Dugaan Data eHAC Bocor, Pakar Siber Nilai Pemerintah Lengah

Dugaan Data eHAC Bocor, Pakar Siber Nilai Pemerintah Lengah - inilah.com

Dugaan kebocoran data aplikasi Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Electronic Health Alert Card/eHAC) diperkirakan bisa terjadi akibat kelengahan dari pemerintah di sisi developer atau pengembang aplikasi tersebut.

Ketua lembaga riset siber Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha menjelaskan bahwa kelengahan dari developer ini bisa mengakibatkan pemilik akun eHAC bisa menjadi target profiling dan penipuan dengan modus covid terutama, seperti telemedicine palsu maupun semacamnya.

Menurut Pratama sense of urgency pemerintah untuk melindungi data penduduk Indonesia juga harus ditingkatkan.

“Bagi pemerintah, jelas ini meningkatkan ketidakpercayaan terhadap proses penanggulangan covid dan usaha vaksinasi, apalagi saat ini vaksinasi menjadikan aplikasi pedulilindungi sebagai ujung tombak, jadi pasti ada kekhwatiran datanya juga bocor, meski memakai eHAC yang berbeda sesuai penurutan Kemenkes,” jelasnya kepada INILAHCOM, Selasa (31/08/2021).

Baca juga  Indonesia Krisis Perlindungan Data Pribadi

Lebih lanjut Pratama meminta mulai saat ini semua instansi di bawah pemerintah wajib melakuka pengecekan berkala bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk melakukan audit digital forensic guna menutupi celah sistem keamanan siber.

“Amankan server yang dipakai dan buat protokol akses ke sistem yang aman, sehingga tidak sembarang orang bisa masuk,” ucapnya.

Pratama mengatakan penguatan sistem yang perlu ditingkatkan dengan melakukan sistem enkripsi dan adopsi teknologi utamanya untuk pengamanan data juga perlu dilakukan. Kata dia, Indonesia masih dianggap rawan akan peretasan karena memang kesadaran keamanan siber masih sangat rendah.

Baca juga  Digoda Madrid Rp2,7 Triliun, Mbappe Segera Tinggalkan PSG?

“Dalam kasus ini seperti sistem eHAC bisa bebas dimasuki dan diambil datanya karena benar-benar tidak secure dan tidak ada implementasi enkripsi, sehingga data yang diambil plain tidak diacak sama sekali,” pungkasnya.

Sebelumnya diketahui, VPN Mentor, situs yang fokus pada Virtual Private Network (VPN), melaporkan adanya dugaan kebocoran 1,3 juta data pada eHAC.

Data- data yang bocor tidak hanya sekadar data yang ada di KTP, tapi juga sampai menyentuh data hasil tes COVID-19, paspor, data rumah sakit dan klinik yang telah melakukan pengetesan pada pengguna, hingga data pembuatan akun eHAC.

Tinggalkan Komentar