Dualisme Kepemimpinan, Kemenpora Diminta Bekukan PTMSI

Dualisme Kepemimpinan, Kemenpora Diminta Bekukan PTMSI - inilah.com
Founder Mumtaz Fondation, Mumtaz Rais

Fouder Mumtaz Foundation, Mumtaz Rais mengatakan diselenggarakannya turnamen tenis meja UAH Super Series 2021 sebagai bentuk kepeduliannya kepada para atlet tenis meja di Indonesia karena tidak bisa tampil di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua karena adanya dualisme kepemimpinan di Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI).

“Ustadz Adi bersama Mumtaz foundation dan UAH institute yang digawangi ustadz Adi akhirnya menginisiasi untuk menggelar turnamen ini untuk mengobati rasa rindu dan gelisah itu tadi, atas absennya cabor tenis meja di PON kemarin,” kata Mumtaz kepada INILAHCOM, Sabtu (23/10/2021).

Dia mengaku prihatin dengan konflik yang terjadi di induk cabang olahraga (cabor) tenis meja Indonesia. Sebab seharusnya para petinggi PTMSI bisa lebih bijak dan bisa segera menyelesaikan dualisme kepemimpinannya.

Baca juga  19 Negara Diizinkan Masuk Indonesia dengan Asas Resiprokal

“Atlet-atlet kita ini luar biasa loh tapi tidak bisa menyalurkan bakatnya dikancah nasional karena para orang tuanya ini tidak akur. Bahkan yang saya dengar bukan dualisme lagi tapi triolisme gitu. Mudah-mudah dalam waktu yang dekat ini segera disudahi,” harapnya.

Mumtaz berharap Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) turun tangan dan bisa ikut memediasi konflik kepengurusan PTMSI ini. Sebab sebelumnya Kemenpora juga sudah pernah melakukan hal yang sama saat Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengalami dualisme kepemimpinan.

“Mungkin bisa dilakukan cara yang sama ketika dulu menyelesaikan mengakhiri polemik yang di PSSI dengan cara membekukan terlebih dahulu kemudian kontemplasi, kemudian diskusi temukan  titik tengah. Saran saja. Sebagai orang yang bodoh kan kami hanya menyarankan hal-hal yang mudah,” katanya.

Baca juga  Pemerintah Perlu Tegas Bereskan Nasib Tenis Meja Nasional

Sebelumnya, konflik kepengurusan Pengurus Pusat Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) tak kunjung beres. Hal itu berimbas dengan tidak dikirimkannya atlet tenis meja ke SEA Games 2019 di Manila. Yang terakhir cabor Tenis Meja tak diikutsertakan dalam PON XX di Papua.

Dalam waktu empat tahun terakhir PTMSI terpecah jadi tiga. PTMSI yang diketuai Oegroseno, Lukman Eddy, dan Peter Layardilay mengklaim sebagai kepengurusan PTMSI yang sah periode 2018-2022. Peter sendiri menggantikan Tahir yang telah memilih mundur dari jabatannya.

Dualisme di PTMSI sendiri sudah muncul saat Lukman Edy terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) tahun 2016 lalu. Lukman Edy menggantikan mantan ketua DPR RI, Marzuki Alie.

Baca juga  Sejarah Haornas dan Momentum Kebangkitan Olahraga Indonesia

Saat itu sudah muncul PTMSI yang dipimpin oleh Oegroseno. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kala itu mengakui PTMSI pimpinan Lukman, namun induk organisasi tenis meja yang dipimpin Oegroseno baru saja memenangkan kasasi di tingkatan Mahkamah Agung.

Tinggalkan Komentar