https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   19 September 2021 - 07:06 wib

Anak Yatim Tak Ada Makanan Pemimpin Pesantren Hanya Bisa Bermunajat di Atas Sajadah

Empati
berita-headline

Pendiri Pondok Pesantren Nurjadiid, Saung Galing

Saung Galing menyambut kedatangan inilah.com di kediamannya Kampung Ciketing, RT003/RW 003, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis 16 September 2021 siang.

Tempat tinggalnya di kelilingi sampah yang sudah menggunung. Itu adalah lokasi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Tujuan akhir sampah warga Jakarta yang sudah beroperasi sejak 1989.

Di tengah kondisi demikian, pemuda berusia 28 tahun itu membuat sebuah terobosan  dengan membangun Pondok Pesantren dinamai Nurjadiid, artinya cahaya baru.

Menampung anak-anak yatim juga yatim piatu yang  mayoritas awalnya anak dari para pemulung yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah Bantar Gebang.

Dari Kecil Hidup di Tempat Pembuangan Sampah

Cerita berawal dari 3 Maret tahun 1993 silam, seorang ibu melahirkan  bayi dalam sebuah Saung berikat tali-tali yang disebut Galing. Dari sana kedua orang tua sang anak sepakat menamai banyinya Saung Galing. 

Ketika beranjak dewasa, Saung Galing masuk pondok pesantren. Pertama di daerah Tambun Utara, Bekasi lalu dilanjutkan di daerah Cianjur.

Setelah ke luar dari pondok pesantren, Saung Galing kembali ke Bantar Gebang. Awalnya bahagia, ketika berproses jadi berbeda, membuatnya meneteskan air mata. Kehidupan di tempat itu masih sama saja seperti saat masa kecilnya dulu.

"Karena banyak pemakai, jangankan orang muda dari anak-anak sampek nenek-nenek juga pemakai dan pemabuk. Habis tiap hari kerja hiburan tidak ada, setiap seminggu sekali nimbang lari ke minuman, mabuk dan obat-obatan," kata Saung Galing kepada Inilah.com.

Jadi Anak Punk Demi Kepuasan

Akibat tak kuasa melawan arus. Saung Galing memilih menjadi seorang anak punk. Dalam komunitas ini ada kesenangan yang timbul namun bersifat sesaat. Semakin lama membuatnya tak kuasa menahan diri. 

Merasa terjebak dalam lubang yang kelam dan hidup semakin tak menentu, anak ke-5 dari enam bersaudara itu beralih membangun sebuah komunitas anak vespa. Diberi nama Ascot singkatan dari asal-asalan scooter.

Komunitas Ascot pun tak kuasa mengatasi kegelisahan dan memahami masalah yang sedang dihadapi Saung Galing. Di tengah perasaan dilema, timbul dorongan dari relung hati yang terdalam untuk hijrah.