Jumat, 27 Mei 2022
26 Syawal 1443

Ekonom: Buat Apa Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Kalau tidak Menetes ke Rakyat

Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi tidak Menetes ke Rakyat
Potret kemiskinan

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai, kualitas pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022 sebesar 5,01 persen memang gede namun belum berkualitas.

Menurut Bhima, salah satu indikator untuk menentukan kualitas pertumbuhan ekonomi adalah tingkat pengangguran. Di mana, tingkat pengangguran pra pandemi hingga saat ini, terpaut jauh.

“Tingkat pengangguran pada Februari 2019 sebesar 5 persen. Sedangkan tingkat pengangguran pada Februari 2022 sebesar 5,83 persen. Masih terpaut jauh. Artinya, ekonomi memang tumbuh namun kurang berkualitas. Masih banyak rakyat yang hidupnya susah,” papar Bhima kepada Inilah.com, Selasa (10/5/2022).

Artinya, kata Bhima, pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2022 yang mencapai 5,01 persen, tidak mentes hingga ke akar rumput. Namun hanya dinikmati segelintir kelompok saja. “Masih belum bisa disebut kembali ke posisi pra pandemi COVID-19,” ungkapnya.

Baca juga
3 Tahun Jatim Dipimpin Khofifah, Pimpinan DPRD Beri Dua Jempol

Masih kata Bhima, moncernya angka pertumbuhan kuartal I, terjadi hanya karena keberuntungan. “Pertumbuhan di q1 bisa mencapai 5 persen karena faktor boom harga komoditas. Ada luck factor, karena permintaan batubara dan CPO naik di pasar internasional. Kinerja ekspor dan investasi yang berkaitan dengan sektor pertambangan serta perkebunan mampu mendorong pemulihan ekonomi,” papar Bhima.

Tingkat konsumsi rumah tangga, menurut Bhima, secara perlahan memang menunjukkan tren pemulihan. Lantaran, pemerintah memberikan pelonggaran mobilitas. Sektor transportasi dan pergudangan, mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi.

“Tapi kita jangan mudah terlena. Tantangan ekonomi kedepan jauh lebih kompleks dan berisiko hambat pemulihan ekonomi. Boom harga komoditas memang memberikan surplus neraca perdagangan, tapi kalau tidak diantisipasi maka bisa berimbas kepada tingginya inflasi pangan maupun energi,” tuturnya. [ikh]

Baca juga
Bisnis Minerba Menggeliat, IPCC 'Panen Raya' untuk Kargo Alat Berat

 

Tinggalkan Komentar