Senin, 26 September 2022
30 Safar 1444

Edukasi Pencegahan Obesitas dengan Kontrol Asupan Garam

Sabtu, 29 Jan 2022 - 18:39 WIB
Edukasi Pencegahan Obesitas - inilah.com
istimewa

Edukasi pencegahan obesitas dengan pembudayaan gerakan masyarakat hidup sehat, salah satunya adalah kontrol asupan garam adalah hal yang penting dilakukan. Masyarakat harus bijak menggunakan garam agar tidak menimbulkan penyakit.

Menurut data Riskesdas terbaru pada tahun 2018 menunjukkan 21,8 persen masyarakat Indonesia mengalami obesitas.

Jika dibiarkan, diprediksi angka obesitas dapat mencapai 40 persen pada 2030, yang artinya hampir 1 dari setiap 2 orang dewasa di Indonesia akan mengalami obesitas.

Hari Gizi Nasional memasuki tahun ke-62 dan Kementerian Kesehatan mengkampanyekan aksi bersama cegah stunting dan obesitas.

Stunting dan obesitas adalah dua hal yang masih menjadi permasalahan dunia dan penting bagi seluruh keluarga Indonesia untuk memahaminya serta menerapkan pola makan teratur dan sehat dengan gizi seimbang.

Edukasi pencegahan obesitas sangat penting melihat kondisi ini dikaitkan dengan sejumlah penyakit, seperti lebih berisiko terkena tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

“Prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini mengisyaratkan bahwa masyarakat harus mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat. Salah satu kuncinya adalah menjaga asupan gizi seimbang dengan memerhatikan takaran gula, garam, dan lemak pada setiap masakan,” ungkap dr. Rafael Nanda R, MKK dalam Health Talk & Virtual Tour yang diadakan oleh Ajinomoto Visitor Center, ditulis di Jakarta, Sabtu, (29/01/2022).

Baca juga
Perlunya Vaksin Covid-19 untuk Kekebalan Tubuh

Manfaat garam

Garam memegang peranan penting dalam memberikan rasa lezat pada makanan. Garam juga memiliki berbagai manfaat bagi tubuh.

Manfaat garam atau sodium adalah menjaga keseimbangan cairan di tubuh, dan berperan dalam menjaga fungsi saraf serta otot.

Namun makanan dengan kandungan garam yang tinggi cenderung membuat orang makan berlebih sehingga mengarah pada obesitas dan penyakit lainnya seperti hipertensi.

Selain itu, konsumsi garam yang tinggi dapat menyebabkan tingginya kadar natrium di dalam darah.

Anjuran konsumsi garam menurut WHO

Badan kesehatan dunia, WHO (World Health Organization) menganjurkan batas konsumsi aman garam per hari untuk orang dewasa adalah maksimal 5 gram atau kurang dari satu sendok teh.

Baca juga
Sering Narsis Berarti Alami Gangguan Kesehatan Mental?

Karena itu, penting untuk menjaga asupan garam agar tubuh tetap mendapatkan manfaatnya tanpa menimbulkan berbagai risiko penyakit.

Menyadari pentingnya diet garam bagi kesehatan, Ajinomoto memperkenalkan kampanye Bijak Garam.

Grant Senjaya, Head of Public Relation Department PT AJINOMOTO INDONESIA menjelaskan, kampanye bijak garam tersebut bentuk edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya diet rendah garam.

Hal tersebut juga mengajak keluarga Indonesia untuk hidup lebih sehat dengan mengurangi asupan atau penggunaan garam dalam memasak.

Kendala sulit kurangi garam

Salah satu faktor kendala sulitnya mengurangi garam dalam masakan adalah membuat rasanya tetap lezat dan tidak hambar.

Kampanye Bijak Garam ini bisa menjadi solusi cermat dalam mengurangi penggunaan garam dalam setiap masakan dengan mempertahankan cita rasa yang tetap seimbang.

Pengurangan asupan garam atau diet rendah garam dapat diganti dengan penggunaan garam dengan bumbu umami seperti MSG.

Baca juga
Jangan Sepelekan Burnout pada Orang Tua

Jadi, jika tetap ingin makanan yang dikonsumsi memiliki rasa yang enak, namun sekaligus ingin mengurangi garam, cara ini sangat cocok.

Kandungan sodium pada MSG hanya 1/3 dari kandungan sodium pada garam biasa, dan juga sudah banyak penelitian sebelumnya yang menunjukkan penggunaan MSG bermanfaat untuk membantu mengurangi asupan garam sekaligus menjaga kelezatan makanan.

“Bumbu umami terbukti meningkatkan rasa pada makanan. Namun, penggunaan bumbu umami masih banyak diragukan karena adanya berbagai informasi salah yang beredar di masyarakat,” kata Grant Senjaya.

Tinggalkan Komentar