Jumat, 20 Mei 2022
19 Syawal 1443

Di Beranda Istana Alhambra (30 – Berkunjung ke Zaragoza)

Kota Zaragoza di Spanyol (istock) - inilah.com
Kota Zaragoza di Spanyol (istock)

Aku diingatkan oleh Iqbal, katanya jika mau menjadikan DMI sebagai Gerakan Ilmu maka Aku harus mengunjungi Zaragoza. Zaragoza yang terletak di Utara Kota Madrid sudah tersambung dengan jalan Tol, sehingga bisa ditempuh dengan mobil sekitar tiga jam, sementara jika menggunakan kereta cepat hanya satu jam lebih sedikit.

A: “Apa kelebihan Zaragoza jika dibanding kota-kota lain di Spanyol ?”, komentarku tak paham.

I: “Di sana ada seorang dosen di Universitas Zaragoza yang dalam Bahasa Spanyol disebut: Universidad de Zaragoza, bernama Rafael yang sangat mencintai Indonesia dan beristri wanita asal Sumbawa, NTB, bernama Ida”.

Whatsapp Image 2022 03 11 At 10.12.21 Am - inilah.com
Kota baru Zaragoza (Foto Dok.pri)

Aku dan Iqbal lalu memberitahu Mbak Ida bahwa Kami akan mengunjungi kediamannya. Mbak Ida dan suaminya Rafael tinggal di sebuah apartemen sangat gembira mendengar rencana kunjungan Kami. Warga Negara Indonesia pada umumnya jika bertemu saudara setanah air sangat senang, apalagi mereka yang berkeluarga orang Spanyol dan tinggal di lingkungan yang tidak ada orang Indonesianya.

Kangen berbicara Bahasa Indonesia dan ingin berbagi masakan Indonesia. Mbak Ida memasak seafood dan ikan bakar sambal, sementara Rafael memasak kambing oven kebangaannya. Karena antusiasnya menyambut kedatangan Kami, anaknya yang masih berusia tiga tahun bernama Anjani dititipkan ke mertuanya.

D: “Saya senang sekali menerima tamu orang Indonesia, karena di Zaragoza hanya ada kurang dari sepuluh orang dan mereka sibuk semuanya dengan urusan masing-masing, sehingga jarang Kami bisa bertemu”, ujar Mbak Ida saat menyambut kedatangan Kami di pintu masuk rumahnya.

Mbak Ida lalu memanggil Rafa panggilan akrab Rafael yang masih sibuk di dapur mempersiapkan kambing bakarnya.

R: “Selamat datang di kediaman Kami”, kata Rafa dengan Bahasa Indonesia yang terbata-bata, terasa sekali ia mempersiapkan dan menghafal sepotong kalimat ini.

Baca juga
Maura Magnalia Meninggal di Meja Makan

Kami kemudian menggunakan Bahasa Inggris dalam berdiskusi dengan Mbak Ida dan suaminya yang menyandang gelar Assosiate Professor di bidang IT.

A: “Kenal dimana kok bisa dapat suami seganteng ini ?”, kataku dengan menggunakan Bahasa Indonesia sehingga Rafa tidak memahaminya.

D: “Kita sama-sama sekolah di Amerika, waktu itu kenal sambil lalu saja. Setelah lulus, Aku pulang ke Sumbawa dan mengajar di sebuah universitas lokal. Di luar kegiatan mengajar, Aku mendirikan NGO atau LSM yang bergerak untuk memberdayakan masyarakat setempat. Kegiatanku ini mengingatkan Aku dengan Rafa, dengan harapan ia bisa membantu LSM lokalku mendapatkan partner di Eropa atau bergabung dengan jaringan NGO serupa di tingkat global. Eh……malah jadi suami”, sambil menoleh ke arah Rafa.

A: “Apa yang membuat Anda tertarik pada Mbak Ida ?”, kataku sambil menoleh ke arah Rafa.

R: “Aku sudah jatuh cinta dengan Indonesia sebelum Aku mengenalnya”, sambil tersenyum ke Mbak Ida.

R: “Aku suka kehidupan alami dan bersahaja masyarakat Sumbawa, juga alamnya yang masih perawan”.

D : “Yuk Kita makan dulu nanti keburu dingin !”, sela Mbak Ida.

R: “Sebentar dulu daging kambingku belum masak, tinggal sedikit lagi”, kata Rafa sambil bergegas ke dapur.

Kami makan di balkon apartemennya yang ditutup kaca, meskipun udara di luar dingin akan tetapi di tempat ini terasa hangat. Sinar matahari bebas menyinari ruangan yang ditata denga hiasan Bali lengkap dengan air yang mengalir gemericik. Sambil makan Kami mengobrol kesana-kemari tentang berbagai hal, hingga sampai pada tema Pendidikan.

A: “Di Universitas Rafa mengajar apa ?”.

R: “Aku mengajar IT. Sebetulnya sejak lama Aku juga diberi tanggungjawab oleh jaringan perguruan tinggi di Uni Eropa untuk mencari mahasiswa S2 atau S3 yang mau studi di sini dengan mengambil riset sesuai dengan judul-judul yang sudah ditetapkan. Walaupun diberikan beasiswa penuh dan risetnya dibiayai oleh dana proyek, akan tetapi Aku kesulitan mendapatkan mahasiswa. Aku lebih suka kalau mahasiswanya orang Indonesia, karena mereka umumnya rajin dan tidak banyak menuntut”.

Baca juga
Tunggu Kebijakan Booster, IDI Minta Vaksinasi Dipercepat

A: “Kesulitannya dimana ?”.

R: “Aku tidak punya banyak teman, disamping belum ada networking dengan perguruan tinggi di Indonesia”.

A: “Bagaimana kalau Saya bantu dengan bentuk kerjasama antar universitas”.

R: “Itu yang Aku harapkan, lebih baik lagi jika diikuti dengan tukar-menukar mahasiswa, tukar-menukar dosen, joint research, dan lain-lain yang lazim dikerjakan di sebuah perguruan tinggi”.

A: “Tema apa saja dari daftar judul riset yang ditawarkan ?”.

R: “Berkisar tentang digital, big data, cloud, AI, Metaverse dan perkembangan mutakhir teknologi terkait IT”.

Setelah usai makan sambil berdiskusi, Kami lalu diantar untuk mengunjungi Kota Tua, tempat yang paling penting terkait sejarah Zaragoza. Menurut Iqbal pada abad ke-8, M setelah Pasukan Islam menguasai Andalusia, Zaragoza menjadi Ibukota Andalusia bagian Timur Laut yang meliputi Kota Barcelona saat ini.

Pada tahun 1018 M, pada saat Bani Umayyah runtuh Zaragoza menjadi salah satu Taifah yang independen yang dikendalikan Keluarga Tujibid, yang kemudian menjadi dinasti Tujibid yang mewariskan kekuasaannya secara turun-temurun. Pada tahun 1039 M wilayah ini diambil-alih oleh Banu Hud, yang kemudian juga menjelma menjadi Dinasti Bani Hud, sampai akhirnya direbut  oleh Al Murabitun pada tahun 1110 M.

Pada 18 December 1118 M, Raja Alfonso I dari Aragon mengambil-alih dari Al Murabitun dan menjadikannya sebagai Ibukota dari Kerajaan Aragon.

Sejak saat itu, wilayah ini terus dikendalikan oleh Kerajaan Kristen. Meskipun penguasanya terus berganti dan pertikaian diantara kerajaan-kerajaan Kristen terus berlangsung, akan tetapi wilayah ini tidak pernah kembali dikuasai oleh Penguasa Muslim.

Baca juga
DPD RI Berduka Sabam Sirait Wafat
Whatsapp Image 2022 03 11 At 10.12.16 Am - inilah.com
Kuil yang berubah menjadi masjid kemudian berubah menjadi Katedral (Foto Dok.Pri)

Bekas-bekas peninggalan Islam dapat dilihat pada dinding Katedral yang semula merupakan Kuil Bangsa Romawi, kemudian diubah menjadi masjid saat Islam berkuasa, kemudian berubah menjadi Katedral sejak Katolik berkuasa dan terus bertahan sampai sekarang.

Whatsapp Image 2022 03 11 At 10.12.15 Am - inilah.com
Dinding Katedral (Foto Dok Pri)

Menurut Rafa nilai penting Zaragoza disebabkan oleh karena ia merupakan Ibukota Kerajaan Aragon yang dipimpin oleh Raja Ferdinand II yang menikah dengan Ratu Isabella yang berkuasa di wilayah Castilla, yang kemudian dengan perkawinan ini menyatukan seluruh wilayah Spanyol. Hanya Portugal yang tidak bergabung dan menjadi negara mandiri sampai sekarang.

Saat seluruh wilayah Spanyol sudah Kembali ke tangan Bangsa Spanyol pada 1429 M, Ratu Isabella melepas Columbus untuk menemukan jalan baru yang lebih pendek menuju India dari wilayah ini, dari pelabuhannya yang sangat penting sampai sekarang bernama Kota Barcelona. Karena itu di tempat ini didirikan Patung Colombus untuk mengenang jasa-jasanya.

R: “Ada lagi tempat penting khususnya bagi penganut Katolik”, kata Rafa.

I: “Apa itu ?”, tanya Iqbal tidak paham.

R: “Catedral Basilica of Our Lady of the Pillar disingkat Catedral de Pillar”.

I: “Wah saya baru tahu!”, komentar Iqbal dengan nada penasaran.

Whatsapp Image 2022 03 11 At 10.12.19 Am - inilah.com
Catedral de Pillar (Foto Dok Pri)

R: “Ini adalah salah satu katedral dari Katolik Roma yang terbesar dan tersuci sehingga banyak penjiarah yang dating dari seluruh dunai. Raja-raja Spanyol dahulu banyak yang dilantik di kaki Patung Bunda Maria yang berada di Gereja ini. Paus di Vatikan juga menempatkan gereja ini dalam posisi yang istimewa sejak Paus John Paul II. Akan tetapi sekarang situasi sudah berubah. Tetapi semua itu cerita lama, kini Zaragoza kalah besar dan kalah menarik dibanding Barcelona”.

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar