Senin, 16 Mei 2022
15 Syawal 1443

Di Beranda Istana Alhambra (22 – Undangan Ceramah dari Jerman)

Ceramah - inilah.com
Ibnu Rush Foto: Santri Cendikia

Teman-teman PCIM Jerman Raya mengadakan kajian Kitab Kuning karya Ibnu Rush yang berjudul: Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasyid. Buku ini membahas perbandingan fiqih dari berbagai mazhab yang diakui untuk menetapkan hukum dari berbagai persoalan yang dihadapi Umat Islam saat itu.

Ibnu Rush yang lahir dan menghabiskan sebagian hidupnya (1126 M – 1198 M) di kota Cordoba, dalam Kitab ini menguraikan sekitar 3.400 persoalan, 1.034 disepakati atau sama pendapatnya dari mazhab-mazhab yang ada, dan 2.366 tidak disepakati. Sebagian masalah-masalah yang belum disepakati tersebut kemudian disepakati oleh para ulama yang lahir kemudian, sedangkan sebagian lagi masih menjadi perdebatan sampai sekarang.

Aku diminta untuk memberikan pengantar dalam pengajian ini.  Agar sesuai dengan harapan, Aku bertanya kepada Mas Rokib yang akan mengisi pengajian Kitab Kuning ini.

A: “Apa yang harus saya sampaikan dalam pengantar pengajian nanti ?”.

R: “Masalah-masalah aktual yang relefan dengan kajian ini”, katanya.

A: “Bagaimana Anda sampai punya ide bikin kajian terhadap buku yang diterbitkan pada Abad ke-12 ini ?”.

R: “Di Jerman, Ummat Islamnya sangat beragam. Mereka umumnya imigran yang berasal dari negara-negara Muslim yang berbeda, diantaranya dari: Turki, Arab, Persia, India atau Pakistan, dan dari Asia Tenggara termasuk Indonesia. Cara ibadahnya berbeda-beda, disamping mazhabnya berbeda, budaya dan alamnya juga berbeda. Karena itu Kitab yang dibuat oleh Ibnu Rush yang isinya membahas tentang perbandingan Mazhab dalam ilmu fiqih ini, walaupun sudah ditulis sembilan abad yang lalu, dirasa masih relefan”.

A: “Selain masalah substansi, adakah hal lain yang menarik ?”.

R: “Sebagai santri yang berasal dar pesantren yang belajar Kitab Kuning, saya melihat dengan perkembangan teknologi digital kita bisa membaca Kitab Kuning dengan cara baru”.

A: “Maksudnya ?”.

R: “Kini kita bisa mengadopsi metodologi yang lazim digunakan pada dunia sain dan teknologi untuk memahami Kitab Kuning yang tidak bisa dilakukan dengan cara konvensional di pesantren, seperti pendekatan algoritma, statistik, dan modeling”.

Baca juga
Interfaith and Islamophobia-04

A: “Kelebihan dari metode baru ini ?”.

R: “Sebenarnya tidak bisa dianggap kelebihan, akan tetapi pendekatan baru ini melengkapi pendekatan tradisional, sehingga kajiannya lebih kaya”.

A: Apa yang dimaksud ‘melengkapi’ dan ‘lebih kaya’ ?”.

R: “Kita bisa memahami isinya dengan lebih cepat, Kita bisa membedakan gaya tulisan seorang penulis dengan penulis lain, Kita bisa mengetahui berapa banyak kata tertentu atau huruf tertentu digunakan. Lebih dari itu metode comperatif study sebagai salah satu pendekatan dalam riset modern akan lebih berkembang, sehingga hal-hal menarik dari banyak karya klasik bisa ditemukan”.

A: “Selama ini apa yang menarik dari mengkaji kitab tersebut ?”

R: “Kalau bicara perbedaan pendapat, maka tidak perlu dipertentangkan, karena disamping semua memiliki dalil yang kuat, juga perbedaan alam, budaya, juga ikut mempengaruhi. Selain itu, kalau diukur dalam rentang waktu yang panjang, maka akan terlihat pendapat yang satu cocok untuk periode tertentu, sedangkan pendapat yang lain cocok untuk waktu yang berbeda, sejalan dengan penemuan manusia di berbagai bidang”.

A: “Bidang studi anda apa ?”.

R: “Sastra!”.

A: “Kalau sebelumnya orang sain belajar ilmu sosial, kini orang sosial belajar sain. Keberanian dan kemampuan Anda layak diapresiasi. Apa yang kini Anda lakukan bagai menggali harta karun. Semoga rintisan ini diikuti oleh santri-santri lain”, komentarku.

Dalam pengantar pengajian yang dilakukan Ahad pagi waktu setempat, Aku menyampaikan bahwa Ibnu Rush yang di Barat dikenal sebagai Averros adalah seorang ilmuwan Islam, disamping menguasai khasanah Islam juga mengerti sain dan teknologi. Di Dunia Barat ia dikenal sebagai seorang filosof dengan semangat ‘pembebasan’ atau liberalisme dalam berfikir.

Sebenarnya gagasan pembebasannya bersumber dari semangat Al Qur’an yang mendorong pada kebebasan berfikir dan berijtihad. Hanya saja, ketika sampai ke Barat yang pada waktu itu masyarakatnya masih jumud, mengakibatkan liberalisme yang berkembang di Barat lepas dari agama.

Baca juga
Awali Tahun Baru 2022, Gubernur Anies Sampaikan Semangat Optimisme

Hal yang serupa sebenarnya juga dialami oleh Ibnu Khaldun yang di Barat dijuluki sebagai Bapak Ilmu Sosial. Bagi Ibnu Khaldun, semua ilmu berasal dari Allah. Jika merujuk pada Al Qur’an, ada ayat-ayat yang masuk kategori Qauliah dan ada yang Qauniah. Ibnu Khaldun kemudian menekuni Ilmu Qauniah yang bersifat non-fisik, seperti ilmu sosial, sejarah, termasuk ekonomi.

Kalau kita menggunakan istilah yang muncul di Barat, maka Ibnu Khaldun disebut telah mengajarkan sekularisasi. Sekularisasi yang berkembang di Barat lepas dari Agama, mirip dengan yang dialami Ibnu Rush.

Iqbal yang berada disampingku mengingatkan, apa yang Aku sampaikan seperti melompat, yang bisa menimbulkan kesalahfahaman. Aku lalu bertanya kepadanya: “Maksudnya ?”.

I: “Seharusnya dijelaskan dulu bagaimana proses ilmu-ilmu modern lahir, termasuk sain dan teknologi yang berkembang pesat dimulai dari Bagdad.  Menurut Jim Al-Khalili dari University of Surrey, Inggris, dalam ceramahnya saat mendapat kehormatan dan penghargaan dari The Royal Society, bahwa tidak ada sain Kristen, sain Yahudi, maupun sain Islam. Baitul Hikmah yang oleh banyak ulama disebutkan telah berjasa karena menjadi tempat menterjemahkan banyak buku berbahasa asing ke dalam Bahasa Arab, sejatinya bukan sekedar Lembaga penerjemah buku saja, karena aktifitas penterjemahan buku hanyalah salah satu aktifitas saja. Karena itu, Baitul Hikmah lebih cocok disebut sebagai sebuah akademi yang dikembangkan oleh Khalifah Al Makmun, karena di dalamnya melakukan berbagai aktifitas ilmiah, seperti proses belajar-mengajar, diskusi, penelitian, dan eksperimen.

Yang menarik, Baitul Hikmah tidak hanya mempekerjakan orang Islam tetapi juga Nasranai dan Yahudi, bahkan jika dilihat dari etnisnya lebih luas lagi seperti ilmuwan Bizantium, China, India, dan Persia. Kalau dilihat dari sejumlah buku yang ditulis, penemuan yang mempengaruhi kehidupan, dan luasnya pengaruh dari berbagai sumbangan dari sejumlah ilmuwan yang dilahirkan pada era ini, maka tidak berlebihan jika Profesor A Khalili menempatkan ilmuwan-ilmuwan yang dilahirkan pada era ini sejajar dengan Newton, Einstein, dan ilmuwan-ilmuwan Barat yang sering dirujuk sampai saat ini, karena sumbangannya dalam sain dan teknolagi. Singkatnya, dalam membuat pernyataan harus terukur, runtut, dan hati-hati, jika tidak maka cara penjelasan seperti ini bisa menyesatkan”.

Baca juga
iPhone SE Terbaru Akan Dijual Mulai Rp4,3 Juta

A: “Maksudnya menyesatkan ?”.

I:”Menyederhanakan penjelasan untuk masalah yang rumit atau kompleks selalu diperlukan, agar masyarakat umum atau masyarakat awam dapat mengerti berbagai fenomena sosial yang seringkali sangat rumit dan kompleks, karena banyaknya variabel yang ikut mempengaruhi sebuah peristiwa. Begitu juga hubungan antara variabel yang satu dengan yang lainnya sangat kompleks, dan dalam banyak kasus juga sangat dinamis. Dalam banyak riset sosial, sebenarnya dilakukan penyederhanaan, seperti untuk melihat hubungan satu variabel dengan variabel lain, atau satu tokoh dengan tokoh lain, atau peran seorang tokoh pada periode tertentu”.

A: “Penelitian seperti ini termasuk untuk tingkat master atau doktor ?”.

I: “Ya itulah sebabnya, jika kita melakukan oversimplifikasi, cendrung akan menyesatkan, dengan kata lain mendapatkan kesimpulan yang salah. Kalau kesimpulan salah, maka respon terhadap sebuah situasi atau peristiwa kemudian menjadi salah”.

A: “Aku kan hanya diberikan waktu setengah jam, bagaimana mungkin menjelaskan secara rinci sesuatu yang memerlukan waktu berjam-jam”.

Setelah proses tanya-jawab yang dilakukan secara virtual, Aku mengingatkan bahwa di era Bagdad dan Cordoba, atau dibawah Dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah, Ummat Islam maju karena Islam dijadikan “Gerakkan Ilmu”, sedangkan sesudahnya Islam dijadikan “Gerakkan Politik”, yang mengakibatkan Ummat Islam terus-menerus bertikai memperebutkan kekuasaan.

Bisa dibayangkan, saat Islam menjadi gerakkan ilmu, ia berhasil menyatukan Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Umayyah yang bermusuhan. Sementara, Islam sebagai gerakkan politik, ia mencerai-beraikan Dinasti Umayyah yang dibangunnya di Andalusia, hingga hilang tak berbekas. Disinilah relevansi Diaspora Muslim Indonesia (DMI) yang diharapkan menjadi gerakkan ilmu, dimulai dari Spanyol, kemudian di Kawasan Eropa, semoga kemudian berkembang ke seluruh dunia, tentu dengan harapan mempersatukan Dunia Islam yang kini cerai-berai karena politik.

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar