Selasa, 07 Februari 2023
16 Rajab 1444

Faktor High Base-Effect, Sri Mulyani Teropong Perlambatan Ekonomi di Kuartal IV

Rabu, 09 Nov 2022 - 12:51 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Sri Mulyani Sebut Indonesia Bisa Ciptakan Kemandirian Enerigi
Menkeu Sri Mulyani Indrawati (Foto: Istimewa)

Pertumbuhan ekonomi di triwulan IV-2022 diperkirakan akan sedikit mengalami moderasi alias perlambatan jika dibandingkan dengan triwulan III-2022. Pada kuartal III, ekonomi mampu tumbuh 5,72 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Perkiraan itu datang dari Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. “Perkiraan ini terutama mempertimbangkan siklus perekonomian yang biasanya melambat di akhir tahun, serta high base-effect pada triwulan IV-2021,” ujar Sri Mulyani dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu (9/11/2022).

High base-effect adalah kecenderungan pertumbuhan dari nilai yang kondisi awalnya tinggi. Kondisi sebaliknya adalah low base-effect.

Adapun pada triwulan keempat tahun lalu, ekonomi Indonesia mampu meningkat 5,02 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh 3,51 persen (yoy).

Baca juga
Bamsoet: Sri Mulyani Selalu Batalkan Rapat dengan MPR

Secara keseluruhan tahun 2022, ia pun memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5 persen (yoy) sampai 5,3 persen (yoy) atau sedikit meningkat dari perkiraan sebelumnya, yakni 5,2 persen (yoy).

Optimisme tersebut berdasarkan beberapa landasan objektif, yakni berbagai indikator ekonomi makro yang terus menguat, implementasi berbagai kebijakan yang cukup efektif untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, serta pengelolaan APBN yang bijaksana, responsif, dan efektif sebagai instrumen countercyclical sekaligus peredam gejolak sehingga keberlanjutan pemulihan ekonomi nasional dapat terus dijaga.

Intervensi kebijakan pemerintah dilakukan baik dari sisi pasokan melalui berbagai insentif fiskal dan dukungan pembiayaan, bersinergi dengan otoritas moneter dan sektor keuangan, maupun dari sisi permintaan untuk mendukung daya beli masyarakat baik dalam bentuk berbagai program bansos, subsidi maupun pengendalian inflasi.

Baca juga
Lapangan Banteng Optimis Ekonomi Akhir 2021 Tembus 5,1 Persen

Sri Mulyani melanjutkan, di tengah optimisme pemulihan yang terus berjalan, meningkatnya risiko ketidakpastian serta pelemahan prospek pertumbuhan global akibat konflik geopolitik perlu terus diantisipasi. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global sudah mulai berada pada zona kontraksi dalam dua bulan terakhir.

Kemudian, terdapat tekanan inflasi global yang berkepanjangan, khususnya di kawasan Eropa dan Amerika Serikat, yang akan memicu pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif yang berpotensi menimbulkan guncangan di pasar keuangan, khususnya di negara berkembang.

“Aliran modal ke luar meningkat dan menimbulkan tekanan besar pada nilai tukar lokal sebagaimana kita saksikan belakangan ini,” tambahnya.

Di sisi lain, ia menilai pencapaian pertumbuhan ekonomi triwulan ketiga tahun ini mencerminkan terus menguatnya pemulihan ekonomi nasional di tengah peningkatan ketidakpastian prospek ekonomi global.

Baca juga
IKN Pindah dari Jakarta ke Kaltim, Dampak Ekonominya Gak Nendang

Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III-2022 tercatat sebesar 5,72 persen (yoy) dan secara kuartalan sebesar 1,8 persen (quarter-to-quarter/qtq). Dengan tingkat pertumbuhan ini, level produk domestik bruto (PDB) nasional secara kumulatif sampai dengan triwulan III-2022 berada 6,6 persen di atas level kumulatif triwulan I-2019 sampai triwulan III-2019.

Tinggalkan Komentar