https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

artikel   10 August 2021 - 03:58 wib

Perlu Gerak Bersama, Lindungi Anak Yatim Piatu

Pandemi Covid-19 telah membawa duka yang sepertinya tak berkesudahan. Lebih dari seribu orang meninggal akibat Covid-19 per hari dalam beberapa hari terakhir. Tak sekadar angka, mereka adalah orangtua, anak, istri, suami, sahabat, kerabat, juga keluarga.

Berdasarkan data dari laman satgas Satgas Covid-19 per Senin (9/8), diketahui ada 11.045 anak menjadi yatim piatu. Pada sisi lain jumlah anak yang positif dan meninggal menunjukkan lebih dari 350.000 anak positif dan 777 anak meninggal dunia.

datasatgas

Dari rentetan kisah duka akibat Covid-19 adalah kisah pilu dan anak-anak yang kehilangan orangtuanya yang meninggal akibat Covid-19. Pemerintah harus memastikan pengasuhan anak-anak tersebut tetap terjamin serta tumbuh kembangnya secara fisik, mental, spiritual dan sosial terus terpantau.

Dari pemberitaan di kanal youtube Sekretariat Presiden, misalnya, dikabarkan tentang Ghifari (8) yang menjadi sebatang kara setelah orangtuanya meninggal karena Covid-19. Ghifari yang juga sempat positif korona harus sendirian di rumahnya di Sukoharjo, Jawa tengah. Sebelumnya, pemberitaan serupa dari berbagai media massa telah muncul di beberapa daerah lain.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Puspayoga, dalam keterangannya telah menginisiasi sejumlah upaya yang dilakukan untuk melakukan kebijakan bersama Gugus Tugas dan Kementerian dan lembaga untuk menerbitkan protokol kesehatan bagi anak-anak tanpa pengasuhan orang tua karena meninggal akibat Covid-19.

Bintang mengatakan, Gugus Tugas Covid-19 telah mengeluarkan protokol penanganan anak yang yatim piatu akibat orangtuanya meninggal. Berdasarkan protokol ini, keluarga dari anak-anak tersebut dapat mengambil alih tanggung jawab hak pengasuhan anak tersebut.

”KemenPPPA telah membuat Protokol Tata Kelola Data dan Protokol Pengasuhan Bagi Anak Tanpa Gejala, Anak Dalam Pemantauan, Pasien Anak Dalam Pengawasan, Kasus Konfirmasi, dan Anak dengan Orangtua/ Pengasuh/ Wali Berstatus Orang Dalam Pemantauan, Pasien Dalam Pengawasan, Kasus Konfirmasi dan Orangtua Yang Meninggal Karena COVID-19," ujar Bintang Puspayoga melalui siaran pers di Jakarta, Senin.

Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak mengamanatkan bahwa perlindungan terhadap anak-anak dilakukan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan orangtua. Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orangtuanya sendiri kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir.

Pengecualian itu untuk memastikan anak tetap memiliki pengganti orangtua sehingga tetap mendapatkan pengasuhan, pemeliharaan, pendidikan, dan perlindungan, termasuk mendapatkan dukungan pembiayaan hidup dan pemenuhan hak anak lainnya.

Karena itulah, tim Kementerian PPPA di setiap kabupaten/kota akan melakukan penjangkauan dan pendampingan terhadap anak yang kini menjadi yatim piatu. Bintang mengingatkan, peran masyarakat sekitar dan pemerintah sampai ke tingkat desa sangat penting untuk menjamin anak tidak telantar dan tetap mendapatkan perlindungan.

”Saya melihat kepedulian dan perhatian masyarakat yang begitu tinggi terhadap anak-anak yang ditinggal oleh orangtuanya karena Covid-19. Saya mengapresiasi peran serta tersebut dan memang kerja sama masyarakat sangat dibutuhkan sehingga kita semua dapat menghadapi dan melewati situasi pandemi ini bersama-sama,” tutur Bintang.

Soroti Pola Pengasuhan

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), DR. Susanto, MA menyampaikan, orang tua terdekat turut berperan penting dalam pengasuhan sekaligus pemulihan dan rasa kehilangan. Pihak KPAI juga terus berusaha memberikan advokasi bagi anak-anak yang ditinggal orang tuanya akibat Covid-19 untuk diberikan perlindungan pengasuhan.

Dia mengungkapkan, perlindungan nantinya untuk memberikan advokasi pengasuhan yang sesuai standart nasional mulai dari keluarga inti sampai derajat ketiga, sampai dengan pilihan terakhir seperti orang tua asuh untuk pengangkatan anak.

"Bagi anak yang orangtuanya meninggal maka keluarga sampai derajat ke tiga yang semestinya jadi prioritas mengambil alih terkait pengasuhannya. sampai derajat ke tiga dimaksud adalah kakak adik, nenek kakek, paman dan bibi, " ujarnya saat dihubungi INILAHCOM, Senin (09/08/2021).

Evi Douren, Presidium PIKI Salemba10 yang juga komisioner Komnas Perempuan 2003-2005, mengungkapkan, anak-anak yang menjadi yatim piatu akibat kematian orangtua atau orangtua asuhnya sesungguhnya bisa dikatakan sebagai hidden pandemic akibat kematian yang diakibatkan oleh Covid-19.

”Sejak sekarang sudah harus mulai dipikirkan sistem dukungan psikososial dan ekonomi bagi anak-anak yang masuk ke dalam kelompok tersebut. Anak-anak yang kehilangan orangtua atau pengasuh utamanya berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental, mengalami kekerasan fisik, emosional, dan seksual juga,” tutur Evi.

Bahkan, apabila kejadian tidak diinginkan itu terus berlanjut, di kemudian hari dapat meningkatkan risiko bunuh diri, kehamilan pada usia remaja, ataupun menderita penyakit infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV.

Oleh karena itu, Evi mengimbau pemerintah dan masyarakat mulai memikirkan sistim dukungan bagi anak-anak yang menjadi yatim piatu. Masyarakat bisa diajak untuk membangun sistem dukungan dalam lingkaran keluarga besar untuk menampung dan membesarkan anak-anak itu.

”Jika sistem penyangga keluarga besar tak cukup secara ekonomi, pemerintah harus membangun sistem untuk membantu pemenuhan hak anak atas gizi, kesehatan, dan pendidikannya,” ujar Evi.

Sementara itu energi positif membantu anak yatim piatu juga didorong oleh Inisiator Kawal Covid-19 Ainun Najib yang membentuk gerakan kawal masa depan untuk mengajak masyarakat bersama-sama membantu puluhan ribu anak yatim piatu dengan memberikan santunan biaya hidup dan bantuan pendidikan.



"Kami konsepnya crowdfunding dulu, tapi untuk jangka panjangnya ada 3 konsep, pertama seperti gerakan orang tua asuh, kedua mentorship kita ajak kakak asus yang punya kompetensi di bidang tertentu untuk membantu adik yatim piatu, ketiga idenya seperti venture capital untuk talenta," jelasnya.

Ainun menyebut gerakan ini dilakukan untuk membantu negara atau Dinas Sosial melakukan pendataan dan pengasuhan kepada anak-anak yang menjadi yatim piatu selama pandemi Covid-19. Masyarakat bisa membantu berdonasi atau mendaftarkan anak yatim atau piatu ke kawalmasadepan.com agar bisa mendapatkan bantuan melalui platform kitabisa.com


Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Empati

Potret Nenek Fatwa, 20 Tahun Berjuang Lawan Kanker Tenggorokan

Jika dilihat pada data, kanker tenggorokan banyak dialami para pria. Persentasenya sekitar 70 per
berita-headline

Empati

Puluhan Artis Galang Dana untuk Pekerja Seni Terdampak Pandemi

Sejak covid-19 melanda Indonesia, dunia hiburan seakan sepi dari kegiatan. Termasuk gelaran konse
berita-headline

Empati

Tak Lagi Bisa Mengajar, Founder Bule Mengajar Kini Terbaring Lemas

Lia Andarina Grasia kini tidak lagi aktif mengajar di Bule Mengajar. Lia dikenal sebagai s