Selasa, 07 Februari 2023
16 Rajab 1444

Dibuat Sengsara Suku Bunga The Fed, Bos BI Punya Ramalan Begini

Senin, 05 Des 2022 - 23:12 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo membuka talkshow Birama (BI Bersama Masyarakat) di Jakarta, Senin (5/12/2022). (Foto: Antara).

Saat ini, seluruh mata pejabat bank sentral di dunia tertuju kepada bank sentral AS, The Fed. Seberapa besar The Fed mengerek suku bunga demi menurunkan inflasi di AS.

Dalam seminar hybrid yang digelar Indef, Jakarta, Senin (5/12/2022), Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo punya ramalan yang mudah-mudahan cespleng. Pada kuartal I-2023, dia memerkirakan suku bunga acuan di AS atau Fed Fund Rate (FFR) terkerek maksimal di level 5 persen.

Namun apabila risiko yang lebih tinggi, The Fed bisa mengerek suku bunga acuan menjadi 5,25 hingga 6 persen. “Peningkatan suku bunga The Fed akan bertahan sepanjang 2023. Untuk baseline dengan puncak suku bunga The Fed sebesar 5 persen, paling cepat turun menjadi 4,75 persen pada akhir 2023,” kata Perry.

Baca juga
Lewat RUU PPSK, BI dan OJK Ingin Rebut Pengawasan Aset Kripto dari Bappebti

Dengan peningkatan suku bunga acuan The Fed, ia memperkirakan penguatan mata uang dolar AS akan berlanjut pada 2023 sehingga memberi tekanan terhadap nilai mata uang hampir seluruh negara di dunia, termasuk rupiah.

“Dolar pernah mencapai 114 indeksnya terhadap mata uang asing, menguat kurang lebih sebesar 25 persen (yoy), beberapa minggu ini mulai melemah indeks dolar sekitar 106,” katanya.

Ke depan penguatan dolar AS akan bergantung pada inflasi, kenaikan suku bunga The Fed, dan bagaimana The Fed akan menyeimbangkan kenaikan suku bunga acuan dengan risiko resesi.

Hanya saja menurut Perry nilai tukar rupiah akan tetap kuat pada 2023 didukung oleh perekonomian nasional yang tetap tumbuh sekitar 4,7 sampai 5,3 persen.

Baca juga
Hari Keempat, Harga Emas Keok 10 Dolar AS Terseret Prospek Kenaikan Suku Bunga

Sepanjang 2022, Bank Indonesia juga telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga nilai tukar rupiah untuk menahan imported inflation sehingga depresiasi nilai tukar rupiah hanya mencapai sekitar 9 persen.

“Ini lebih rendah dari penguatan dolar AS yang rata-rata hampir mencapai 20 persen. Ini hasil dari sinergi fiskal dan moneter untuk mengendalikan inflasi dari gejolak harga inflasi pangan dan global,” ucapnya.

 

Tinggalkan Komentar