Senin, 15 Agustus 2022
17 Muharram 1444

Dolar AS Ngamuk, Prof Didik: Ekonomi Indonesia Sedang Tak Baik-baik Saja

Selasa, 05 Jul 2022 - 21:26 WIB
Dolar Ngamuk, Prof Didik: Ekonomi Indonesia Sedang Tak Baik-baik Saja
Ekonom Senior, Prof Didik J Rachbini.

Ekonom senior Prof Didik J Rachbini menyebut perekonomian Indonesia sedang tak baik-baik saja. Masih rentan krisis di tengah ambruknya rupiah terhadap dolar AS.

“Jangan sebut perekonomian saat ini normal. Lha wong, sedang tak baik-baik saja. Semuanya harus jaga-jaga. Bank sentral AS naikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Dampaknya pasti ke Indonesia. Sampai kapan? tidak ada yang tahu. Semuanya hanya bisa memperkirakan,” papar Prof Didik kepada Inilah.com, Jakarta, Selasa (5/7/2022).

Dampak dari suku bunga tinggi di negeri Paman Sam, lanjut Rektor Universitas Paramadina ini, membuat arus dana asing keluar dari Indonesia, begitu tingginya. Akibatnya, Indonesia kekurangan dolar AS yang selama ini digunakan dalam perdagangan berbagai komoditas. “Untung Indonesia punya CPO, batu bara dan karet yang harganya sedang bagus. Kalau enggak, ya babak belur juga,” ungkapnya.

Pria kelahiran Pamekasan (Madura), 2 September 1960 ini, mengibaratkan perekonomian Indonesia sebagai tubuh manusia yang sedang tidak fit. Harus berada di cuaca yang buruk. “Sehingga ya jangan keluar malam atau begadang. Tidurnya pakai baju hangat atau selimutan,” kata mantan Anggota DPR asal PAN ini.

The Business Times mencatat, arus modal asing keluar (capital outflow) dari tujuh pasar saham di Asia, pada kuartal terakhir, menembus US$40 miliar. Atau setara Rp599,4 triliun (kurs Rp14.985/US$). Lebih tinggi ketimbang 2007. Tujuh negara yang dimaksud adalah India, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand.

Baca juga
Dolar AS Meroket ke Level Tertinggi Lima Pekan setelah Keputusan The Fed

Masih kata Prof Didik, pemerintah maupun swasta perlu menghemat dolar AS. Caranya, sektor swasta dan pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor. Ganti bahan baku yang biasanya diimpor dengan produk lokal, serta penghematan cadangan devisa (cadev). ‘Satu hal lagi soal inflasi. Apalagi pemerintah sudah keluarkan Rp502 triliun untuk subsidi. Ini perlu jalan keluar,” ungkapnya

Di sisi lain, dirinya tak setuju apabila Bank Indonesia (BI) serampangan dalam penyesuaian suku bunga acuan. Ketika suku bunga naik maka sektor riil akan terkena efeknya. “BI itu seperti palng pintu. Kalau suku bunga naik, BI-nya selama tapi sektor riil babak belur,” imbuh prof Didik.

Baca juga
Mi Instan Dikonsumsi 20 Persen Rakyat Indonesia, DPR Usulkan Ada Subsidi

Sri Mulyani Tetap Pede
Diterpa gonjang-ganjing rupiah yang mendekati Rp15.000/US$, Menteri Keuangan Sri Mulyani tetap saja yakin ekonomi Indonesia jauh dari krisis ekonomi. Alasannya, fundamental ekonomi Indonesia cukup baik. Dari sisi neraca transaksi berjalan, mencatatkan surplus pada 2021, didukung perbaikan terms of trade akibat kenaikan harga komoditas, dan kembali mencatatkan surplus pada triwulan I-2022.

Cadangan devisa pada akhir Mei 2022 juga masih aman, sekitar US$135,6 miliar, setara dengan lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta jauh di atas utang luar negeri Indonesia yang jatuh tempo dalam satu tahun.

Hanya saja Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan dengan agresif, sehingga lebih menarik di mata investor. Pelemahan nilai tukar juga dialami oleh banyak negara lain, bahkan lebih buruk.

Baca juga
Mulai Wamenlu, Petinggi Bursa Hingga Eks Dirut MIND ID Kebelet Jadi Bos OJK

“Capital flow barang kali yang terjadi, dengan rate fed maka orang mencari tempat di mana orang menganggap interest ratenya lebih tinggi. Ini semua yang harus kita kelola dalam mengelola baik 2022 maupun 2023,” paparnya.

Padahal, Indonesia menjadi negara yang paling banyak ditinggal pemodal asing di pasar obligasi. Total dana asing yang minggat mencapai US$ 3,1 miliar pada kuartal lalu.

Tinggalkan Komentar