Ekonomi Warga Melesat, Program Pertamina di Cilacap Putar Rp366 Juta per Bulan

Pertamina Patra Niaga Kembangkan Ekonomi Sirkular di Kutawaru Lewat Program MAMAKU SIGAP. (Foto: Pertamina)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pertamina Patra Niaga memperkuat pemberdayaan masyarakat pesisir melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk MAMAKU SIGAP (Masyarakat Mandiri Kutawaru – Sistem Integrasi Pengelolaan Lingkungan Kawasan Pesisir). Program ini dijalankan di Kelurahan Kutawaru, Kabupaten Cilacap, sebagai solusi terpadu atas persoalan lingkungan dan ekonomi warga.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menyebut Kutawaru menghadapi tantangan kompleks, mulai dari tingginya jumlah warga berpendapatan rendah hingga persoalan sampah akibat belum tersedianya fasilitas tempat pembuangan akhir.
“Program ini dirancang sebagai solusi terintegrasi untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan pemetaan sosial, terdapat lebih dari 4.600 warga berpendapatan rendah atau sekitar 320 kelompok rentan di wilayah tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, seperti mantan pekerja migran, mantan anak buah kapal, buruh serabutan, hingga keluarga prasejahtera di wilayah rawan bencana.
Sejak diluncurkan pada 2020, MAMAKU SIGAP mengusung pendekatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Salah satu implementasinya adalah Bank Sampah Abhipraya yang mampu mengelola sekitar 7,6 ton sampah per tahun.
Konsep ekonomi sirkular diterapkan melalui prinsip pengurangan dan pemanfaatan ulang sampah, sehingga limbah tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
Selain pengelolaan sampah, program ini juga mencakup penanaman mangrove untuk mencegah abrasi pesisir serta pemanfaatan energi terbarukan melalui instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6.600 Wattpeak.
Di sektor ekonomi, Pertamina Patra Niaga mendorong pengembangan usaha lokal melalui Kampoeng Kepiting, sentra kuliner berbasis hasil laut yang kini berkembang menjadi destinasi wisata dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.
Program ini juga didukung Pasar Amarta sebagai pusat pemasaran produk UMKM serta Integrated Farming System yang mengintegrasikan sektor pertanian dan perikanan untuk meningkatkan produktivitas warga.
Dari sisi dampak ekonomi, program ini mencatat perputaran ekonomi mencapai Rp366 juta per bulan. Sebagian hasilnya dialokasikan untuk kegiatan sosial masyarakat, sehingga memperkuat dampak keberlanjutan.
Menurut Roberth, MAMAKU SIGAP menjadi contoh implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mulai dari pengentasan kemiskinan hingga pengelolaan lingkungan.
Program ini menunjukkan bahwa pendekatan integratif antara lingkungan, ekonomi, dan sosial dapat menciptakan ekosistem masyarakat yang lebih mandiri dan berkelanjutan, sekaligus menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.