https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

artikel   12 August 2021 - 04:44 wib

Tak Lagi Bisa Mengajar, Founder Bule Mengajar Kini Terbaring Lemas

Lia Andarina Grasia kini tidak lagi aktif mengajar di Bule Mengajar. Lia dikenal sebagai salah satu aktivis sosial di bidang pendidikan di daerah Kulonprogo. Dia mendirikan salah satu komunitas Bule Mengajar dimana kegiatan tersebut adalah mengajak warga negara asing untuk bisa sharing dengan siswa siswi di SMP dan SMA di daerah Kulonprogo.


Aktif di dunia pendidikan membuatnya pernah menjadi pemuda pelopor nasional di bidang pendidikan yang diadakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada 2015.



Prestasinya tidak sampai di situ saja. Kecintaannya terhadap pendidikan membuatnya mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari pemuda berprestasi yang ditunjuk oleh Kementerian Luar untuk belajar tentang perkembangan teknologi di India dalam program Outstanding Students for the World.

"lalu setelah itu mendapatkan kesempatan diundang di acara Kick Andy Show tahun 2017 untuk sharing tentang kegiatan yang dilakukannya dengan Bule Mengajar. Kemudian di tahun 2019 menjadi Awardee Australia Awards untuk short course di sana yang diselenggarakan oleh pemerintah Australia," kata Fandi Ahmad, suami dari Lia, saat dihubungi INILAHCOM, Jakarta, Kamis, (12/08/2021).

Founder Bule Mengajar itu sedang terbaring lemah tidak bisa bangun dari tempat tidur. Meski tidak bisa ikut mengajar lagi, saat ini Bule Mengajar sudah dipegang oleh anggota lain untuk segala kegiatannya dikarenakan kondisi Lia tidak memungkinkan untuk kembali menjalani aktivitas.

Ada sekitar 300 siswa yang mengikuti les di Bule Mengajar. Lalu, ada sekitar 600 orang yang menjadi siswa di BLK Kulonprogo dan warga terdampak dari bandara YIA (Yogyakarta International Airport).

Awal Mengalami Sakit Neurofibroma

Dahulu, sebelum sakit neurofibroma, Lia mendatangkan sembilan mahasiswa asal Jepang menjadi guru di SMP 1 Wates dalam program Bule Mengajar.

Tidak hanya belajar tentang budaya, ini adalah salah satu cara bagaimana mengangkat potensi wisata di Kulonprogo.

Neorofibroma adalah tumor jinak yang tumbuh pada saraf di tubuh.

"Awal mula beliau mengalami gejala sakit ini di awal 2018 yaitu pada kehamilannya," cerita Fandi.

Tiga bulan awal kehamilan tersebut beliau merasakan pegal-pegal di daerah dada kiri sebelah ketiak, pada saat itu kita Lia dan suaminya belum berani untuk periksa ke dokter karena takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.

Usai kelahiran anak pertamanya, rasa pegal yang ada di bagian dada tersebut berubah menjadi benjolan kecil.

"Kami berasumsi bahwa itu efek samping dari melahirkan seperti akan keluar ASI dan sebagainya," tambah Fandi.

Tidak ingin berasumsi terlalu lama, akhirnya mereka memutuskan untuk berobat RSUP Dr. Sardjito karena mengalami bengkak dan sudah semakin membesar.

Akhirnya biopsi adalah jalan ditempuh untuk mengangkat benjolan tersebut pada Januari 2020. Setelah didapati, ternyata Lia memiliki tumor MPNST. Kemudian operasi dilakukan lagi pada April 2020.

Kondisi tidak kunjung baik. Kesehatan Lia semakin menurun. Dokter menyarakan pengobatan radioterapi pasca operasi sebanyak 32 kali dari bulan Juli hingga September 2020.

"Dari situ luka bekas operasi malah semakin memburuk, menjadi luka terbuka dan kita harus homecare setiap hari untuk membersihkan luka tersebut agar tidak infeksi. Sekian lama kita menjadi homecare dan saat kontrol ke RS dokter juga bingung dengan kondisi luka tersebut maka mereka hanya memberikan obat antibiotik untuk diminum setiap harinya," ungkap Fandi.

Awal 2021 menjadi semakin buruk ketika tumor itu masih hidup dan mulai menyebar ke daerah lengan kiri atas, efeknya tangan kiri tidak berfungsi lagi, untuk bergerak dan merasakan pun sudah tidak bisa karena saraf-sarafnya sudah mati dikarena tumor tersebut adalah tumor yang menyerang pembungkus saraf. Tangan sudah mulai menghitam dan kondisi fisik yang dulunya masih bisa mobilisasi hingga saat ini harus difasilitasi di atas tempat tidur saja.

"Lalu diputuskan untuk dilakukan amputasi tangan kirinya pada tanggal 19 Juli 2021 lalu," katanya.

Peran Fandi, Suami yang Bertanggungjawab Penuh

Selama Lia sakit, Fandi mengaku fokus mengurusnya. Anak yang Lia lahirkan kini sudah hampir berusia 3 tahun. Diberi nama Kinandari Dayu Affandi, perempuan kelahiran 26 Oktober 2018 itu sudah sangat mengerti kondisi ibunya yang sedang berjuang melawan penyakit. Kinandari sementara diasuh oleh tantenya karena Fandi selain mengurus Lia, dia juga terus memastikan obat dan kebutuhan keluarganya terpenuhi.

Biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Melalui laman kitabisa masyarakat bisa membantu meringankan beban biaya pengobatan dan kebutuhan Lia.

Saat ini total biaya yang dibutuhkan sebesar Rp 200.000.000, untuk rinciannya antara lain, biaya tindakan medis 50.000.000, obat-obatan 25.000.000, oksigen 25.000.000, biaya operasional 20.000.000, biaya rumah sakit 50.000.000, biaya kebutuhan hidup sehari-hari 25.000.000, biaya lainnya 5.000.000.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Empati

Potret Nenek Fatwa, 20 Tahun Berjuang Lawan Kanker Tenggorokan

Jika dilihat pada data, kanker tenggorokan banyak dialami para pria. Persentasenya sekitar 70 per
berita-headline

Empati

Nakes Juga Manusia

Tenaga kesehatan (nakes) berjuang menjadi garda terdepan menghadapi covid-19.Nakes yang b
berita-headline

Empati

Perlu Gerak Bersama, Lindungi Anak Yatim Piatu

Pandemi Covid-19 telah membawa duka yang sepertinya tak berkesudahan. Lebih dari seribu orang m
berita-headline

Empati

Puluhan Artis Galang Dana untuk Pekerja Seni Terdampak Pandemi

Sejak covid-19 melanda Indonesia, dunia hiburan seakan sepi dari kegiatan. Termasuk gelaran konse