Rabu, 10 Agustus 2022
12 Muharram 1444

Di Beranda Istana Alhambra (3 – Memohon Restu Ibu)

Minggu, 28 Nov 2021 - 09:28 WIB
- inilah.com

Seperti kebiasaanku, seusai Shalat Malam aku menunggu waktu Subuh, dan seusai Shalat Subuh, aku menyandarkan badan di dinding tempat tidur yang aku ganjal dengan bantal. Terdengar perbincangan Kemal dan Hisyam sayup-sayup. Kubuka mataku perlahan, kubuka jendela, langit nampak mulai terang, rupanya aku sempat tertidur.  Aku buka pintu kamar, nampak Kemal dan Hisyam tersenyum ke arah ku. 

“Nasi kuning dan Aron-aron kesukaan kau sudah siap di meja!”, kata Hisyam.

“Kok cuma satu ?”, tanyaku setelah melihat ke arah meja makan.

“Kami sudah sarapan di warung duluan! ”, jawab Hisyam.

Aron-aron adalah istilah lokal untuk menyebut jajan yang terbuat dari ketan yang dikukus, kemudian disiram dengan bubur ketan berwarna coklat. Orang Minang menyebutnya bubur Kampiun. Jajan ini merupakan kesukaanku ketika masih kecil.

Dahulu rumah keluarga kami kecil sekali, hanya memiliki satu kamar tidur. Untuk memberi tempat pada ibu dan adik-adik yang masih kecil di kamar, ayah selalu tidur di ruang tamu dengan menggunakan kasur tipis yang bisa digulung. Karena itu, kakak, aku, dan adik-adik yang sudah sekolah tidur di rumah nenek. Hanya yang belum sekolah tidur bersama Ibu di kamar.  Kakakku Nasir sangat disayang oleh Nenek. Disamping ia anak pertama dari Ibu yang merupakan anak terkecil dan satu-satunya anak perempuan dari Nenek, kakakku waktu kecil sering sakit. Karena itu, ia dipelihara oleh Nenek. Setiap pagi, aku yang bertugas membeli sarapan. Aku dan adik-adik hanya berhak sarapan jajan, hanya Nasir yang berhak sarapan dengan Nasi Kuning.

Di kampungku hanya orang tertentu yang berani makan di warung, karena harganya lebih mahal dibanding jika dibungkus. Tingginya harga diimbangi dengan kualitas makanan yang berbeda, misalnya seperti abon dan serundeng yang menjadi menu tetap Nasi Kuning, volumenya lebih besar. Begitu juga daging empal dipilihkan yang empuk, sisanya baru untuk yang dibungkus. Selain itu, kalau makan di warung tidak perlu antri, sementara kalau dibungkus harus antri panjang. Demikianlah aturan main tidak tertulis yang berlaku, entah sejak kapan. Saat antri orang tua didahulukan, karena itu waktu aku bertugas selalu dilayani paling akhir, disebabkan pembelinya masih kecil, jajannya dibungkus, dan yang dibungkus banyak. Tetapi aku tetap gembira, karena toh aku tetap dapat jatah.

Usai sarapan, kami bertiga berjalan kaki menuju kompleks pemakaman yang jaraknya sekitar 1 Km dari rumah kami. Aku menolak tawaran Hisyam menggunakan mobil dengan alasan jalan kaki sambil olahraga pagi. Mobil kemudian diparkir di jalan raya dekat rumah. Tetapi alasan sebenarnya adalah aku ingin bernostalgia menyusuri jalan yang dilalui jenazah almarhumah Ibu yang dipikul anak-anaknya termasuk aku, dari rumah ke Masjid Jamik untuk disholatkan. Paman meminta ku untuk menjadi Imam Sholat jenazah. Usai Shalat jenazah langsung dipikul ke pemakaman dengan berjalan kaki. Ramai sekali orang yang ikut mengantarnya.

 Saat melalui pasar kecil, aku berhenti untuk membeli beraneka macam bunga yang biasanya dijual untuk pelengkap orang-orang Hindu setempat dalam melakukan ibadah harian di  pura kecil yang biasanya berada di sekitar rumah keluarga yang disebut Sanggah. Kemal mengangkat tinggi-tinggi kelopak matanya, sembari dengan nada heran bertanya: “Untuk apa ?”.

Aku tidak menjawabnya. Bunga kemudian ditempatkan ke dalam dua tas keresek besar. Satu aku pegang sendiri, dan satunya lagi aku sodorkan ke arah Hisyam.

“Akan ku tabur di pusara Ibu!”, komentarku sambil bergerak acuh.

“Bid’ah!”, terdengar suara Kemal meninggi.

Aku sudah memperkirakan reaksinya, karena itu aku sudah mempersiapkan diri untuk tetap bersikap tenang.

“Ini fenomena budaya lokal. Di Arab orang menggunakan minyak wangi atau kayu yang dibakar yang orang Jawa sering sebut dengan istilah menyan atau kemenyan!”, kataku berusaha berargumen.

Saat memasuki gerbang kompleks pemakaman, aku langsung berbelok Kanan menuju makam Ibu. Aku lalu jongkok di dekat nisan yang terbuat dari marmer putih kecil yang diukir sederhana, bertuliskan nama, tanggal kelahiran dan wafatnya. Hisyam ikut jongkok di sampingku, sementara Kemal tetap berdiri dengan sikap mengawasi. Aku taburkan bunga segenggam-demi segenggam, mulai dari kepalanya terus ke arah kaki berulang-ulang sampai seluruh bunga menutupi pusaranya. 

Saat menabur bunga muncul wajah Ibu. Terbayang ekspresinya saat hendak melepas nyawanya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 20.00, salah satu adik perempuanku memberitahu keadaan ibu. Aku segera memasuki kamar. Orang-orang yang mendampinginya termasuk suster yang merawatnya keluar, seolah memberi kesempatan padaku untuk berdua dengan Ibu. Aku duduk di kursi. Ku tarik kursi mendekati kepala Ibu. Ku raih tangan kanannya, lalu ku genggam dengan kedua tanganku. 

Seolah merasakan kehadiranku, Ibu menggerakkan kepalanya ke arahku dan berusaha membuka kelopak matanya dengan berat. Aku balas menatap matanya sambil ku paksakan untuk tersenyum dengan maksud menghiburnya. Matanya mulai berkaca-kaca, aku terus berusaha tersenyum. Air mata ibu mulai menetes membasahi pipinya. Aku usap pelan air mata itu dengan menggunakan sapu tangan yang ku ambil dari saku celanaku.

Ibu sepertinya menahan sakit yang teramat berat. Aku buka selimut yang menutup kakinya. Aku pijit telapak kakinya. Aku merasa kakinya dingin dan kaku seperti membeku. Aku angkat sedikit lagi selimutnya. Dingin dan kaku seperti bergerak dari ujung kaki ke atas terus ke kepala. Aku bisikan ucapan Tahlil di telinganya berulang-ulang. Bibir ibu bergerak tanpa suara. Matanya lalu berputar dan kepalanya digerakkan, dengan bibir yang nampak seperti hendak digigit. Setelah itu Ibu tidak bergerak lagi. Aku panggil suster yang menjaganya. Suster lalu membuka kelopak mata kiri dan kanan, senter kecil diarahkan ke bola mata. “Ibu telah meninggal”, katanya pelan. Aku lalu menutup wajahnya dengan kain, kemudian bergerak ke luar kamar.

“Ibu telah pergi! ”, kataku datar kepada dua orang adik perempuanku yang duduk di ruang tamu. Langsung keduanya melompat ke arah kamar sambil setengah menjerit dan tak kuasa menahan tangis.

“Jangan meraung!”, kataku mengingatkan.

Aku lalu menyandarkan kepala di kursi tamu. Saat itu aku sangat ikhlas melepasnya. Akan tetapi semakin lama, perasaan sedih ditinggal Ibu semakin terasa.

Aku lalu mengangkat kedua tanganku untuk berdoa, Hisyam mengikutiku. Wajah Ibu seperti hadir di depanku. Aku terus berdoa, Ibu menjulurkan tangannya ke arah kepalaku. Mataku mulai terasa panas dan berkaca-kaca. Ibu tersenyum sembari mengusap-usap rambutku seperti waktu kecil dulu. Air mataku tumpah dan tak terbendung lagi, walau aku berusaha menahannya. Ada rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan. Rindu yang lama terpendam di dada seperti menemukan jalan keluar. Aku biarkan semuanya mengalir dan tumpah. Aku mulai terisak-isak seperti anak kecil. Setelah puas, ku bersihkan air mata dengan sapu tangan. Aku kemudian bergerak ke arah kuburan nenek, ku ambil bunga dari Hisyam untuk ku taburkan segenggam. Aku bergerak lagi ke arah Ayah, ku taburkan lagi segenggam, begitu seterusnya ke orang-orang dekat yang aku kenal yang telah berpulang sampai bunga habis.

Setelah puas aku berdiri sambil berkata:“Yuk kita pulang!”. 

Hisyam dan Kemal lalu bergerak mengikuti langkahku.

Setelah istirahat, aku mandi dan berganti pakaian.

Hisyam dan Kemal santai di ruang tamu.

“Yuk kita makan siang di Bik Juk! ”, kataku dengan nada mengajak.

Bik Juk  (Warung Khadijah) merupakan warung nasi paling enak dan paling mewah di kampung. Bahkan karena terkenalnya, orang-orang yang datang dari Denpasar seringkali sengaja menjadwalkan untuk makan di tempat ini.

“Aku minta polo dan limpa dengan kuah rawon!”, kataku kepada Salmah yang menjadi pelayanan yang masih mengenalku.

“Minumnya es bir!”, lanjut ku. 

Bir tidak lain dengan kelapa muda yang diberi sirup. Orang Jawa menyebutnya es degan.

Usai makan, kami bertiga berjalan kaki ke pantai. Waktu masih kecil aku suka bermain layang-layang di tempat ini. Di musim layang-layang  banyak sekali teman sebayaku yang juga bermain layang-layang. Bermain layang-layang di pantai sangat mudah, disamping tidak ada penghalang juga anginnya kencang sehingga anak-anak menyukainya. Di sini adu layang-layang yang disebut “korotan” dalam istilah setempat, memiliki aturan sendiri dimana saat layang-layang putus tidak boleh diambil, ia tetap menjadi hak pemiliknya, jadi berbeda dengan aturan main adu layang-layang di tempat lain. 

Di musim ikan aku dan teman-teman suka memancing. Cukup dengan kail pendek  terbuat dari bambu yang dibuat sendiri. Kalau matahari tidak terik aku suka berdiri di pinggir pantai dengan posisi kaki terendam sedengkul, sudah cukup untuk mendapatkan ikan. Kadang-kadang ombak agak besar datang sehingga membasahi celana pendekku. Jika matahari sedang terik, kami memilih lokasi memancing dengan cara bergelantungan di bawah jembatan kayu yang saat itu menjadi dermaga. Hasil mengail ikan aku tempatkan di kaleng susu bekas yang aku bawa dari rumah. Saat kembali pulang ibu kemudian menggorengnya. Jenis ikan yang ku tangkap masyarakat setempat menyebutnya: “cotek”, bentuknya kecil dan pipih, kalau digoreng sangat gurih dan renyah serta terasa manis. Kalau hasilnya banyak maka kakak dan adik-adikku boleh ikut menikmatinya, tetapi kalau sedikit menjadi hakku sepenuhnya.

Saat aku menginjak remaja, aku suka ke pantai di malam hari khususnya di malam Minggu. Aku biasanya ditemani sahabat karibuku bernama Antana. Tetapi aku memanggil namanya: “Tolek”, yang merupakan nama kecilnya dan nama yang digunakan di keluarganya. Antana ayahnya orang Bali asli beragama Hindu, sedang Ibunya Tionghoa beragama Kong Hu Chu. Ia memiliki adik perempuan yang cantik sekali, matanya sipit, hidungnya mancung,  kulitnya bersih tidak terlalu putih, tubuhnya semampai. Kalau aku bertandang ke rumahnya, ia selalu berusaha menampakkan diri. Ada saja yang diambilnya di ruang tamu, terkadang hanya sekedar lewat. Di keluarganya Antana selalu membanggakanku sebagai jagoan Matematika dan selalu juara kelas. Kedua orang tuanya sangat menghargai ku. Saat aku datang selalu disuguhi teh manis panas, kadang-kadang ditemani kue kering. Saat lulus nilaiku terbaik di SMA. 

Meskipun aku berprestasi di sekolah sejak SD sampai SMA, aku dikenal sebagai pemuda pendiam, dan pemalu. Lebih dari itu, sebenarnya  aku masuk kategori   rendah diri alias minder bila berhadapan dengan orang. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi keluarga. Karena itu, aku tidak pernah punya sedikitpun keberanian untuk jatuh hati. Cukup berbahagia dengan bayangan yang kubawa ke alam mimpi. Aku dan Antana akrab karena sama-sama menyukai Bahasa Inggris. Kami kursus pada seorang guru bernama Pak Cup. Pak Cup lama tinggal di Belanda, setelah anak-anaknya dewasa, bekerja dan berkeluarga,  ia dan istrinya yang orang Belanda asli memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya di Bali. Ia tinggal di sebuah rumah besar yang sangat asri dipenuhi tanaman bunga, berlokasi di seberang SMP Negri Satu ,  disamping Gedung RRI. 

Antana memiliki sepeda ontel berwarna merah sedangkan milikiku berwarna biru. Kami bersepeda masing-masing menuju berbagai lokasi. Kadang-kadang kami nonton bareng jika film bagus. Pavorit kami adalah film India atau film Kungfu asal Hongkong. Kalau tidak ada film bagus kami selalu ke pantai. Di tempat ini kami berbagi mimpi, membanguncita-cita, juga berdialog untuk saling memahami agama, tradisi, dan kebiasaan di keluarga. Kami sama sekali tidak pernah berdebat, apalagi cekcok. Perbedaan etnis, budaya, dan agama bukan penghalang, bahkan bisa dikatakan sebagai perekat. Kadang-kadang kami keluar agak demonstratif, aku menggunakan sarung yang biasa digunakan untuk shalat sementara Antana menggunakan sarung yang biasa digunakan untuk upacara adat di pura. Di pinggir pantai di atas pasir yang lembut kami duduk berdua, diantara banyak pasangan muda-mudi yang juga menghabiskan malam Minggu.

Setelah puas menatap deburan ombak dan mengenang masa kecil dan masa remajaku, aku memberikan isyarat ke Hisyam sudah waktunya untuk menuju Denpasar, aku tidak mau terlambat tiba di Bandara Ngurah Rai, apalagi pesawat yang akan aku tumpangi merupakan pesawat terakhir malam itu. Saat menuju mobil Kemal minta maaf karena malam itu merupakan jadwal pengajian sehingga ia tidak bisa menemaniku. Aku tidak ingin mengetahui apakah benar malam itu ia akan mengikuti pengajian, karena tidak ingin menambah masalah saat kami akan berpisah.

Saat langit sudah gelap aku tiba di Bandara Ngurah Rai. Aku melambaikan tangan perpisahan ke Hisyam, ia tersenyum sambil membalas lambaian tanganku. Aku perhatikan matanya berkaca-kaca, aku segera memutar badan karena tidak kuasa menatapnya seperti itu. Tiba-tiba aku teringat saat ia masih kecil, selalu digendong Ibu saat ke pasar karena kami tidak punya pembantu. Saat libur sekolah Ibu juga suka mengajakku. Orang-orang bilang aku anak tersayang karena wajahku mirip sekali dengan ibu. Karena komentar ini aku suka memperhatikan foto ibuku sewaktu masih muda. Tampak wajahnya cantik sekali, sungguh ayah sangat beruntung karena bisa menyuntingnya. Nenekku pernah cerita, banyak sekali pemuda tampan dan kaya naksir ibu. 

Suatu saat aku menggodanya: “Mengapa Ibu kok memilih ayah, bukan para pemuda yang kaya sebagai suami?”.

“Kalau Ibu pilih yang lain maka kau tidak keluar!”, jawabnya sambil memalingkan wajah dengan wajah cemberut. 

Tapi bila berjalan bersama Hisyam, semua orang yang kutemui di jalan menyanjungnya, sambil mencubit pipinya dengan perasaan gemas. Kulitnya putih kemerahan, rambutnya agak pirang, hidungnya mancung. Orang-orang suka menggoda ibu dengan ungkapan: “ Ini pasti ngidam Rishi Kapoor! ”, bintang Bollywood yang terkenal tahun 70-an. Ibuku memang senang nonton film India, bahkan tidak peduli meskipun dilarang ayah. Untuk yang satu ini, ia berani mengambil risiko, padahal urusan lain ia selalu patuh. Aku masih ingat diajak nonton film yang dibintangi oleh Rishi Kapoor berjudul:  “Bobby”. 

Ayahku galak sekali, bahkan suka memukul anak-anaknya dengan rotan karena urusan sepele. Gara-gara urusan film Ibu pernah diusir dari rumah, sehingga nenek dan semua saudara ibuku meminta maaf, sambil mengantar ibu yang tidak berani  pulang sendirian. Aku menyaksikan semua itu dan melekat kuat di ingatanku. Sejak saat itu, aku bertekad untuk membahagiakannya di kemudian hari. 

Aku boleh dibilang anak yang paling manja, satu saat tidak ada beras yang bisa dimasak. Ibu lalu mengambil nasi sisa kemarin untuk dihangatkan, diteteskan minyak kelapa dan garam di atasnya, lalu disaajikan ke adik-adik, semuanya makan dengan lahapnya. Minyak yang telah digunakan untuk menggoreng daging atau ikan biasanya disimpan oleh Ibu. Minyak ini merupakan menu istimewa bagi kami yang jarang makan daging. Aku hanya memandang tanpa menyentuhnya, melihat nasi yang sudah berkeringat dan aroma basi di hidungku, membuat aku tak kuasa untuk menelannya. 

Ibu hanya memandangiku yang diam tak menyentuhnya sama sekali. Setelah adik-adikku selesai makan dan kembali bermain, ia mendekatiku. 

“Nanti kalau kau sudah besar, sudah bekerja, kau boleh membeli makanan yang kau suka!”, katanya sambil membelai dan mengelus kepalaku. Aku menangis mendengarnya.

“Maafkan aku Bu! ”, kataku dengan suara lirih.

Ibu tidak menjawabnya, kecuali mendekap ku  sangat erat. Wajahnya kemudian ditempelkan di kepalaku. Aku merasakan ada air hangat menetes di kepalaku. Aku balik menatapnya, aku lihat matanya basah dan berwarna kemerahan.

Kami kemudian saling memandang dalam diam, karena tidak ada kata-kata yang layak diucapkan yang bisa mewakili perasaan masing-masing.

Saat pesawat take off  aku sodorkan kepala ke jendela. Hanya terlihat kelap-kelip lampu yang menerangi kota Denpasar dan sekitarnya. Aku mencoba menduga-duga pantai Kute, Sanur, Nusa Dua, dan tempat-tempat lain pavoritku. Semakin lama lampu-lampu tampak semakin samar. Bersamaan dengan itu, muncul banyak kenangan lama yang terlupakan. Kini aku baru sadar, bahwa aku tumbuh dan dibesarkan sebagai minoritas Muslim di tengah mayoritas masyarakat beragama Hindu. Bukan mustahil semua ini mempengaruhi sikap dan cara pandangku, khususnya dalam urusan agama.

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar