Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Eks Menteri Jokowi Potret Kasus Brigadir J Beberkan Kelakuan Pejabat, Banyak Tak Wajar

Minggu, 18 Sep 2022 - 10:44 WIB
Img 3860 - inilah.com
Sudirman Said (tengah) dalam sebuah acara diskusi, di Jakarta, Sabtu (17/9/2022). (Foto: Inilah.com/Dea Hardianingsih)

Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, menilai kelakuan pejabat negara sekarang ini banyak tidak wajarnya, atau dikategorikannya dengan bertindak pada level legalistik. Maksudnya, tingkah polahnya ditentukan dengan aturan hukum. Apabila hukum tidak sesuai dengan kehendaknya maka diubah agar ketidakwajaran menjadi wajar.

Dalam diskusi yang digelar di Kedai Kopi, Juanda, Jakpus, Sabtu (17/9/2022), Sudirman Said menyontohkan polah pejabat negara seperti itu dalam perkara pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat (Brigadir J), yang penuh ketidakwajaran dan upaya untuk menutup-nutupi fakta sesungguhnya yang kini perlahan mulai tersingkap. Penulis buku “Berpihak pada Kewajaran” itu menilai situasi tersebut berbahaya karena pejabat masih berpikir pada level legalistik.

Baca juga
Luhut Tolak Diseret ke Kasus Brigadir J, Merasa Jadi Korban Framing

“Hukumnya, yang melawan kewajaran akan dibalas semesta. Itu hukum alam yang enggak bisa dilawan,” kata Said.

Secara sederhana Said mengategorikan dua ciri besar sifat manusia. Selain berpikir pada level legalistik ada yang berpikir etikal. Pemikiran legalistik cenderung bersikap semaunya sedangkan yang etikal bertindak dengan ukuran patut atau tidak patut.

Said menilai, Indonesia butuh pejabat yang memiliki standar etikal tinggi.  Apabila para petinggi negara yang membuat hukum bersikap semaunya atau hanya pada level legalistik kita sudah bisa menebak bakal kemana arah bangsa ini. Sebab, mereka bisa menciptakan aturan sendiri jika ingin melakukan sesuatu yang belum diatur dalam hukum.

Baca juga
Terkejut Mendengar Cerita Sopir Ambulans yang Evakuasi Jasad Brigadir J, Hakim: Buset!

Untuk itu, lanjut Said, pejabat semestinya berada pada level etikal yang mengedepankan wajar dan tidak wajar, patut dan tidak patut. “Kita harus mengetuk pintu untuk mengembalikan moralitas agar hidup dengan sangat etis,” ucap Said.

 

Tinggalkan Komentar