Senin, 15 Agustus 2022
17 Muharram 1444

Di Beranda Istana Alhambra (8 – Dinginnya Salju Navacerrada)

Rabu, 15 Des 2021 - 05:02 WIB
Freestockphoto - inilah.com
Freestockphoto

Sesuai rencana hari ini aku akan kembali ditemani Iqbal untuk mengunjungi kota kecil yang terletak di dataran tinggi di pinggir kota Madrid bernama Navacerrada. Pagi itu temperatur di kota Madrid menunjukkan angka lima derajat Celcius. Disamping kelengkapan kemarin yang dipinjami, kali ini ditambah sarung tangan, tutup kepala, dan sepatu khusus agar tidak terpeleset ketika berjalan di atas salju.

Kegiatan ini sebenarnya aku lakukan untuk mengisi waktu, sementara Ipah dan Amir masih jet lag yang membuatnya mengantuk di siang hari dan susah tidur di malam hari, akibat adanya perbedaan waktu sekitar enam jam antara Yogyakarta dan Madrid. Sebenarnya aku juga mengalami hal yang sama, akan tetapi aku tidak mau kompromi dan berusaha melawannya.

“Bagaimana, apakah tidak berubah fikiran ?”, tanya Iqbal bernada konfirmasi melihat tubuhku yang masih menggigil belum terbiasa menghadapi musim dingin.

“Siapa takut ?”, jawabku tegas.

Karena tidak ada kendaraan umum yang menuju ke tempat ini, maka Iqbal meminjam kepada temannya mobil sedan kecil untuk mengantarku. Kami bergerak dari rumah pukul 9.30 pagi, saat matahari mulai meninggi. Bagi orang Spanyol saat tersebut sangat pagi, mengingat waktu Shalat Subuh dimulai pukul 6.40. Jarak antara Madrid-Navacerrada sekitar empat puluh Kilometer.

Setelah melewati jalan bebas hambatan, mobil kemudian keluar dan mulai memasuki jalan kecil menanjak yang di kiri dan kanannya dipenuhi pohon venus yang beragam jenis dan ukurannya. Meskipun demikian tidak ada tikungan yang tajam dan tidak pula ada kemacetan yang berart, meskipun nampak banyak sekali mobil yang bergerak dengan tujuan yang sama, karena hari itu masih hari libur akhir pekan.

Setelah menempuh waktu sekitar satu jam, gumpalan-gumpalan salju mulai nampak berserakan di tanah yang luas bergelombang yang nampak seperti cat putih tumpah. Semakin lama semakin banyak sampai akhirnya seluruh tempat diselimuti salju. Tidak mudah mendapatkan tempat parkir mobil, sehingga kami harus berputar beberapa kali menunggu ada mobil yang keluar. Akan tetapi karena kesadaran para pengendara tinggi, semuanya antre dengan tertib, tidak ada yang menyerobot, dan tidak pula ada kelakson mobil yang berbunyi.

Navacerrada snow - inilah.com
Navacerrada snow

Walaupun sudah menggunakan kelengkapan musim dingin yang memenuhi standar, ternyata badanku tetap menggigil ditimpa hujan salju yang terus mengguyur. Hidungku meleleh membasahi masker yang ku kenakan. Aku perhatikan temperatur menunjukkan angka minus lima derajat. Kami terus bergerak diantara sejumlah orang yang menuju ke arah yang sama, ada yang membawa tongkat sky, peluncur dengan berbagai bentuk dan ukuran terbuat dari pelastik yang menyerupai perahu, dan berbagai bentuk alat permainan di atas salju.

Baca juga
53 Ribu Liter Minyak Goreng di Sulteng Ditimbun Sejak Tahun 2021

 - inilah.com

Aku melewati sejumlah remaja yang saling melempar bongkahan salju, sementara yang lainnya sibuk membuat bola salju yang lalu digelindingkan dari tempat yang lebih tinggi. Sejumlah keluarga sibuk mengambil foto dengan latar belakang gunung salju berwarna putih bersih.

Karena tidak tahan melawan dingin yang terasa sudah menyusup ke tulang, aku mengajak Iqbal untuk mencari tempat perlindungan. Iqbal lalu menggiring ku ke arah Cafe Anthiher yang berada di seberang Zebra Cross.

Lampu hijau untuk kendaraan dan lampu merah untuk pejalan kaki, semua orang yang akan menyebrang menunggu lampu penyebrangan orang berubah warna. Aku kemudian berdiri diantara kerumunan yang semuanya memiliki tujuan sama. Ternyata lampu merah lama sekali berubah menjadi hijau. Aku berharap ada yang melanggar sehingga aku punya alasan untuk mengikutinya. Ternyata harapanku tidak terkabul, semuanya taat aturan dan tetap sabar menunggu.

Cafe Anthiher - inilah.com
Cafe Anthiher

Saat melewati pintu masuk, perasaanku lega sekali karena langsung disambut udara hangat dari dalam. Kami berdua langsung mencari tempat strategis yang menghadap jalan dan leluasa melihat pemandangan ke depan. Akan tetapi ternyata jarak pandang hanya sekitar tiga puluh meter saja, sehingga lampu-lampu restoran harus dinyalakan meskipun hari masih, hari.

“Pesan apa ?”, tanya Iqbal.

“Hot capuchino dan French Fries”, kataku sambil mengeluarkan dompet yang di dalamnya terdapat dolar Amerika yang sudah aku persiapkan sejak di Yogya.

“Uangmu nggak laku di sini, disamping mata uang yang diterima Euro juga orang di sini tidak ada yang membayar pakai uang cash. Semua orang bayar menggunakan kartu seperti kartu debet di Indonesia. Karena itu kalau kita membayar dengan cash, maka akan menjadi perhatian, meskipun tetap diterima”, kata Iqbal menjelaskan. “Ketahuan orang udik”, kataku dalam hati.

Sembari menunggu Iqbal yang memesan makanan dan minuman, aku melepas satu-persatu perlengkapan di badan yang terasa cukup menyiksa. Capuchino dan french fries di sini terasa lebih nikmat, mungkin karena udara dingin atau memang aku sudah mulai lapar.

Baca juga
Menkes Budi: 15 Kasus Hepatitis Akut Terdeteksi di Indonesia

“Setelah ini kita ke atas”, kata Iqbal memberikan isyarat agar aku mempercepat makan dan minum.

“Di atas ada apa?”, tanyaku.

“Tempat orang bermain sky dan berbagai atraksi yang menarik lainnya”, jawabnya menjelaskan.

“Rasanya aku tak sanggup, aku mau di sini saja”, jawabku dengan nada menyerah.

Iqbal hanya tersenyum menyaksikan keputusanku.

Saat jam makan siang telah tiba, Iqbal memberikan isyarat:”Yuk kita pindah ke seberang !”.

“Untuk apa ?”, tanyaku belum mengerti.

“Makan siang”, jawabnya singkat.

“Mengapa tidak di sini saja?”, kataku.

“Di sana lebih enak”.

Kami berdua lalu bergerak menuju Restoran Pasadoiro. Rupanya untuk mendapatkan tempat duduk perlu antre. Waktu itu jam menunjukkan pukul 13.00.

“Kalau masuk jam makan, maka antrean akan lebih panjang lagi”, kata Iqbal yang melihat raut wajahku masih heran, karena di Yogya kalau orang masuk rumah makan tinggal nyelonong saja.

“Jam berapa orang Spanyol makan siang ?”, kataku.

“Makan siang setelah jam dua dan makan malam setelah jam sembilan”.

Setelah mendapat tempat duduk, Iqbal mengambil buku menu yang tersedia, lalu bertanya kepadaku: “Mau makan ikan atau daging ?”.

“Daging”, jawabku.

“Mau steak atau ekor banteng ?”, tanya Iqbal kembali.

“Ekor banteng!”.

Aku fikir di Yogya aku sudah sering makan steak. Usai makan aku mengajak Iqbal segera pulang.

“Kenapa buru-buru ?”, katanya.

“Aku ingin Shalat Zuhur dan Asyar di rumah”.

“Dalam status musyafir shalat kan bisa dijamak dan di-qashar, serta bisa dimana saja”, dengan nada menawar.

Aku berpikir di tempat seperti ini bagaimana wudhunya ? Kemudian dimana akan melaksanakan Shalat .

Belum lagi pakaian yang aku kenakan, aku ragu kalau masih bersih. Rasanya malu menghadap Tuhan yang telah memberikan begitu banyak kenikmatan dalam kondisi seperti ini. Aku bersikeras, untung kawanku yang satu ini sangat toleran.

Spanyol meskipun memiliki empat musim sebagaimana negara-negara Eropa lainnya, akan tetapi perubahan iklimnya termasuk kategori moderat, sebagaimana negara-negara Eropa lain yang berada di wilayah Selatan yang menghadap Laut Mediterania, seperti Perancis, Italia, Yunani, dan Siprus.

Aku tidak bisa membayangkan dinginnya wilayah yang berada di bagian Utara seperti di negara-negara Scandinavia, Rusia, dan Canada tentu lebih dingin lagi, yang memaksa mereka harus mengganti ban mobil yang lebih menggigit, karena jalan yang ditimpa salju menjadi sangat licin dan berbahaya. Bahkan di tempat-tempat tertentu, ban mobil harus dilengkapi dengan rantai agar bisa bergerak.

Baca juga
Omicron Terdeteksi di Semakin Banyak Negara

- inilah.com

Tapi hikmah dari keadaan alam seperti ini, memaksa bangsa Eropa untuk mengatur kapan harus menanam kemudian menyimpan hasilnya, mengingat di musim dingin mereka tidak bisa bercocok tanam.

Mereka juga harus belajar bagaimana mengawetkan makanan yang bisa bertahan cukup lama. Akibat semua ini bangsa Eropa memiliki budaya lebih terencana, lebih teratur, lebih disiplin, dan lebih efisien dibanding bangsa-bangsa yang dimanjakan oleh alamnya yang subur dan bisa ditanami sepanjang tahun.

Sebaliknya kita yang hidup di wilayah tropis yang sangat dimanjakan oleh alam, semua tempat bisa ditanami sepanjang tahun membuat kita malas dan terlena.

Hidup terlalu dimanjakan oleh alam membuat kita menjadi kurang pandai bersyukur, dalam pengertian tidak memanfaatkan anugrah Allah yang sangat besar sebagaimana mestinya. Semua ini membuat kita kalah atau tertinggal di dalam kompetisi di tingkat global dalam berbagai bidang.

Saat ini ketika taraf ekonomi bangsa-bangsa di Barat sudah tinggi, dengan modal kerja keras dan disiplin tinggi, mereka mampu menabung untuk digunakan berlibur dan bersenang-senang ke negara-negara tropis.

Meskipun karena kemajuan sain dan teknologi mereka dapat bekerja dan bercocok tanam di musim dingin, akan tetapi musim dingin membuat ruang gerak mereka terbatas dan musim dingin juga membuat energi yang diperlukan menjadi berlipat ganda, disamping musim dingin menjadi siksaan tersendiri. Bagi kita mungkin salju sebagai tanda kemewahan, keindahan, dan kenikmatan, akan tetapi bagi mereka yang tinggal di wilayah yang memiliki empat musim justru memiliki makna sebaliknya.

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar