Minggu, 02 Oktober 2022
06 Rabi'ul Awwal 1444

Ekonom Indef Ingatkan Panic Buying Dorong Inflasi Semakin Liar

Kamis, 11 Agu 2022 - 20:25 WIB
Ekonom Indef Ingatkan Panic Buying Dorong Inflasi Semakin Liar
aksi panic buying punya andil kerek harga.

Naiknya harga bahan pangan dan energi, tidak hanya disebabkan minimnya persediaan. Namun, aksi panic buying di masyarakat bisa saja memicu kelangkaan. Ujung-ujungnya, harga melambung.

Ekonom Indef, Eka Puspitawati berharap, pemerintah perlu mempertimbangkan adanya panic buying yang berdampak kepada kenaikan harga. Isu-isu mengenai persediaan harga sangat memengaruhi psikologis masyarakat.

“Lakukan operasi pasar, untuk menjaga suplai pangan dan energi tetap ada. Ini penting untuk menghindari inflasi tinggi. Pemerintah harus bisa menenangkan psikologi masyarakat,” kata Eka, Kamis (11/8/2022).

Selanjutnya Eka mengeluarkan istilah expected inflation, atau inflasi yang didorong ekspektasi berlebihan, atau kekhawatiran. Jika terjadi ketakutan di masyarakat, maka harga akan lebih cepat naik.

Baca juga
BI Prediksi Inflasi akan Naik dalam Kisaran 4,5-4,6 Persen

“Secara umum, konsumsi lebih banyak dipenuhi dari dalam negeri. Untuk barang impor, terdistruksi besar-besaran karena goncangan internasional. Kalau masyarakat, belum banyak kena imbasnya. Asalkan, tidak diblow-up. Kalau dari pengusaha, khawatir pengaruhnya kepada masyarakat,” jelas Eka.

Dengan adanya pembatasan impor, kata Eka, sejumlah pengusaha bakal kesulitan mendapatkan bahan baku. Kondisi ini akan membawa dampak kepada bisnis mereka.

“Dorongan inflasi yang masih disokong demand. Selama masyarakat masih beraktivitas, berproduksi, investasi, masih bisa terjaga. Karena inflasi di satu sisi, mengkhawatirkan jika tidak terkendali. Tetapi inflasi dibutuhkan untuk mendorong sisi produksi,” tandas Eka.

Pada Juli 2022, Inflasi pangan bulanan mencapai 10,45% dari batas wajar, yaitu kisaran 5-6%. Selanjutnya, Bank Indonesia (BI) bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP & TPID) terus berkomitmen dalam menjaga terkendalinya inflasi nasional.

Baca juga
Gerakan Jumat Bersih, Mendag Zulhas Musnahkan 750 Bal Pakaian Bekas Rp8,5 Miliar

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal bilang, operasi pasar efektif untuk memotong rantai distribusi, agar tidak terlalu panjang. Ketika jalur distribusi terlalu panjang, berpengaruh terhadap harga akhir yang harus ditanggung konsumen.

“Operasi pasar pengaruh terhadap inflasi adalah untuk memotong jalur distribusi yang agak panjang. Dipotong supaya harganya jadi lebih murah sampai diterima konsumen,” jelas Faisal.

Menurutnya, OP bisa membantu menekan inflasi dengan mengefisienkan jalur distribusi. “Jadi memang akan membantu untuk menekan inflasi. Tapi seberapa jauh? Saya rasa ini juga OP itu hanya satu aspek dari sisi distribusi,” ungkapnya.

Baca juga
Tiga Saham Jadi Pilihan di Tengah Volatilitas IHSG Sesi Kedua

 

 

Tinggalkan Komentar