Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

Drama dan Seteru Ganjar Pranowo di Kandang Banteng Moncong Putih

Senin, 24 Okt 2022 - 13:25 WIB
Penulis : Wiguna Taher
Jika Jokowi Jadi King Maker, Begini Nasib Pemilu 2024
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Presiden Joko Widodo (Foto: Istimewa)

Banyak pihak mencurigai hal ini sebagai gimmick politik. PDIP seolah sengaja membiarkan Puan dan Ganjar berseteru dan melakukan kerja-kerja politik. Tujuannya tak lain adalah untuk mendongkrak elektabilitas mereka. Pada akhirnya PDIP akan mengusung Ganjar sebagai calon presiden karena hingga saat ini elektabilitas Ganjar jauh mengungguli Puan.

Sepekan belakangan halaman media massa kita dihiasi narasi perseteruan Gubenur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan induk semangnya PDI Perjuangan (PDIP). Sejumlah fungsionaris partai banteng moncong putih sepertinya meradang.

Gara-garanya, Ganjar dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi swasta menyatakan jika didukung PDIP, dia siap menjadi calon presiden pada pemilu 2024 mendatang. PDIP menuding ambisi Ganjar menjadi capres sudah keterlaluan, tak segaris lurus dengan Ketua Umum PDIP Megawati yang menginginkan Puan yang maju sebagai capres.

“Kalau untuk bangsa dan negara apa sih yang kita tidak siap. Ketika partai kemudian sudah membahas secara keseluruhan dan dia akan mencari anak-anak bangsa yang menurut mereka terbaik, menurut saya semua orang mesti siap akan hal itu,” kata Ganjar, Selasa (18/10).

Setelah berita ini ramai di media, Ganjar seolah menghindar setiap ditanya lebih jauh soal kesiapannya jadi capres.

“Capres opo? Wong aku iki PDI Perjuangan. Nggon PDI Perjuangan capres kui urusane Bu Mega (Capres apa? Aku ini PDI Perjuangan. Di PDI Perjuangan capres itu urusannya Bu Mega),” kata Ganjar kepada wartawan di sela pembukaan Kabupaten Semarang Expo, Kamis, (20/10/2022).

Kabeh wis reti, kui urusane Bu Mega (Semua sudah tahu, urusan capres adalah urusan Bu Mega). Wis (sudah) keputusan kongres,” sambung Ganjar.

Kesiapan ini tak urung membuat para relawan Ganjar seperti mendapat angin segar. Relawan yang tergabung dalam Ganjar Pranowo (GP) Mania menilai pernyataan ini menyiratkan dukungan dari Ketua Umum PDIP Megawati. Apalagi Ganjar dipandang sebagai sosok kader yang taat sehingga tidak mungkin melangkahi Sang Ketua Umum.

“Kami senang atas sinyal halus yang diberikan Ibu Megawati melalui kader terbaik Ganjar Pranowo. Elektabilitas PDIP akan meningkat juga,” kata Ketua Relawan GP Mania Immanuel Ebenezer dalam keterangannya, Rabu, 19 Oktober 2022.

Ganjar juga mendapatkan dukungan dari Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudiyamo (Rudy). Pendukung “garis keras” Ganjar ini bahkan siap menerima konsekuensi atas keputusannya mendukung Ganjar. Mulai disanksi PDIP, dikucilkan bahkan dibui. “Saya itu sudah siap 3D. Siap dibuang, siap dibunuh karakternya, siap dibui.” kata FX Rudy.

Baca juga
Mendagri Tito Lantik Pejabat Kementerian hingga Teman Angkatan jadi Pj Gubernur

Para pendukung Ganjar boleh saja berandai andai. Tetapi realitasnya seteru Ganjar dengan PDIP ini belum mereda. Persaingan Puan dengan Ganjar sudah mengemuka ke ruang publik sejak lama. Puan misalnya, terang-terangan tak mengundang Ganjar ke acaranya di Semarang.

Ganjar juga pernah dikritik habis-habisan soal safari politiknya ke daerah. Politikus PDIP Trimedya Panjaitan menuding Ganjar terlalu gamblang menampilkan syahwat politik dengan melakukan sejumlah safari ke berbagai wilayah di Indonesia. Di antaranya ke Papua, Medan dan Makassar.

PDIP juga menyentil deklarasi relawan-relawan Ganjar. Bahkan, Ketua Bappilu PDIP Bambang Wuryanto menyebut para deklarator capres tersebut sebagai celeng. Pernyataan ini memantik gejolak di internal PDIP. Pendukung Ganjar menyebut Bambang Wuryanto dan kelompoknya dengan sebutan bebek.

Yang paling baru adalah larangan bagi kader PDIP bebicara tentang capres. Ganjar dan FX Hadi Rudyanto pun segera dipanggil Dewan Kehormatan DPP PDIP untuk dimintai klarifikasi.

“Pak Ganjar pun akan kami lakukan klarifikasi terkait pernyataannya,” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Minggu (23/10/2022).

Selain itu, PDIP juga akan memberikan sanksi organisasi kepada FX Rudy karena bicara ke media terkait capres dan dukungannya terhadap Ganjar. “Kami melakukan hal yang sama karena hukum harus berkeadilan di PDI Perjuangan sehingga Pak Rudy pun juga akan kami tegakkan disiplin organisasi,” jelas Hasto.

Gimmick Politik

PDIP sepertinya tak mau belajar dari sejarah ketika Megawati bertarung melawan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada pilpres 2004. Kala itu SBY diposisikan sebagai pihak yang terzalimi dan dianggap sebagai “anak kecil”. Hasilnya, SBY melenggang ke Istana.

Dalam kasus Ganjar pun bisa jadi demikian. Semakin Ganjar ditekan, semakin dianaktirikan, dan semakin dia dicari cari kesalahannya, justru akan menarik simpati publik. Ganjar dalam beberapa survei selalu mendapat respon positif dan selalu masuk ke dalam tiga besar.

Sebaliknya, Puan malah banjir kritik. Apa pun yang dilakukan Puan cenderung mendapat respon negatif. Upaya untuk mendongkrak elektabilitas Puan dengan memasang billboard dan lain lain, masih belum berbuah manis.

Banyak pihak mencurigai hal ini sebagai gimmick politik. PDI-P seolah sengaja membiarkan Puan dan Ganjar berseteru dan melakukan kerja-kerja politik. Tujuannya tak lain adalah untuk mendongkrak elektabilitas mereka. Pada akhirnya PDI-P akan mengusung Ganjar sebagai calon presiden karena hingga saat ini elektabilitas Ganjar jauh mengungguli Puan.

Baca juga
Jokowi Bagi-bagi Sertifikat Tanah dan BLT di Sumut

Hal ini paling tidak sejalan dengan pandangan CEO PollMark Indonesia Eep Saefullah Fatah. Dia menilai, sulit bagi Ganjar untuk berkhianat terhadap PDIP, sebab karir politik Ganjar akan menjadi taruhannya. “Kalau Ganjar berkhianat 2024 terhadap partainya, selesai dia,” kata Eep dalam diskusi yang digelar inilahcom, 5 Oktober 2022 lalu.

Menurut Eep, Ganjar bakal kehilangan kesempatan berpolitik apabila keluar dari PDIP. Terlebih, jika kalah dalam Pilpres 2024.

“Kalau (Ganjar) menang, lain cerita. Kalau kalah, selesai. Karena ketika kemudian era Megawati berakhir, nama Ganjar tidak ada di dalam bursa. Pada saat itulah dinamisasi PDIP terjadi dan Ganjar kehilangan hak moral dan hak politik untuk terlibat di dalamnya,” ujar dia.

Karena itu, lanjut Eep, satu-satunya jalan Ganjar menuju capres di 2024 ialah melalui pengusungan oleh Ketua Umum PDIP Megawati. “Maka Ganjar akan jadi kandidat kalau Bu Mega yang mengajukannya. Ini pikiran saya. Maka dengan demikian, membayangkan Puan melawan Ganjar tidak realistis secara politik,” ucapnya

Justru, Eep melihat kemungkinan Ganjar dipasangkan dengan Puan maju sebagai capres dan cawapres. Entah Ganjar atau Puan yang menjadi capres-nya. “Tetapi kalau membayangkan Ganjar ada di luar kubu PDI Perjuangan agak sulit,” pungkas Eep.

Ganjar Minim Prestasi

Kemilau elektabilitas Ganjar di angka angka survei bukan tanpa catatan. Pihak pihak yang berseberangan dengan Ganjar dengan nyaring mempertanyakan apa prestasi Ganjar. Bahkan Puan Maharani dalam suatu kesempatan menyindir Ganjar dengan sebutan capres modal ganteng yang hanya tampil di televisi dan media sosial, tetapi enggan menyapa rakyat dan minim prestasi.

Apa yang dituduhkan Puan dibenarkan pengamat politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga. “Kritik terhadap Ganjar memang masuk akal. Sebab, selama menjadi Gubernur Jawa Tengah tidak ada prestasi spektakuler yang dihasilkannya,” kata Jamiluddin kepada wartawan di Jakarta , Minggu 1 Mei 2022 lalu.

Jamil bahkan sepakat dengan Puan, bahwa tidak semestinya Ganjar melakukan pencitraan, terlebih banyak rakyat Jawa Tengah sebagai penyumbang angka kemiskinan yang cukup tinggi dibandingkan provinsi lain.

Jumlah penduduk miskin di Jateng berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Maret 2022 tercatat 3,83 juta jiwa (10,93%). Meskipun berkurang dibanding periode yang sama tahun 2021, namun persentase penduduk miskin di Jateng masih di atas rata rata nasional yaitu sebesar 9,54 persen.

Baca juga
Aipda Sofyan, Sosok Teladan yang Gugur Imbas Bom di Polsek Astana Anyar

Hal lain yang sempat mencuat ke publik adalah dugaan keterlibatan Ganjar dalam kasus e-KTP dengan terpidana mantan Ketua DPR Setya Novanto.

Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat Kamis 8 Februari 2018 silam, Setya Novanto menyebut Ganjar Pranowo turut menerima aliran dana proyek e-KTP.

Menurut Setya Novanto, informasi bahwa Ganjar menerima duit e-KTP senilai 500 ribu dolar Amerika didapatnya dari mantan anggota Komisi II DPR dari Fraksi Golkar, Mustokoweni Murdi, politikus Hanura Miryam S Haryani, dan terpidana e-KTP, Andi Agustinus alias Andi Narogong.

“Yang pertama pernah Mustokoweni saat ketemu saya menyampaikan uang dari Andi untuk dibagikan ke DPR dan itu disebut namanya Pak Ganjar,” kata Setya Novanto.

Adanya pemberian uang itu diperkuat dengan pengakuan Andi kepada Setya. Saat menyambangi rumah Setya Novanto, Andi mengaku telah memberikan uang untuk beberapa politikus di Komisi II DPR, termasuk Ganjar Pranowo.

Belakangan KPK menyatakan, tidak cukup bukti untuk menjerat Ganjar dalam kasus e-KTP.

Kasus lain yang juga selalu diungkit adalah kekerasan terhadap warga Wadas yang menolak penambangan batu andesit untuk proyek strategis nasional (PSN) Bendungan Bener sejak 2016. Penolakan tersebut kerap mendapat tekanan dari aparat kepolisian.

Pada Selasa 8 Januari 2022, ribuan aparat kepolisian dengan senjata lengkap dikerahkan menyerbu Desa Wadas. Mereka mencopot banner penolakan Bendungan Bener dan mengejar warga sampai ke hutan. Akibatnya 64 orang ditangkap, beberapa di antaranya merupakan anak-anak dan orang lanjut usia.

Pelbagai elemen masyarakat sipil, seperti PBNU, Muhammadiyah hingga KontraS mengkritik keras langkah yang diambil kepolisian tersebut. Ganjar sendiri sudah minta maaf kepada warga Wadas yang menurutnya mungkin tidak nyaman.

Wiguna Taher (Pemimpin Redaksi Inilah.com)

 

Tinggalkan Komentar