Sabtu, 25 Juni 2022
25 Dzul Qa'dah 1443

Erdogan akan Jegal Finlandia dan Swedia Gabung NATO

Selasa, 17 Mei 2022 - 13:05 WIB
Erdogan - inilah.com
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan - ist

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menolak Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan aliansi militer Pakta Pertahanan Antlantik Utara (NATO).

Melansir AFP, Selasa (17/5/2022), Erdogan keberatan dengan dua negara tesebut karena tak bersahabat dengan Turki, bahkan keduanya pernah menjatuhkan sanksi ke Turki.

“Kami tak akan mengatakan ‘ya’ kepada kepada mereka yang menjatuhkan sanksi terhadap Turki untuk bergabung dengan organisasi keamanan NATO,” kata Erdogan.

Sanksi yang dimaksud Erdogan yaitu, penangguhan penjualan senjata oleh Swedia ke Turki sejak 2019. Sanksi itu dilakukan usai operasi militer Ankara di Suriah.

“Mereka katakan akan datang ke Turki pada Senin. Akankah mereka datang untuk membujuk kami? Maaf, tapi mereka tak perlu repot,” tegas Erdogan.

Baca juga
Polisi Kantongi Identitas Pengancam Teror Bom Kedubes Belarus

Filandia dan Swedia sudah menyatakan diri akan bergabung dengan NATO karena invasi Rusia ke Ukraina. Namun, Turki megancam akan memblokir ekspansi aliansi blok militer itu.

Tak hanya karena sanksi, Turki juga mempunyai sejumlah alasan lain akan menolak kedua negara Nordik itu bergabung dengan NATO.

Diantaranya, kedua negara itu ditengarai menyembunyikan kelompok teror termasuk milisi Kurdi yang masuk daftar hitam Turki, Uni Eropa dan Amerika Serikat.

“Tak ada satu pun negara yang (tak) punya sikap tegas terhadap organisasi teror,” kata Erdogan.

Alasan lainnya soal ekstradisi. Finlandia dan Swedia tidak memenuhi permintaan itu selama lima tahun terakhir.

Baca juga
Festival Film Cannes Larang Kehadiran Delegasi dari Rusia

Kementerian Kehakiman Turki menginginkan orang-orang yang dituduh punya hubungan dengan militan Kurdi atau dalam gerakan upaya kudeta Erdogan pada 2016 lalu. Namun Finlandia dan Swedia tak memenuhinya.

Turki juga mengecam Stockholm karena menunjukkan kelonggaran terhadap Partai Pekerja Kurditan (PKK) yang melancarkan pemberontakan berdarah ke Turki sejak 1984.

Sebagai informasi, untuk menjadi anggota NATO, sebuah negara harus mendapat persetujuan oleh seluruh anggota aliansi itu yang berjumlah 30 negara.

Tinggalkan Komentar