Minggu, 14 Agustus 2022
16 Muharram 1444

Di depan Jokowi, KH Miftachul Akhyar Ungkap Jati Diri Nahdlatul Ulama

Rabu, 22 Des 2021 - 13:32 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Ahyar, saat berpidato dalam pembukaan Muktamar ke-34 NU di Lampung, Rabu (22/12/2021).- inilah.com
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Ahyar, saat berpidato dalam pembukaan Muktamar ke-34 NU di Lampung, Rabu (22/12/2021).

Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menjelaksan bahwa jati diri Nahdlatul Ulama (NU) serta kekuatannya sangatlah besar. Namun, selama ini banyak warga Nahdlatul Ulama yang hanya memosisikan diri sebagai jamaah, belum ber-jam’iyah (menjadi bagian dari organisasi NU).

“NU sudah mendunia, sifat membebek, grudak gruduk, dan latah harus segera dienyahkan. Jangan sampai nantinya warga tercerai berai hanya karena kepentingan-kepentingan sesaat. Mereka harus mengikuti satu komando, yang dikomando dari PBNU dan didukung oleh para mustasyar,” katanya.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Miftah dalam pembukaan Muktamar ke-34 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Darussa’dah, Gunung Sugih, Lampung Tengah, Lampung, Rabu (22/12/2021).

Menurut Kiai Miftah, men-jam’iyah-kan jamaah dengan segala potensinya yang berkekuatan raksasa ini, menjadi pekerjaan rumah terpenting dari sekian pekerjaan rumah yang lain.

“Sebab, potensi raksasa ini, kalau tidak dikelola dengan baik dan benar, justru akan menjadi beban dan terpecah belah. Menjadi bulan-bulanan dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok lain,” ujarnya.

Baca juga
PDIP Jawa Barat Minta Arteria Dahlan Dipecat

Kiai Miftah juga mengingatkan, saat ini, dunia telah memasuki era Revolusi Industri 4.0. Ia mengajak masyarakat, khususnya warga NU, untuk merenungkan dan merekontekstualisasi (إعادة النظر) apa yang salah dan apa yang benar dari perjalanan kita selama ini.

“Marilah kita renungkan juga nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para pendahulu kita dalam bingkai trilogi ukhuwah. Yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan internal umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah insaniyah/basyariyah (persaudaraan kemanusiaan). Kita bisa tambahkan juga ukhuwah nahdliyah di dalamnya,” katanya.

Menurut Kiai Miftah, sapaan akrabnya, nilai-nilai itu bisa menjadi cerminan moral yang prima, agar dampak negatif pergeseran tatanan dunia tidak begitu berpengaruh dalam perjalanan anak bangsa di era Revolusi Industri 4.0 dan dalam rangka meraih manfaat bonus demografi. Ia berharap, bonus demografi bukan justru menjadi musibah demografi.

Baca juga
Basuki, Menteri Kesayangan Jokowi

“Kalau era Revolusi Industri 4.0 dianggap menjadi tanda meningkatnya peradaban kemanusiaan, maka kita harus mengimbanginya dengan 4G,” ujarnya.

Maksud dari 4G itu adalah (1) grand idea, yaitu, visi-misi Nahdlatul Ulama sebagai instrumen untuk menyatukan langkah, baik ulama struktural maupun kultural; (2) grand design. Berupa program-program unggulan yang terukur; (3) grand strategy dengan mengintensifkan penyebaran inovasi yang terencana, terarah dan dikelola dengan baik, serta distribusi kader-kader terbaik NU ke ruang-ruang publik yang tersedia; dan (4) grand control, yaitu sistem dan gerakan Nahdlatul Ulama harus bisa melahirkan garis komando secara organisatoris dari PBNU sampai kepengurusan di tingkat anak ranting.

Baca juga
Luhut Dapat Baret Kehormatan Hidrografi Oseanografi TNI AL

Presiden Jokowi membuka secara resmi Muktamar Ke-34 NU, ditandai dengan pemukulan rebana bersama Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dan Gubernur Provinsi Lampung Junaidi.

Tinggalkan Komentar