Selasa, 04 Oktober 2022
08 Rabi'ul Awwal 1444

Di Beranda Istana Alhambra (31 – Menyusun Tesis)

Kamis, 31 Mar 2022 - 08:13 WIB
Menysusn tesis- inilah.com
Ilustrasi (Foto Istock)

Tanpa terasa sudah setahun lebih Aku kuliah di Universidad de Madrid, kini tiba saatnya Aku harus Menyusun Tesis. Walaupun judulnya tidak berubah sebagaimana diajukan sejak awal bersamaan dengan pengajuan proposal, akan tetapi dalam perjalanan penelitian yang Aku lakukan perlu dipertajam pada kesimpulannya, agar apa yang Aku tulis dapat memberikan manfaat bagi pembacanya.

Lebih dari itu, Aku berharap Tesisku akan diterbitkan oleh penerbit di tanah air agar bisa dibaca oleh masyarakat yang lebih luas, sehingga bisa dijadikan rujukan dalam membangun masa depan Umat Islam.

Aku kemudian menemui Iqbal untuk meminta pendapatnya;

A: “Kemana sebaiknya Aku melakukan riset tambahan untuk menyempurnakan penelitian Tesisku ?”, kataku memulai pembicaraan saat baru saja tiba di rumah.

I: “Belum selesai risetnya ?”; tanya Iqbal.

A: “Aku memerlukan riset tambahan, agar ujungnya memiliki perspektif ke depan”.

I: “Maksudnya ?”.

A: “Sebenarnya Aku sudah menemukan kesimpulan kemajuan Umat Islam masa lalu di Andalusia, sebagaimana juga Bagdad di masa keemasannya, melalui studi literatur di perpustakaan, kemudian mencari dokumen-dokumen pendukung di berbagai museum, disamping melihat berbagai bangunan benteng dan istana peninggalan Islam di Andalusia”.

I: “Belum cukup ?”.

A: “Aku ingin mengunjungi pusat-pusat sains dan teknologi modern”.

I: “Relevansinya apa dengan judul tesis dan proposal yang telah dibuat ?”.

A: “Disinilah masalahnya, Aku ingin agar Tesisku bukan saja bisa memberikan pencerahan dalam arti pemahaman yang benar tentang Islam di Andalusia yang sangat membanggakan di masa lalu, akan tetapi juga sekaligus memberikan arah ke depan menyongsong kebangkitan kembali Umat Islam. Aku bahkan telah memilih istilah: ‘Renaisance Islam”, untuk mengungkapkannya agar mudah dipahami.

Baca juga
Penyidik Punya Dua Alat Bukti Tetapkan Ajudan Istri Irjen Ferdy Sambo Tersangka

I: “Wah menarik sekali, bisa dielaborasi sedikit kesimpulannya ?”.

A: “Pandangan Islam yang moderat, toleran, dan Wasathiyah ternyata menjadi dasar atau fondasi pandangan keagamaan yang membawa keunggulan Umat Islam waktu itu. Dengan pandangan keagamaan seperti ini membuat para ilmuwan Islam tidak terhalang untuk mempelajari kemudian mengambil ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi dari manapun asalnya. Setelah itu, mereka mengembangkannya sehingga mampu menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh Umat Manusia, apapun agamanya, sukunya, maupun asalnya”.

I: “Akan tetapi untuk melakukan apa yang Kau inginkan itu Aku ragu, apakah pihak fakultas memiliki akses ke sejumlah industri modern di Spanyol, tetapi Aku punya ide untuk mengatasinya”.

A: “Idenya ?”.

I: “Minta bantuan KBRI, apalagi Kau punya hubungan istimewa dengan Dubes, tentu akan memperlancar urusan”.

A: “Maksudnya ?”.

I: “Begini….Sejak kerjasama yang dijalin oleh industri pesawat terbang Casa milik Spanyol dengan PT Nurtanio di Bandung yang dirintis B.J.Habibie, hubungan industri modern antara dua negara sudah terjalin baik, apalagi kemudian Indonesia juga mebeli kapal Dewa Ruci dan Bima Suci yang digunakan oleh Taruna Angkatan Laut Kita, semakin mempererat hubungan antara Spanyol dengan Indonesia. Nah, dalam hal ini KBRI khususnya Dubes memiliki pengaruh besar atas sejumlah industri strategis berbasis teknologi tinggi di Spanyol”.

Aku langsung meminta bantuan Ibu Nany untuk bertemu Dubes:

D: “Tumben…..Biasanya Saya yang mencari, sekarang Kau yang datang sendiri”, komentar Dubes saat Aku memasuki ruangannya.

A: “Ya…..Saya perlu bantuan Bapak untuk menyelesaikan Tesis saya”.

D: “Apa yang bisa Saya bantu ?”.

A: “Saya ingin mengunjungi berbagai industri modern di Spanyol yang berbasis teknologi tinggi, khususnya yang menjalin kerjasama dengan Indonesia agar lebih mudah”.

Baca juga
Greysia Polii hingga Squid Game Jadi Terpopuler di Google Sepanjang 2021

D: “Kalau industri pesawat atau kapal laut semuanya di luar kota, kalau mau yang dekat-dekat sini ada, tetapi apakah relevan dengan riset Anda ?”, jawab Dubes ragu.

A: “Bisa Bapak jelaskan usulannya ?”.

D: “Di sini ada Tecnicas Reunidas sebuah perusahan yang bergerak di bidang energi. Perusahan ini merupakan kerjasama antara Spanyol dan Rusia. Saat ini TR sedang bekerjasama denga Pertamina untuk menggarap proyek di Tuban Jawa Timur. Selain itu, INDRA sebuah perusahan yang bergerak di bidang teknologi digital, baik terkait software maupun hardware. INDRA sangat terkenal dengan teknologi sinyal baik untuk pesawat, kapal laut, dan kereta. Teknologi yang dimilikinya sudah digunakan oleh banyak negara, khususnya untuk pengaturan lalulintas udara. Perusahan ini sudah lama membantu banyak bandara di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan radar”.

A: “Keduanya bisa Pak”, responku spontan dengan perasaan gembira.

D: “Kalau begitu Anda langsung temui Ibu Nany, nanti biar dibuatkan surat dengan kop KBRI yang ditandatangani Duta Besar  agar mendapatkan perhatian lebih”.

Aku mengunjungi kantor TR yang berada di sebuah area yang sangat luas di pinggiran Kota Madrid. Menempati Gedung bertingkat yang sangat modern, Aku diantar oleh seorang pemandu untuk melihat berbagai fasilitas yang dimilikinya, disamping berbagai proyek di seluruh dunia yang sedang dikerjakannya.

Terakhir Aku dipertemukan dengan sejumlah tenaga muda Pertamina yang dikirim untuk magang di perusahan ini, sebagai bagian dari program kerjasama terkait dengan transfer teknologi. Mereka bekerja di depan komputer untuk mengendalikan berbagai aktifitas di lapangan secara online dan rieltime.

Baca juga
Kapolri Harus Bernyali Putuskan Masa Depan Ferdy Sambo, Lanjut atau Copot

Bahkan mereka mendemonstrasikan bagaimana mereka dapat berkomunikasi dengan petugas di lapangan, termasuk yang sedang bekerja di Kilang Tuban dengan suara yang jelas dan nampak wajah operator di lapangan.

Berikutnya Aku mengunjungi INDRA, diterima di sebuah ruangan dengan empat dinding mengitariku. Saat tombol ditekan semuanya berubah menjadi layar lebar tiga dimensi. Badanku berputar 360 derajat melihat kapal selam, pesawat, dan kereta cepat bergerak dengan suaranya masing-masing silih berganti.

Setelah melihat demonstrasi ini, Aku kemudian diantar mengelilingi berbagai ruangan kerja yang dibuat bervariasi, ada yang bentuknya seperti Amfiteater dengan layar lebar di belakangnya yang dikendalikan dengan remote control.

Kemudian ruangan yang lebih kecil berbentuk pub, serta ruangan lain dimana anak-anak muda bekerja sambil lesehan dengan laptopnya masing-masing, yang di sisi Kiri dan Kananya tersedia berbagai macam minuman dan makanan kecil.

Setelah kunjungan ini, Aku semakin yakin bahwa kunci masa depan Islam ada pada penguasaan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Selain itu pandangan keagamaan yang moderat, toleran, dengan prinsip wasathiyah, yang menjadi kunci keunggulannya. Hal ini sejalan dengan kejayaan Islam di masa lalu, baik di Andalusia saat dipimpin oleh Bani Umayyah maupun di Bagdad saat berada di bawah dinasti Abbasiyah.

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar