat dan terus dikembangkan sampai sekarang”

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar