Rabu, 29 Juni 2022
29 1444

Dicurhati Menkeu Turki Soal Inflasi 74 Persen, Sri Mulyani Goyah Juga

Selasa, 07 Jun 2022 - 19:44 WIB
Dicurhati Menkeu Turki Soal Inflasi 74 Persen, Sri Mulyani Goyah Juga
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Sumber: PinterPolitik).

Dalam pertemuan tahunan Islamic Development Bank (IsDB) di Sham El Sheik, Mesir, beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani bertemu Menteri Keuangan Turki dan Mesir. Setelahnya, Sri Mulyani jadi was-was.

Ya, lantaran Menkeu Turki Nureddin Nubeti curhat kepada Sri Mulyani tentang kondisi makroekonomi negerinya yang boleh dibilang sedang berat. Khususnya angka inflasi yang melejit hingga 74 persen.

“Menteri Keuangan Turki [Nureddin Nubeti] mengatakan inflasi di dalam negerinya 74 persen. Bayangkan Indonesia 3,55 persen. Mereka mengatakan bahwa harga-harga energi tidak di absorb sehingga pass through langsung naik ke atas. Harga-harga pangan meningkat,” kata Sri Mulyani saat rapat dengan Rapat Kerja Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Jakarta, Selasa (7/6/2022).

Baca juga
Pemerintah Jamin 256 Program Infrastruktur Senilai Rp490,2 Triliun

Sri Mulyani mengatakan, kenaikan harga bahan pangan dan energi, melahirkan inflasi tak terkendali di sejumlah negara. Di Indonesia tidak semua harga barang bisa ditahan, atau dikendalikan.

“Indonesia harus melihat guncangan ini didalam konteks apa yang harus kita amankan. Yang perlu kita amankan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat. Kita ingin tidak hanya ekonomi pulih tetap masyarakat kondisinya membaik,” ujar Sri Mulyani.

Upaya menjaga daya beli masyarakat, kata dia, bukan sesuatu hal yang mudah. Karena berpotensi menimbulkan implikasi terhadap keuangan negara. Semisal, ketika pemerintah berupaya keras menahan kenaikan harga, maka subsidi bakalan bengkak alias overun.

Baca juga
Sri Mulyani Optimis Harga Tanah Ibu Kota Negara Naik Signifikan

“Oleh karena itu, melindungi daya beli memang masyarakat memang menimbulkan implikasi kebijakan bahwa harga sedapat mungkin harga kita tahan, tapi tidak semuanya bisa kita tahan. Ini berarti subsidi akan melonjak akan tinggi,” jelasnya.

Dia bilang, kenaikan harga tidak hanya berdampak kepada inflasi. Namun juga berimbas kepada melebarnya defisit anggaran. Di Mesir yang kaya gas alam, defisit anggaran terus melebar.

“Saya bicara dengan Menkeu Mesir mereka merasakan harga minyak naik, meski mereka punya gas. Kenaikan yang sangat ekstrim. Harga energi mereka masih absorb, sehingga harga BBM mereka sama dengan Indonesia. Namun subdisinya melonjak sekali. Defisit APBN Mesir 6 persen. Ini memberikan perbandingan bahwa semua konsekuensinya terjadi di banyak negara,” ungkapnya.

Baca juga
Muncul Varian Baru Omicron, Sri Mulyani Ketar-ketir Perekonomian 2022 Ambyar

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar