https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   20 August 2021 - 11:04 wib

Nakes Harus Diselamatkan

Wafatnya tenaga kesehatan (nakes)sebagai garda terdepan pengendalian covid-19 jelas tidak boleh diterangkan dengan hanya angka atau persentase belaka.

Tenaga kesehatan adalah aset kesehatan nasional, dan bahkan merupakan aset ketahanan nasional bangsa. Karena itu maka tenaga kesehatan amat perlu mendapat perhatian dalam menjalankan tugas penting dan mulianya dalam penanggulangan covid-19.
 
“Sedikitnya ada upaya yang perlu dilakukan untuk melindungi dan juga dapat menurunkan angka kematian yang tinggi para tenaga kesehatan kita, diantaranya adalah upaya khusus pada tenaga kesehatan serta lainnya yang bersifat mengendalikan penularan di masayarakat,” kata Prof. Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar FK UI, kepada INILAHCOM, Jakarta, baru-baru ini.

“Upaya pertama yang berhubungan dengan tingginya angka penularan dan kematian petugas kesehatan adalah beban kerja yang terlalu berat,” tambah mantan Direktur WHO Asia Tengara itu.

Jumlah pasien yang masih terus tinggi, pasien yang berat juga bertambah.

Kemudian, semuanya membutuhkan pelayanan ekstra ekstensif pula dari para tenaga kesehatan.

Belum lagi sebagian sudah tertular covid-19 dan terpaksa melakukan isolasi mandiri di rumahnya, kemudian sebagian dirawat di rumah sakit pula.

“Semua faktor ini membuat beban kerja menjadi amat tinggi, jam kerja dapat menjadi panjang dan waktu istirahat menjadi amat kurang,” tambah mantan kepala Balitbangkes RI itu.

Untuk mengatasi hal tersebut, Tjandra Yoga memberikan masukan agar pihak-pihak terkait melakukan reka ulang manajemen SDM (Sumber Daya Manusia) yang matang, termasuk pengaturan jam kerja, ruang istirahat memadai, makanan yang cukup, kesejahteraan yang memadai dan lain-lain.

Hal ini juga bisa dikaitkan dengan bagaimana insentif nakes yang diberikan tanpa hambatan untuk mereka yang berjuang langsung bertemu para pasien terkonfirmasi positif covid-19 di rumah sakit.

Kementerian Kesehatan menegaskan insentif bagi tenaga kesehatan adalah hak mereka yang wajib dipenuhi oleh pemerintah, karena itu tidak ada penghentian pembayaran insentif baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Pemerintah upayakan percepatan pembayaran insentif melalui dua skema pembayaran, yakni Insentif bagi tenaga kesehatan di RSUP, BUMN, RS Swasta, TNI/POLRI dianggarkan dan dibayarkan oleh pemerintah pusat, sementara untuk insentif tenaga kesehatan di RSUD dianggarkan dan dibayarkan oleh pemerintah daerah.

Anggaran insentif tenaga kesehatan tahun 2020 bersumber dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

Untuk keberlanjutan pemberian insentif tahun 2021, sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 17 tahun 2021 alokasi anggaran insentif bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH).

Diharapkan pemerintah daerah untuk segera bisa menyetujui usulan pembayaran insentif dan memproses anggaran yang ada untuk bisa membayarkan.

“Pemerintah daerah harus berpedoman pada surat izin prinsip Menteri Keuangan nomor 113 tahun 2021 tentang besaran nominal insentif tenaga kesehatan,” kata Sekretaris Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) Trisa Wahjuni Putri di Jakarta, seperti yang dikutip dari laman kemkes.go.id.

Cerita Nakes

Thomas Dwi Nugroho,(35), salah satu nakes yang bertugas menjaga ICU khusus pasien covid-19 di RS Raden Said Sukanto mengatakan, sudah menerima intensif.

Dia mengaku sebagian dari intensif yang diberikan digunakan untuk melanjutkan pendidikan.

“Ini buat bayar kuliah ambil profesi ners,” ujar Thomas kepada INILAHCOM.

Sisanya, dia tabung untuk kebutuhan rencana pernikahan dengan wanita yang menjadi pilihannya nanti.

“Sisanya buat nikah,” ungkap Thomas.

Pembayaran insentif nakes memang tidak sepenuhnya lancar.

Kesejahteraan Nakes

Kesejahteraan nakes memang menjadi hal yang sangat penting, melihat kinerja mereka yang selalu menjadi terdepan untuk mengatasi lonjakan kasus covid-19.

Pandemi memang belum terlihat kapan akan berakhir. Meski begitu, masyarakat kerap miris melihat adanya para politis ramai-ramai memasang foto dirinya di baliho berukuran raksasa.

Jika dirupiahkan cukup banyak jumlahnya. Padahal uang yang tidak sedikit itu bisa diberikan kepada masyarakat yang benar-benar terdampak pandemi dan juga nakes yang menjadi garda terdepan.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Inersia

Empat Alasan Anak Tidak Butuh Vitamin

Vitamin mendukung anak-anak untuk menjaga imunitas. Terlebih untuk anak-anak  di tengah pand
berita-headline

IXU

Varian Mu Terdeteksi di Indonesia?

WHO telah mengumumkan adanya varian Covid-19 bernama Mu. Pertama k
berita-headline

IXU

Kapan Status Endemi Covid-19 Bisa Dicapai di Indonesia?

Kapan Indonesia keluar dari situasi pandemi menjadi endemi covid-19?Jawaban:
berita-headline

Viral

2.252 Varian Delta Terdeteksi di 33 Provinsi

Sebanyak 2.252 kasus varian Delta terpantau di 33 provinsi di Indonesia. Hal ini menjadikan setia
berita-headline

Viral

5 Atlet PON Asal DKI Terpapar Covid-19, Dokter Curiga Varian Baru

Sebanyak lima atlet PON XX asal Jakarta terpapar Covid-19 dan kini harus menjalani isolasi mandir