https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

artikel   17 August 2021 - 11:34 wib

Potret Nenek Fatwa, 20 Tahun Berjuang Lawan Kanker Tenggorokan

Jika dilihat pada data, kanker tenggorokan banyak dialami para pria. Persentasenya sekitar 70 persen didominasi oleh pasien pria.

Potret Kasus Kanker Tenggorokan di Indonesia

Jumlah kasus kanker tenggorokan di Indonesia menempati urutan ke-4 sebagai jenis kanker yang paling banyak diidap, setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker paru. Menurut data yang menyebutkan setidaknya terdapat 87.000 kasus baru kanker nasofaring, sebagian besarnya diidap oleh laki-laki (sekitar 70 persen).

Ada beberapa penyebab dan faktor risiko dari kanker tenggorokan. Adanya kebiasaan merokok, konsumsi minumal alkohol yang berlebihan, tidak menjaga kebersihan gigi dan mulut, misalnya jarang menyikat gigi. Kemudian kurang konsumsi buah dan sayuran, serta mengidap infeksi penyakit tertentu, seperti human papillomavirus (HPV) dan penyakit asam lambung (GERD).

Hal tersebut yang dapat memicu tumbuhnya sel abnormal di area tenggorokan hingga menjadi tumor ganas. Ini bisa dilihat dari adanya gejala fisik. Misalnya, ketika sulit menelan, suara yang mulai berubah, batuk kronis, sakit tenggorokan, telinga berdengung, dan mulai muncul benjolan di tenggorokan.

Tidak hanya itu, penurunan berat badan, serta pembengkakan pada mata, rahang, tenggorokan, atau leher, juga menjadi sebuah petanda.

Nenek Fatma 20 Tahun Berjuang Lawan Kanker Tenggorokan

Ternyata kanker tenggorokan juga dialami oleh seorang perempuan. Dia adalah Nenek Fatma (63 Thn). Sekitar 20 tahun, nenek Fatma hidup dengan tumor ganas tersebut. Tumor itu semakin membesar dan menjalar hingga menutupi bagian telinga dan leher sebelah kanannya.

Tidak hanya itu, terdapat beberapa luka yang menimbulkan darah karena gatal dan sering digaruk.

Profesi Sebagai Pembuat Kopra

Kopra adalah daging kelapa yang dikeringkan. Profesi ini dia jalani demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Daging kelapa yang dikeringkan kemudian nenek juga kepada bos kelapa.

Kerja keras nenek Fatma membuat kopra, menghasilkan Rp.7.000. Uang tersebut sangat jauh dari cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan juga mengobati tumor ganasnya yang sudah menahun.

Meski terhimpit masalah ekonomi, tidak membuat nenek berhenti bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

“Nak, rasa cukup itu akan terasa hanya kalau kita pandai bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah, hidup di dunia ini harus punya modal kejujuran, kalau kita jaga hubungan dengan Allah maka hubungan dengan manusia juga pasti baik," ungkap Nenek Fatma seperti yang dikutip di laman kitabisa, Jakarta, Jumat, (13/08/2021).

Saat memeriksa kesehatan, nenek Fatma kerap dibantu para dokter di daerah tempat tinggalnya. Menurut pengalamannya, dokter di klinik tidak pernah menerima uangnya ketika dia harus berobat.

“saya ikhlas nek, pakai saja uang pengobatannya untuk beli beras, kalau sakit kesini lagi yah, saya tidak bisa operasi tumornya, tapi insyaallah saya bisa sedikit meringankan rasa sakit nenek," ujar dokter di salah satu klinik di desa Nenek.

Bagi kalian yang ingin membantu nenek Fatma, bisa langsung klik di laman kitabisa. Seberapa pun bantuan kamu, akan sangat berarti bagi kelangsungan hidup nenek Fatma. Terimakasih orang baik!

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Empati

Tak Lagi Bisa Mengajar, Founder Bule Mengajar Kini Terbaring Lemas

Lia Andarina Grasia kini tidak lagi aktif mengajar di Bule Mengajar. Lia dikenal sebagai s
berita-headline

Empati

Nakes Juga Manusia

Tenaga kesehatan (nakes) berjuang menjadi garda terdepan menghadapi covid-19.Nakes yang b
berita-headline

Kanal

Usung Jurnalisme Solusi, Inilahcom Tak Cuma Berita

Senin, 2 Maret 2020 nama Indonesia mulai masuk dalam lingkaran negara yang terjangkit c
berita-headline

Empati

Puluhan Artis Galang Dana untuk Pekerja Seni Terdampak Pandemi

Sejak covid-19 melanda Indonesia, dunia hiburan seakan sepi dari kegiatan. Termasuk gelaran konse
berita-headline

Empati

Perlu Gerak Bersama, Lindungi Anak Yatim Piatu

Pandemi Covid-19 telah membawa duka yang sepertinya tak berkesudahan. Lebih dari seribu orang m