Jumat, 02 Desember 2022
08 Jumadil Awwal 1444

DPR Minta Taspen Terus Tingkatkan Kinerja Agar Bisa Terus Tumbuh

Kamis, 15 Sep 2022 - 20:17 WIB
Penulis : Ajat M Fajar
DPR Minta Taspen Terus Tingkatkan Kinerja Agar Bisa Terus Tumbuh
Direktur Utama PT Taspen, ANS Kosasih dalam Raker dengan Komisi VI DPR/foto:ist

Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza mengapresiasi catatan apik PT Taspen yang mampu membukukan laba di tengah krisis. Bahkan aset PT Taspen juga terus tumbuh secara konsisiten setiap tahunnya.

“Kami mengapresiasi capaian kinerja Taspen yang assetnya tetap tumbuh secara konsisten dan tetap mampu membukukan laba di tengah krisis yang melanda perekonomian Indonesia,” ujar Faisol dalam Rapat Kerja di DPR, Kamis (15/9/2022).

Dia mengatakan, Komisi VI DPR mengapresiasi pengelolaan investasi dan operasional Taspen yang hingga saat ini telah menerapkan Tata Kelola Perusahaan yang baik. Untuk itu, DPR meminta kepada PT Taspen terus meningkatkan dan mempertahankan kinerja positifnya saat ini.

“Kami berharap Taspen terus mempertahankan dan meningkatkan kinerja perusahaan, agar semakin mampu memaksimalkan pelayanan kepada para peserta melalui beragam program inovasi. Tentu, semuanya tetap harus memperhatikan prinsip kehati-hatian dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Taspen, A.N.S. Kosasih mengatakan sebagai BUMN, Taspen akan terus menerapkan dan mematuhi tata kelola perusahaa yang sudah tertuang dalam aturan Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca juga
Pendapatan Terbesar Telkom Berasal dari Layanan Konektivitas

Menurutnya aturan tersebut menjadi acuan dari Taspen dalam melaksanakan investasi dan pengeloaan bisnis. Selain itu, Taspen juga selalu memberikan laporan pengelolaan dana investasi kepada Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan OJK secara periodik.

“Serta dilakukan juga audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI). Ke depan, kami akan terus menjalankan prinsip GCG guna memberikan imbal hasil investasi yang maksimal melalui penerapan sistem operasional perusahaan yang transparan,” kata Kosasih.

Pengelolaan Investasi Taspen Selalu Diaudit BPK

Dia menjelaskan, seluruh kinerja PT Taspen, khususnya di bidang pengelolaan investasi dan operasional, senantiasa dilakukan audit oleh BPK. Beberapa hal yang diaudit, antara lain sistem pengelolaan Program Pensiun, Program Asuransi (Tabungan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kinerja, Jaminan Kematian), investasi, pendapatan, dan biaya operasional. Berdasarkan hasil audit tahun 2018, 2019, 2020, dan 2021.

Baca juga
Adhi Commuter Properti Kempit Laba Bersih Rp37,6 Miliar di Semester I-2022

Dalam audit BPK menyimpulkan bahwa pengelolaan seluruh investasi dan program Taspen telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, peraturan internal, dan perjanjian kerjasama dalam semua hal yang material.

“Tidak pernah ditemukan kerugian negara akibat kegiatan investasi dan bisnis PT Taspen,” terangnya.

Saat ini, sebesar 72.89 persen Portofolio Investasi Taspen berupa instrumen Obligasi dan Sukuk yang sebagian besar merupakan Obligasi dan Sukuk Negara Republik Indonesia, sebesar 12,21 persen ditempatkan di deposito Bank BUMN dan BPD berskala besar.

Selain itu, sebesar 8,10 persen perusahaan tempatkan dalam reksadana yang tercatat di OJK dan 4,60 persen berada di instrumen saham BUMN dan blue chip yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Sementara, 2,20 persen sisanya perusahaan tempatkan sebagai modal di anak perusahaan/afiliasi Taspen.

Baca juga
Melonjak 63,2 Persen, BNI Kantongi Laba Bersih Rp3,96 Triliun di Triwulan I-2022

Sebagi informasi, PT Taspen (Persero) mencetak laba bersih Rp 391,61 miliar, susut 46 persen secara year on year (yoy) pada akhir 2021. penyusutan laba ini karena pembayaran manfaat yang meningkat tajam, sedangkan premi dan hasil investasi belum mendongkrak laba.

Direktur Utama Taspen A N S Kosasih menyatakan, perusahaan berhasil membukukan laba dalam empat tahun terakhir. Pada 2018 perolehan laba sebesar Rp 271,55 miliar, meningkat menjadi Rp 394,91 miliar pada 2019, lalu naik menjadi Rp 731,42 miliar pada 2020. Namun, pada tahun lalu susut menjadi Rp 391,61 miliar.

Tinggalkan Komentar