Minggu, 22 Mei 2022
21 Syawal 1443

Eks Menteri BUMN Bandingkan Putrajaya dengan IKN Nusantara

Eks Menteri BUMN Bandingkan Putrajaya dengan IKN Nusantara
Dahlan Iskan

Pengalaman Malaysia membangun ibu kota negara (IKN) Putrajaya ada miripnya dengan proyek IKN Nusantara di era Joko Widodo (Jokowi).

Dituliskan tokoh pers serta pendiri koran terbesar di Pulau Jawa, Dahlan Iskan, Putrajaya merupakan IKN baru Malaysia, menggantikan Kuala Lumpur sejak 1999.

Dulunya, kata mantan Menteri BUMN era Presiden SBY ini, Putrajaya perkebunan karet dan kelapa sawit yang bernama Prang Besar. Dikutip dari @disway.id, Rabu (11/5/2022), kini sudah banyak bangunan berdiri di Putrajaya.

Meski demikian, suasana di sana masih sejuk dan rindang karena banyaknya pepohonan. Jajaran bangunan begitu rapi.

“Yang membuat IKN (Putrajaya) ini lebih indah adalah danau-danaunya. Semuanya danau buatan. Untuk menyerap udara panas Putrajaya. Ada satu danau yang dibuat menggelang. Sehingga terbentuk pulau di tengahnya,” tulis Dahlan.

Baca juga
Presidensi G20, Jokowi Undang Para Pemimpin Dunia ke Bali pada 2022

Dahlan menuturkan jumlah penduduk Putrajaya memang dibatasi. Saat ini jumlahnya cuma 100 ribu orang. Sehingga kurang enak untuk tempat tinggal. “Ibarat pohon, daunnya lebat buahnya jarang. Membosankan,” imbuh Dahlan.

Padahal, Putrajaya jaraknya hanya 50 km dari Kuala Lumpur dan usianya sudah di atas 20 tahun. Selain itu, untuk mencapai Putrajaya hanya memakan waktu lima menit dari pintu tol jurusan Kuala Lumpur Bandara Internasional Sepang.

Lebih lanjut, Dahlan mengatakan seperti juga IKN Nusantara, pemindahan IKN ke Putrajaya pernah terganjal krisis. Pembangunan IKN oleh COVID-19, Putrajaya oleh krisis moneter (krismon) 1998.

Keputusan membangun IKN memang baru diambil pada 1995 oleh Mahathir Mohamad yang punya kekuasaan mutlak.

Baca juga
Koalisi Pemuda Tolak Ahok Jadi Kepala Otoritas IKN, Usulkan 3 Putra Daerah

“Biar pun krismon, pembangunan jalan terus oleh kontraktor Malaysia sendiri. Tidak boleh ada kontraktor asing. Seluruh bahan bangunan pun harus dari Malaysia. Material asing dibatasi hanya boleh 10 persen,” ujar Dahlan.

Seperti juga Nusantara, pilihan lokasi IKN waktu itu tidak hanya satu. Pada babak finalnya ada dua pilihan, yaitu di daerah Prang Besar (Selangor) atau di Janda Baik (Pahang).

Jarak kedua wilayah tersebut sama-sama tidak jauh dari Kuala Lumpur, yakni sekitar 50 km. Dahlan menuturkan keputusan memindahkan IKN ke Prang Besar diambil setelah Sultan Selangor mau merelakan kawasannya kepada pemerintah pusat.

Ia mengatakan Putrajaya adalah kota baru yang ketiga di Kuala Lumpur. Jauh sebelum itu, telah dibangun kota baru pertama pada 1974, yakni Syah Alam sebagai ibu kota negara bagian Selangor yang baru.

Baca juga
Pengamat Pasar Modal: Ini Waktu yang Tepat Investasi Saham Antam

Dengan demikian, Kuala Lumpur bukan lagi wilayah Selangor. Sebab, IKN harus berada di wilayah federal.

“Ternyata 40 tahun kemudian IKN Malaysia pindah ke Putrajaya. Tanpa mencabut status wilayah federal Kuala Lumpur. Justru Selangor yang harus kembali menyerahkan sebagian wilayahnya ke pusat. Untuk menjadi wilayah federal yang baru Putrajaya,” sambung Dahlan.

Menurut Dahlan, Kalimantan Timur pun mestinya melakukan hal yang sama, yakni menyerahkan kawasan Nusantara ke pemerintah pusat.

Tanpa harus bertukar dengan wilayah lama ibu kota. “Juga tanpa harus mempersoalkan apakah wilayah Jakarta tetap menjadi milik pusat. Selama ini, apakah Jakarta wilayah Pusat?” pungkas Dahlan. [ikh]

 

Tinggalkan Komentar