Jumat, 27 Mei 2022
26 Syawal 1443

Di Beranda Istana Alhambra (29 – Berkunjung ke Museum Royal Palace of Madrid)

Royal Palace Madrid - inilah.com
Museum Royal Palace of Madrid (Foto Gettyimages )

Pesan melalui WA kembali muncul di HPku dari Sekretaris Dubes berbunyi: “Anda ditunggu di Lantai 6, besok pagi”. Lantai 6 merupakan ruang kerja Dubes di KBRI, Madrid.

“Siaaappppp….!”, demikian jawabanku.

Keesokan harinya sesuai waktu yang sudah ditentukan, Aku menemui Ibu Nany di Lantai 6. “Langsung aja, sudah ditanya dari tadi !”, katanya.

Aku mengetuk pintu di ruangan kerja Dubes, setelah itu Aku membukanya secara perlahan. Begitu melihat wajahku, langsung beliau berdiri dan mempersilahkanku duduk di sofa, tidak seperti biasanya jika Aku menghadap selama ini, selalu dipersilahkan duduk di kursi di depan meja kerjanya. Ada apa ?, kataku dalam hati. Mudah-mudahan berita gembira, pikiranku bergerak cepat penuh harap.

Setelah Aku duduk, beliau duduk di sofa di depanku yang dibatasi oleh meja pendek.

D: “Begini !”, katanya memulai.

D: “Kau sudah dengar bahwa saat ini Ketua DPR RI berada di Kota Madrid, dalam rangka mengikuti sidang Inter Parliamientary Union (IPU) bersama para petinggi DPR”.

A: “Oh rombongan besar !”, kataku mengomentari.

D: “Ya !, tapi bukan itu yang penting. Beliau sedang menerima tongkat estafeta sebagai Ketua Parlemen Dunia. Sehingga, untuk satu tahun kedepan kita yang menjadi pemimpinnya”, kata Pak Dubes. Pikiranku bergerak cepat, mencoba menduga-duga dengan penuh penasaran, sembari terus bertanya dalam hati; “Apa hubungannya denganku”.

Tampaknya Pak Dubes bisa membaca wajahku yang mungkin nampak bingung.

D: “Langsung to the point”, katanya.

D: “Di sela-sela sidang yang menguras energi, besok Ibu Ketua akan mengunjungi Museum Royal Palace de Madrid. Saya memintamu untuk menjadi guidenya. Sekedar mengingatkan, Ia cucu Proklamator dan Presiden RI Pertama, Ibunya pernah menjadi Presiden, dan kedepan Ia punya peluang untuk menjadi Presiden”.

A: “Kenapa saya Pak, bukankah banyak diplomat senior yang lebih layak ?”, komentarku dengan suara serak tanda grogi yang tidak bisa Aku tutupi.

D: “Saya sudah mempertimbangkannya secara matang, dan pilihannya jatuh padamu”.

A: “Lalu apa yang harus saya persiapkan Pak ?”.

D: “Besok pagi, Kau datang ke sini pakai jas dan jangan pakai dasi, sarapan dengan Saya, setelah itu akan ada yang mengantar dengan mobil Kedutaan”.

Aku pulang dengan perasaan risau, satu sisi muncul perasaan senang dan bangga mendapat kepercayaan dari Dubes, tetapi khawatir kalau-kalau tidak sesuai dengan ekspektasi beliau. Persoalannya bertambah mengingat Aku tidak memiliki jas yang layak untuk dikenakan, belum lagi tidak tahu bahan apa yang Aku harus persiapkan mengingat tugas seperti ini baru pertama kalinya Aku terima.

Sesampainya di rumah, langsung Aku lapor ke Iqbal.

I: “Sudahlah, jangan banyak dipikir, jalani saja, nanti semua mengalir seperti air”, katanya mencoba menenangkan.

Baca juga
Pengungsi Erupsi Semeru Mulai Terserang ISPA dan Gatal

A: “Aku tidak punya jas yang layak seperti diminta Pak Dubes”.

I: “Gunakan jas terbaikku, ukuran badan Kita kan beda-beda tipis!”.

A: “Bagaimana kalau muncul pertanyaan yang tidak bisa Aku jawab ?”.

I: ”Bilang saja secara jujur, Aku yakin Ibu Ketua bisa memaklumi, Kita kan masih mahasiswa. Mahasiswa itu kalau belum tahu atau keliru, itu wajar. Nanti kalau sudah jadi pejabat baru tidak boleh salah, karena akibatnya akan diderita oleh banyak orang. Yang Aku fikirkan justru berbeda”.

A: “Apa itu ?”, responku spontan.

I: “Ibu Ketua ternyata punya selera tinggi”.

A: “Maksudnya ?”.

I: “Jarang sekali pejabat baik yang di Eksekutif, Legislatif; maupun Yudikatif yang tertarik berkunjung ke museum atau perpustakaan”.

Pagi itu Aku diantar ke Museum Royal de Madrid yang juga sering digunakan oleh Raja untuk prosesi menerima duta-duta besar negara sahabat yang mengawali tugasnya dengan menyerahkan Surat Kepercayaan (Credencsial).

Pada saat Raja menerima duta-duta besar selalu didahului oleh prosesi yang sangat atraktif, sehingga menarik perhatian para wisatawan baik yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri. Para duta besar akan menaiki kereta kencana yang dikawal oleh pasukan berkuda, mulai dari kantor Kementrian Luar Negeri melewati jalan-jalan sempit kota tua sampai ke Istana.

Pada saat prosesi seperti ini, Museum ditutup sementara untuk umum. Pagi ini Museum ramai sekali oleh pengunjung yang nampak antre di tempat penjualan tiket masuk, sampai mengular panjang meskipun udara masih sangat dingin di musim Winter.

Mobil yang Aku tumpangi langsung bisa masuk ke halaman depannya setelah melewati gerbangnya yang dijaga ketat.

Petugas mencocokkan plat nomor mobil yang kami gunakan dengan daftar mobil yang boleh masuk hari itu yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Tampaknya mobil dengan plat CD yang Aku gunakan sudah didaftarkan bersamaan dengan mobil yang digunakan Ibu Ketua DPR dan rombongannya.

Aku diminta berdiri di dekat pintu masuk Museum, staff KBRI yang menemaniku membisikkan bahwa Ibu Ketua dan rombongan sudah bergerak dari Hotel. Beberapa saat kemudian, Mobil sedan Mercy berwarna hitam dengan plat nomor CD 01, yang dikawal oleh Patwal dengan sirine mengaung memasuki halaman Museum.

Seorang Pengawal Istana membukakan pintu mobil, tampak Ibu Ketua dengan gaun hitam yang anggun turun perlahan.

Setelah turun dari mobil, Aku diperkenalkan sebagai guide dari KBRI yang akan mendampingi beliau, selain guide yang disiapkan oleh pemerintah setempat. Aku perhatikan, Ibu Ketua hanya tersenyum sambil menganggukkan pelan kepalanya setelah menatap wajahku sejenak.

Lalu maju seorang perempuan Spanyol setengah baya mengenalkan diri bernama Amelia, yang akan menjelaskan seluruh koleksi museum dan sejarahnya. Aku perhatikan

Baca juga
Sandiaga Peringatkan Masyarakat Jangan Euforia Saat Wisata

Bahasa Inggrisnya sangat bagus. Kini Aku berspekulasi jangan-jangan Pak Dubes menugaskanku sebagai penerjemah Amelia dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia, sehingga Ibu Ketua bisa memahami semua hal yang akan diceritakannya.

Aku berusaha mendengarkan semua penjelasannya sambil berjalan pelan dari ruangan ke ruangan.

Amelia memulai ceritanya dengan menjelaskan pengorbanan Ratu Isabella setelah berhasil membebaskan Spanyol dari penjajah Bangsa Moors pada tahun 1429 M. Saat itu Isabella menjadi Ratu kerajaan Castile. Perkawinannya dengan Raja Ferdinand II yang berkuasa di wilayah Aragon, menyatukan Bangsa Spanyol sehingga menjadi kuat.

Isabella melepas seluruh perhiasan emas yang dimilikinya untuk membiayai petualangan seorang pelaut asal Genoa, Italia, bernama Christopher Columbus, dalam upayanya menemukan jalan yang lebih singkat ke India, setelah munculnya teori bahwa bumi kita bulat, dari sebelumnya yang menyatakan bahwa bumi kita datar.

Colombus lalu berlayar kearah Barat tidak seperti pelaut lainnya yang bergerak dari Spanyol kearah Timur. Columbus lalu menemukan daratan atau Benua Amerika yang dikiranya India. Dari Amerika inilah Bangsa Spanyol lalui mencapai masa kejayaannya sebagai sebuah bangsa dan mencapai kemakmuran rakyatnya.

Selanjutnya Amelia menjelaskan Royal Palace of Madrid yang dalam Bahasa Spanyol disebut: Palacio Real de Madrid, merupakan salah satu istana terbesar dan termegah di Kawasan Eropa. Istana ini pertama kali dibangun oleh Pasukan Islam antara 850 M sampai dengan 856 M, sebagai benteng yang dikenal dengan nama Alcazar.

Setelah jatuh ke tangan bangsa Spanyol, bangunan ini digunakan untuk Pengadilan oleh Kerajaan Spanyol.

Pada tahun 1700 M, Bourbons memfungsikannya sebagai Istana Kerajaan.  Arisitektur bangunan yang semula didominasi dengan warna Arab atau Islam, diubah dengan memberikan sentuhan Baroque klasik yang dipertahankan sampai sekarang..

Sambil berjalan perlahan, ruangan demi ruangan dilewati, Amelia terus memberikan penjelasan tentang ruangan warna-warni yang sangat megah yang dilaluinya, beserta koleksi benda-benda berharga yang berada di dalamnya, lengkap dengan siapa pembuatnya, dan pada tahun berapa dibuatnya.

Ibu Ketua hanya diam dan sekali-sekali melontarkan pertanyaan dengan menggunakan Bahasa Inggris langsung kepada Amelia.

Kini Aku menyadari ternyata dugaanku salah, Ibu Ketua terbukti pandai berbahasa Inggris. Karena itu, kini Aku berfikir bagaimana mencari cara agar kehadiranku tidak sia-sia.

Setelah seluruh ruangan Museum dilalui, kini Amelia menjelaskan bahwa tiba saatnya rombongan akan memasuki bagian dari Museum yang tertutup untuk umum, karena ruangan-ruangan tersebut masih digunakan oleh Raja Philipe untuk prosesi kredensial atau menerima duta-duta besar negara sahabat untuk menyerahkan surat kepercayaan dari Kepala Negaranya.

Terlihat singgasana Raja dalam ruangan yang cukup megah dan luas, di sebelahnya terdapat ruangan yang lebih kecil yang didominasi warna emas.

Baca juga
Minyak Goreng Rp14 Ribu per Liter Baru di Supermarket, Pasar Tradisional Menyusul

Di bawah lampu kristal yang sangat besar, ditunjukkan oleh Amelia bahwa di tempat inilah Raja berdiri saat menerima surat kepercayaan yang diserahkan oleh para dubes.

Di sebelahnya lagi terdapat ruangan yang tidak boleh dimasuki, termasuk oleh rombongan, karena masih digunakan sebagai ruang kerja Raja.

Di kamar inilah Raja berbincang-bincang dengan Dubes setelah menerima surat kepercayaan. Ibu Ketua lalu diantar menuju pintu keluar untuk kembali ke bagian Museum yang terbuka untuk publik.

Aku berpikir acara kunjungan akan segera berakhir, Aku berusaha untuk maju dan mendekat. Ibu Ketua melihat ke sekelilingnya.

Saat melihatku Ia tersenyum dan Aku manfaatkan untuk membisikinya, bahwa semua yang Ia dengar tadi adalah cerita setelah era keemasan Islam di Spanyol. Sebelumnya Islam berkuasa di sini hampir delapan Abad dengan cerita yang tidak kalah menariknya.

K: “Oh ya ?”, katanya dengan wajah penasaran.

A: “Karena itu Ibu Ketua harus mengunjungi wilayah Selatan seperti Cordoba, Granada, dan Sevilla. Nanti saya guide-nya.”, kataku memancing.

K: “Sayang besok sudah harus meninggalkan Madrid”, katanya dengan wajah muram.

A: “Artinya Ibu Ketua harus ke sini lagi”, responku dengan nada menghibur.

K: “Insyaallah…!”, katanya singkat.

A: “Boleh minta foto dengan Ibu ?”, Aku memohon ijin mumpung ada kesempatan fikirku.

K: “Silahkan…silahkan…silahkan..!”, katanya berulang-ulang dengan dengan wajah cerah dan suara yang sangat ramah.

Setelah foto beberapa kali, kelihatannya beliau mau menanyakan sesuatu. Aku kemudian berusaha mendekat kembali.

K: “Bagaimana ceritanya dengan negara-negara Muslim di Kawasan Afrika Utara, setelah Ummat Islam terusir dari Spanyol ?”.

A: “Sebenarnya Spanyol berusaha untuk menguasai wilayah Islam di Kawasan Afrika Utara, lalu terus bergerak ke Timur, dan Selatan menyusuri Teluk Arab, India, sampai ke Nusantara. Spanyol sempat mengendalikan Maluku Utara dan Malaka, akan tetapi tidak lama. Hanya di Philipina yang cukup lama. Sebelumnya Philipina merupakan Kesultanan Melayu Muslim sebagaimana tetangganya Thailand Selatan, Malaysia, Brunei, dan Indonesia.”

Ibu Ketua tampak sangat antusias mendengar ceritaku, sampai rombongan yang lainnya bengong.

Sebenarnya jam kunjungan sudah selesai, akan tetapi Aku perhatikan para pendampingnya tidak berani menyela pembicaraanku dengan Ibu Ketua, sampai Amelia menyatakan mohon diri dan pamit karena tugasnya sudah selesai.

Aku berusaha menjauh karena harus tahu diri. Akan tetapi Ibu Ketua dengan menggunakan isyarat tangannya memintaku tetap di dekatnya, sambil mengatakan pada anggota rombongannya : “Sekarang acara foto-foto di depan Istana”.

Dalam hati Aku berpikir ternyata Ketua DPR bukan saja menyukai museum tetapi juga mengerti sejarah, dan punya minat yang besar terhadap Islam.

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar