Senin, 23 Mei 2022
22 Syawal 1443

Efek Rusia-Ukraina, IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Jadi 3,6 Persen

Efek Rusia-Ukraina, IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Jadi 3,6 Persen
Menteri Keuangan Sri Mulyani / Foto: Antara

Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2022 dari sebelumnya yang dirilis pada Januari sebesar 4,4 persen menjadi 3,6 persen.

“Pelambatan pertumbuhan ekonomi dunia ini terlihat cukup tajam. Dari proyeksi pertumbuhan ekonomi IMF pada hari ini yaitu direvisi dari 4,4 persen ke 3,6 persen,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Jakarta, Rabu (20/4/2022).

Sri Mulyani mengatakan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tersebut IMF sampaikan dalam Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia Tahun 2022 atau IMF-WBG Spring Meetings.

IMF menyampaikan kondisi ekonomi global menghadapi tekanan yang tidak mudah yaitu perang di Ukraina serta tensi geopolitik yang meningkat sehingga menimbulkan tekanan risiko semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca juga
Gegara Perang Rusia-Ukraina, Harga Mi Instan Bakal Mahal Ikuti Minyak Goreng dan Daging

Revisi proyeksi IMF menggambarkan momentum pemulihan ekonomi global mengalami tekanan sangat besar akibat kondisi perekonomian yang dipengaruhi eskalasi perang sehingga menimbulkan spillover dari sisi harga komoditas.

Kenaikan harga komoditas ini menimbulkan tekanan inflasi yang oleh IMF juga dilakukan revisi ke atas atau naik dari 3,9 persen ke 5,7 persen bagi negara-negara maju dan dari 5,9 persen melonjak ke 8,7 persen bagi negara berkembang.

“Ini kondisi yang terjadi di hampir semua negara. Supply disruption akibat pemulihan ekonomi yang tidak merata ditambah konflik di Ukraina mendorong harga komoditas meningkat sangat ekstrem,” ujar Sri Mulyani.

Baca juga
Tahun Macan Air, Lapangan Sapi PHKT Mencoba Peruntungan Gas

Harga komoditas yang berhubungan dengan sumber daya alam (SDA) seperti nikel sampai gas, coal dan minyak bumi mengalami peningkatan.

Kenaikan juga terjadi pada komoditas dari sisi pangan seperti CPO, gandung dan jagung yang pada akhirnya menimbulkan shock di hampir seluruh negara.

Menteri Keuangan berbagai negara pun dihadapkan dengan kondisi tekanan harga energi dan pangan yang menyebabkan APBN mereka harus merespons secara cepat jika terdapat subsidi maka subsidinya melonjak tinggi.

Kondisi inflasi yang meningkat serta harga komoditas baik energi dan pangan yang naik membuat negara G20 menaikkan suku bunga dan melakukan pengetatan moneter.

Sebagai contoh, Rusia dalam situasi perang mengalami kenaikan inflasi menjadi 16,7 persen dan suku bunga acuan 17 persen.

Baca juga
Tiga Saham Disuguhkan saat IHSG Terjebak dalam Tren 'Bearish'

Brasil saat ini memiliki level inflasi 11,75 persen dan suku bunga acuan 11,3 persen, inflasi AS 8,5 persen dan suku bunga acuan 0,5 persen serta inflasi Meksiko 7,5 persen dan suku bunga acuan 6,5 persen.

“AS mengumumkan mereka akan menaikkan suku bunga yang cukup agresif karena inflasinya meningkat di level 8,5 persen,” katanya.

Sementara itu untuk Indonesia sendiri, meski inflasinya saat ini masih relatif cukup rendah yaitu pada level 2,6 persen namun pemerintah dan Bank Indonesia akan tetap mewaspadai risiko global.

“Kita lihat tren pengetatan moneter dan likuiditas akan menjadi tambahan risiko dari pelemahan ekonomi global,” tegas Sri Mulyani.[JIN]

Tinggalkan Komentar