Kamis, 02 Februari 2023
11 Rajab 1444

Didorong Jadi Cawapres, KSAD Dudung Berani Langkahi Panglima Andika

Selasa, 20 Sep 2022 - 11:21 WIB
KSAD Jenderal Dudung Abdurachman. (Foto: Istimewa)
KSAD Jenderal Dudung Abdurachman. (Foto: Istimewa)

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Dudung Abdurrahman dinilai telah melampaui kewenangan dan berani melangkahi Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.

Menurut Analis Pertahanan dan Militer, Connie Rahakundini, keberanian Dudung seolah berada di atas Panglima karena dibekali motif politik karena adanya dorongan menjadi calon Wakil Presiden dari salah satu partai.

Sehingga, Dudung dikategorikan sebagai Kepala Staf AD yang merasa wajar melampaui Panglima TNI. “Kok wani ya kepala staf bertindak melampaui panglimanya? Oh rupanya ada satu partai yang mendorong Pak Dudung menjadi cawapres, tapi belum di-announce nih, kalau Pak Andika kan sudah, jadi di mata saya mungkin ini yang menjadi Dudung Kepala Staf rasa Panglima,” jelasnya.

Baca juga
Dukungan Terhadap Ganjar-Erick Terus Diperbincangkan di Media Sosial

Dia mengatakan, pengusungan nama Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa di bursa calon Presiden oleh Partai NasDem membuat KSAD Dudung tak mau kalah. Apalagi, ia telah mengantongi dukungan menjadi cawapres.

Untuk itu, Dudung merasa posisinya setara dengan Panglima Andika dan bertindak melampaui tugasnya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

“Kalau panglimanya jadi capres atau cawapres, posisi dia juga sama kok itu kenapa, makanya jangan tarik-tarik prajurit TNI aktif ke politik, ini bahayanya,” ungkap dia.

Maka, Connie meminta partai politik untuk memperbaiki tatanan dan proses kaderisasi di internal partai, sehingga tidak menarik-narik perwira tinggi TNI aktif untuk masuk ke ranah politik karena akan menimbulkan permasalahan.

Baca juga
Diusulkan PKS Jadi Cawapres, Aher Dinilai Punya Segudang Prestasi

“Akan berbahaya bila partai tak bisa melakukan kaderisasi yang baik, sehingga Anda tidak boleh menarik-narik prajurit perwira apalagi pati aktif,” tegasnya.

Terlebih, jiwa kesetiaan dan pengabdian seorang prajurit TNI terhadap negara dijadikan tameng untuk membujuk para Pati TNI untuk terjun gelanggang di pertarungan politik.

“TNI ditarik-tarik, jadi kan TNI itu sumpahnya setia kepada negara. Ketika Anda kepala staf dan negara memanggil Anda, apakah bentuknya dari partai atau dari manapun mereka merasa harus hadir di situ,” terangnya.

Tinggalkan Komentar