Kamis, 18 Agustus 2022
20 Muharram 1444

Di Beranda Istana Alhambra (4 – Belajar Bahasa Spanyol)

Rabu, 01 Des 2021 - 15:16 WIB
- inilah.com

Walaupun nantinya aku kuliah menggunakan Bahasa Inggris, aku pikir tidak ada salahnya kalau aku belajar Bahasa Spanyol. Apalagi kebanyakan orang Spanyol tidak pandai berbahasa Inggris, tentu kemampuan berbahasa Spanyol akan banyak gunanya, paling tidak untuk keperluan sehari-hari, pikirku. Karena itu, sejak mendapatkan informasi aku akan melanjutkan studi ke Spanyol, kegiatan belajar Bahasa Spanyol aku mulai secara mandiri.

Sejak duduk di bangku SMP, aku sudah sangat serius belajar Bahasa Inggris karena menyadari bahwa bahasa ini merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Disamping itu, obsesi dan keinginanku ke luar negri sudah muncul sejak aku berada di bangku SD. Ketika kelas tiga SD, guruku pernah  memanggil satu persatu siswanya ke depan untuk menyampaikan cita-cita masing-masing. Aku menyatakan cita-citaku ingin ke luar negri. Lalu Ibu guru berkomentar: “Ke luar negeri itu cita-cita atau bukan ya”, dengan nada bertanya.

Aku yang mendengar komentar tersebut jadi melongo.

Melihat kebingunganku, lalu ia berkomentar lagi: “OK, ke luar negri boleh sebagai cita-cita”, katanya seolah ingin menghibur ku.

Aku merasa tidak terlalu berbakat dalam berbahasa asing, mungkin karena karakterku yang pendiam dan introvet. Karena itu energi yang aku alokasikan untuk menguasainya harus berlipat ganda. Selain itu, aku harus banyak mempraktikkannya, agar cekatan dalam menggunakannya dan terlatih dalam memahaminya. Pada hari Minggu aku sering ke Pantai Lovina yang jaraknya kurang dari 10 Km ke arah Barat dari kampungku. Di sana banyak sekali turis asing yang datang dari berbagai negara. Untuk mencapainya aku naik angkot yang di kampungku disebut bemo.

Pada saat libur panjang aku sering ke Sanur dan Kute yang berada di kota Denpasar. Aku menawarkan diri menjadi Guide pada turis-turis yang datang dari berbagai negara. Aku memilih turis yang laki-laki untuk menjaga agar imanku terjaga. Aku tidak meminta bayaran kepada mereka karena menyadari sebagai guide amatir dengan kemampuan terbatas. Tapi aku mendapatkan income dari toko suvenir kalau mereka belanja. Aku juga dapat makan gratis, karena saat mereka biasanya mengajakku ikut makan. Terkadang aku ikut menikmati nyamannya nginap di hotel.

Berkat kegiatan ini aku memiliki banyak teman yang kemudian menjadi pelangganku. Terkadang mereka memberikan rekomendasi kepada teman-temannya untuk menggunakan jasaku jika hendak berkunjung ke Bali. Aku menjaga hubungan dengan mereka dengan korespondensi. Seringkali saat mereka akan kembali, meninggalkan sejumlah barang yang dipakainya seperti kacamata, topi, dan jaket, sehingga aku memiliki koleksi yang bisa aku banggakan kepada teman-temanku.

Suatu saat aku bertemu seorang turis Mualaf berasal dari Australia bernama Yusuf D’arcy yang berprofesi sebagai perawat. Ia pernah merawat seorang tokoh asal kota Gede, yang memiliki anak bernama Haris Zubair yang mengajar Filsafat di UIN Sunan, Kalijaga, Yogyakarta. Berkat persahabatan ini, aku untuk pertama kalinya bisa melihat kota Gudeg ini. Kami bermalam di rumah Pak Haris yang ayahnya pernah berobat di rumah sakit dimana Yusuf bekerja. Karena itu ikut menikmati keramahan keluarga Pak Haris. Kami berdua diajak berekreasi keliling kota termasuk mengunjungi Kebun Binatang Gembiraloka.

Baca juga
Di Beranda Istana Alhambra (1 - Mendapat Beasiswa)

Citra Lovina di kampungku sangat tidak baik, karena di dalamnya identik dengan pergaulan bebas. Sejumlah pemuda asal kampung bahkan terjerumus menjadi piaraan turis, baik yang laki-laki maupun perempuan, yang secara reguler mengunjungi tempat ini. Karena itu, saat berada di tempat ini aku berusaha untuk tidak terlihat orang kampung, karena takut diadukan ke ayah. Aku selalu mengenakan topi lebar yang aku turunkan untuk menutupi wajahku, jika ada orang yang ku kenali lewat. Aku pasti akan dipukul ayah jika ketahuan berada di tempat ini. Kalau ke Denpasar saat libur aku beralasan untuk mengunjungi keluarga, baik dari ayah maupun ibu yang banyak tinggal di sana.

Ayah disamping galak dan suka memukul dengan rotan, ia juga tidak suka kalau anak-anaknya banyak bermain di luar rumah. Kami hanya diijiinkan keluar untuk belajar di rumah teman atau berolahraga. Karena itu kalau jenuh di rumah aku minta ijin untuk belajar di rumah teman atau berolah raga. Aku hobi main bulutangkis dan lari di pantai yang berpasir halus. Belajar dan olahraga yang semula dijadikan modus untuk meninggalkan rumah, lama kelamaan menjadi hobiku. Aku paling menikmati pelajaran heksakta khususnya matematika.

Sedangkan untuk olahraga selain lari di pantai dan bulutangkis, aku juga belajar seni bela diri silat. Setiap hari aku lari 10 Km, sehingga kemudian aku menjadi seorang atlet pelari maraton andalan SMA. Setiap ada perlombaan maka aku selalu ditunjuk mewakili sekolah. Sebagai pesilat, aku juga berlatih hampir setiap hari. Uniknya, guruku mengajarkan silat kepada murid-muridnya pada pukul tiga dini hari. Begitu suara azan Subuh terdengar, maka latihan dihentikan. Kami kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan Shalat Subuh.

Meskipun ilmu silat yang aku pelajari bernama Kuntao yang berasal dari China, akan tetapi di depan rumah guruku dipasang papan berwarna merah darah,  bertuliskan Perguruan Silat Tapak Suci, lengkap dengan simbolnya tapak tangan menghadap ke depan. Guruku bernama Kamil Djohar, tapi murid-muridnya memanggilnya Cik Kamil. Hampir tiap hari aku berlatih silat di rumahnya. Meskipun guruku menganggap ilmu silatku sudah tinggi, akan tetapi tidak sekalipun aku pernah berkelahi atau sekedar memamerkannya ke publik, tidak seperti beberapa teman lain. Sikapku ini sangat disukai oleh Cik Kamil, sehingga aku sangat disayangi dan dibanggakan dihadapan murid-muridnya yang  lain. Aku dipercaya untuk melatih murid-murid yang masih yunior.

Saat kuliah, aku juga belajar Bahasa Arab di lembaga pendidikan bahasa Arab di dekat kampus. Saat baru lulus S1 aku kursus Bahasa Perancis di Center Culturel Francais (CCF). Banyaknya bahasa yang aku pelajari memberikan naluri alamiah padaku untuk cepat menguasai bahasa asing. Aku melihat Bahasa Spanyol sangat mirip dengan bahasa Perancis dan Bahasa Arab, kata-kata benda ada yang  masuk kategori maskulin dan Femina. Sementara kosa katanya banyak sekali yang mirip dengan Bahasa Inggris, hanya saja cara bacanya yang beda. Hal ini membuat beban dalam menghafal kata jauh berkurang dibanding mempelajari bahasa asing lain yang sama sekali tidak kita kenal sebelumnya.

Baca juga
Di Beranda Istana Alhambra (24 – Jejak Al Murabitun di Andalusia)

Di era digital seperti saat ini, aku berkesimpulan  belajar bahasa asing paling bagus melalui Gawai, apakah Ipad atau HP, dan komputer. Disamping bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, atau dengan kata lain tidak terikat waktu dan tempat, juga pilihannya banyak mulai yang gratis sampai yang bayar. Mana yang bagus tentu sifatnya sangat subjektif, sesuai dengan selera. Yang pasti, kita bisa melihat tulisan, mendengar suara, bahkan ada yang dikombinasi dengan film. Materi dalam bentuk yang terakhir ini yang paling aku suka, yang bisa diakses melalui kanal YouTube.

Secara reguler aku nonton film-film sejarah yang berbahasa Inggris atau berbahasa Arab dengan tujuan untuk merawat pendengaranku dan untuk memperkaya kosa kata yang sudah aku miliki. Selain itu, aku merasa belajar sejarah melalui film jauh lebih menarik dibanding membacanya lewat buku yang membosankan.

Semula aku memilih ungkapan-ungkapan Bahasa Spanyol sederhana yang dijelaskan dengan menggunakan Bahasa Indonesia, seperti yang diajarkan oleh Clara. Setelah merasa cukup karena materinya terbatas dan telah aku putar berulang-ulang, aku beralih ke lembaga pendidikan Bahasa Spanyol bernama: ButterflySpanish. Pelajaran menggunakan Bahasa pengantar Bahasa Inggris, materi cukup banyak dan lengkap. ButterflySpanish mengutamakan tata bahasa yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan Grammar. Setelah selesai, aku berpindah ke Paul yang berasal dari Mexico. Yang terakhir ini yang paling  aku sukai,  disamping metodenya bagus, materinya banyak dan lengkap, juga Bahasa Inggris pengajarnya sangat bagus dan jelas.

Setelah tahapan-tahapan ini aku lalui, aku mulai meningkatkan kemampuanku dengan belajar Bahasa Spanyol melalui lagu. Aku bisa menikmati lagu yang dilantunkan dengan menggunakan berbagai bahasa, walau aku tak pandai menyanyi. Waktu SD pelajaran seni suara merupakan pelajaran yang paling aku takuti. Waktu SMP pernah belajar not balok, rasanya sulit sekali. Bagiku pelajaran matematika jauh lebih mudah. Aku pernah belajar memetik gitar, sampai ujung-ujung jari kiriku bengkak semua, tetap saja aku tidak juga bisa menguasainya. Akhirnya ku putuskan untuk menggantung gitar yang ku beli dari uang tabungan.

Penyanyi Favoritku adalah  penyanyi Spanyol bernama Julio Ighlasias, aku sangat suka saat ia membawakan lagu berjudul: Natalie dalam Bahasa Spanyol. Lagu aslinya sebenarnya berbahasa Perancis karya Gilbert Becaud pada 1961.  Lagu ini pertama kali aku dengar dalam Bahasa Sunda, terdengar sangat indah di telingaku. Sebelum mendengar Julio Iglasias menyanyikannya, aku pikir lagu ini memang asli ciptaan orang Sunda. Sedangkan penyanyi muda perempuan yang aku suka adalah vocalis group music Burcin & Acoustic Band saat menyanyikan lagu berjudul: Historia de Un Amor.

Penyanyi lain yang aku kagumi adalah penyanyi asal Italia bernama Andreas Bocelli, khususnya saat membawakan lagu Spanyol berjudul:

Baca juga
KBRI Madrid Gelar Salat Idul Adha Pertama Sejak Awal Pandemi

Bésame Mucho, karya: Consuelo Velázquez, yang aku terjemahkan secara bebas.

Bésame, bésame mucho

Como si fuera esta noche

La última vez

Ciumlah aku, ciumlah aku berulangkali

Seakan malam ini

Adalah malam terakhir

Bésame, bésame mucho

Que tengo miedo a tenerte

Y perderte otra vez

Ciumlah aku, ciumlah aku berulangkali

Sebab aku takut memilikimu

Dan takut kehilanganmu lagi

Bésame, bésame mucho

Como si fuera esta noche

La última vez

Ciumlah aku, ciumlah aku berulangkali

Seakan malam ini

Adalah malam terakhir

Bésame, bésame mucho

Que tengo miedo a tenerte

Y perderte otra vez

Ciumlah aku, ciumlah aku berulangkali

Sebab aku takut memilikimu

Dan takut kehilanganmu lagi

Quiero tenerte muy cerca

Mirarme en tus ojos

Verte junto a mi

Piensa que tal vez mañana

Yo ya estaré lejos

Muy lejos de ti

Aku ingin kau berada di dekatku

Agar tampak diriku dalam matamu

Agar tampak kau di sisiku

Terbayang bahwa mungkin esok

Aku akan jauh

Sangat jauh darimu

Bésame, bésame mucho

Como si fuera esta noche

La última vez

Ciumlah aku, ciumlah aku berulangkali

Seolah malam ini

Adalah malam terakhir

Bésame, bésame mucho

Que tengo miedo a tenerte

Y perderte otra vez

Ciumlah aku, ciumlah aku berulangkali

Sebab aku takut memilikimu

Dan takut kehilanganmu lagi

Dari sekian banyak bahasa asing yang aku pelajari, maka kalau dibanding-bandingkan tingkat kesulitannya yang paling tinggi adalah Bahasa Arab. Akan tetapi, bagiku Bahasa Arab menduduki posisi paling atas bila dilihat dari keindahannya. Motivasiku bertambah besar untuk menguasai Bahasa Arab karena Al qur’an dan seluruh ibadah dalam Islam menggunakan Bahasa Arab. Dengan menguasainya, disamping kita bisa beribadah dengan lebih khusyu, juga kita memahami makna kala ayat-ayat Al Quran dilantunkan, atau doa dipanjatkan.

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar