Minggu, 25 September 2022
29 Safar 1444

Fenomena Bunuh Diri, Mengapa Terus Terjadi?

Kamis, 21 Apr 2022 - 12:10 WIB
Fenomena Bunuh Diri
(ilustrasi)

Krisis kesehatan mental sudah semakin memburuk. Peristiwa bunuh diri menghiasi berita-berita online dan media sosial. Tak hanya orang tua, anak-anak muda seringkali mudah putus asa dan kehilangan arah. Sebuah pekerjaan sulit seperti mengurai benang kusut kesehatan mental warga di tengah gempuran kesulitan ekonomi di masa pandemi.

Selasa (19/4/2022), seorang remaja, warga Desa Bulusari, Kalipuro, Banyuwangi berinisial H (19) nekat menghakhiri hidupnya dengan mengarahkan kepalanya kepada mesin pemotong kayu gara-gara depresi berat.

Sebelumnya di Garut, seorang ibu dan dua anaknya ditemukan telah meninggal dunia di dalam kamar di rumahnya di Perum Jati Putra Asri, Desa Cibunar, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Peristiwa itu diduga akibat aksi pembunuhan dan bunuh diri yang dipicu rasa kekecewaan akibat persoalan rumah tangga.

Masih banyak lagi contoh kasus bunuh diri di Tanah Air. Begitu gampangnya orang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Fenomena seperti ini juga banyak terjadi di luar negeri. Di Korea Selatan banyak remaja bahkan artis yang sudah terkenal memutuskan mengakhiri nyawanya sendiri. Sungguh tragis, bintang idola yang dipuja-puja penggemarnya ternyata mengalami depresi dan memilih bunuh diri.

Di Jepang, pemerintahnya tengah berjuang mengatasi krisis kesehatan mental. Bayangkan saja, ketika virus corona merajalela, lebih banyak orang meninggal dalam satu bulan karena bunuh diri ketimbang COVID-19 sepanjang tahun. Badan Kepolisian Nasional Jepang mengatakan angka bunuh diri melonjak menjadi 2.153 pada Oktober 2021 saja, dengan lebih dari 17.000 orang bunuh diri sepanjang tahun ini.

Bunuh diri merupakan fenomena global, yang sudah menjadi perhatian dari World Health Organization. WHO sendiri mendorong negara anggota untuk berjuang menurunkan angka bunuh diri. Pandemi yang berimbas pada banyak sektor kehidupan terutama ekonomi menjadi pukulan berat bagi banyak orang di banyak negara apalagi di Indonesia.

Baca juga
Puji Aksi Heroik Sopir TransJakarta, Anies: Terima Kasih Pak Khaerun!

Bagi orang luar, tindakan bunuh diri dianggap tidak irasional. Hal ini mengingat, seharusnya setiap manusia memiliki insting untuk mempertahankan diri atau menyelamatkan diri. Bukan malah menghabisi nyawanya sendiri. Bagi yang memutuskan bunuh diri, mereka akan berpikir dengan mengakhiri nyawanya maka rasa sakit yang dirasakannya akan hilang. Padahal tidak.

Bukan Aksi Mendadak

Menarik menyimak kutipan psikiater dr Jiemi Ardian di channel YouTube-nya, bahwa pikiran bunuh diri adalah sebuah spektrum perjalanan, bukan aksi mendadak. Pikiran bunuh diri merupakan sebuah spektrum dimulai dari pikiran bunuh diri pasif, pikiran bunuh diri aktif dan perencanaan bunuh diri.

Lalu apa yang mendorong keinginan bunuh diri? Sebenarnya sangat banyak. Tema besar dari bunuh diri menurut Shneidman adalah Psychache, atau gampangnya, ‘nyeri pada jiwa’. Nyeri ini baru terungkap jika korban bicara secara terbuka, jika kita mendengarkan tanpa penghakiman, lepas dari asumsi, lepas dari stigma.

Hanya saja, bunuh diri di negara kita masih dipenuhi dengan stigma. Alih alih mendorong untuk mencari solusi dan pertolongan, mereka yang memiliki dorongan bunuh diri mendapat hinaan, penghakiman, dan tuduhan dari lingkungan. Tentu saja hal ini memperburuk nyeri pada jiwa yang sedang ia rasakan.

Nyeri pada jiwa ini ini tidak akan nampak dalam penerawangan biasa, kecuali jika nyeri ini sudah begitu mengganggu. Pernah lihat kan orang yang nyeri kepala tapi sedikit, hidupnya pasti biasa saja. Masih bisa aktivitas, masih bisa senyum, tapi begitu nyeri ini berat maka semua aktivitasnya akan terganggu.

Baca juga
Seorang Wanita Loncat dari Lantai 7 Mal Kuningan City

Begitupun dengan nyeri pada jiwa, awalnya mungkin tidak terlihat. Namun seiring waktu nyeri pada jiwa ini membesar, menguat, menetap dan tidak mau pergi, kehidupan pun menjadi taruhannya.

Pahami Rasa Sakit

Pemahaman akan adanya rasa sakit di balik pikiran/ tindakan bunuh diri ini penting. Seseorang tidak serta merta ingin mengakhiri hidupnya, kecuali jika rasa sakitnya terlalu dalam. Artinya sebenarnya dia ingin mengakhiri rasa sakitnya bukan ingin mengakhiri hidupnya.

Sementara bagi remaja, juga penting untuk terlebih dahulu memahami pola pikir remaja untuk memahami kasus bunuh diri. Gejala umum seperti dilaporkan banyak orang tua adalah perubahan sikap anak mereka yang tenang dan mudah ditebak berubah menjadi remaja yang pemberontak dan agresif. Itu terjadi karena otak anak mengalami perubahan dramatis selama masa remaja, yang membuat pikiran mereka kacau balau. Sederhananya, otak remaja bukanlah otak orang dewasa yang berkembang sepenuhnya.

Menurut Suicide.org, kasus bunuh diri pada remaja meningkat dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Menurut catatan, setiap 100 menit seorang remaja bunuh diri. Bunuh diri adalah penyebab kematian ketiga terbesar bagi kaum muda berusia 15 hingga 24 tahun.

Fakta lainnya, sekitar 20 persen dari semua remaja mengalami depresi sebelum mereka mencapai usia dewasa. Kemudian antara 10 hingga 15 persen menderita gejala pada satu waktu. Hanya 30 persen remaja yang depresi yang dirawat karenanya. Remaja memang rentan mengalami kesulitan menghadapi stres, yang disebabkan oleh kegagalan, penolakan, dan kekacauan keluarga.

Pencegahan

Mungkin sulit untuk mengetahui dengan tepat bagaimana membantu seseorang yang mengalami depresi atau hendak bunuh diri. Termasuk apa yang harus dikatakan kepada seseorang yang mengalami masa sulit. Ingatlah bahwa setiap orang berbeda, penting untuk berbicara dengan tentang apa yang mereka butuhkan.

Baca juga
Sri Lanka Tunjuk Sembilan Anggota Kabinet Baru

Bagaimana Anda tahu jika teman Anda sedang mengalami masa-masa sulit? Terkadang sulit untuk mengetahui perbedaan antara suka dan duka dalam hidup, termasuk masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental mungkin merasa malu, dan khawatir tentang bagaimana reaksi teman mereka jika mereka membicarakannya. Biasanya ditandai dengan sedih atau menangis, atau lebih sering marah.

Juga bermasalah dengan tidur, minum alkohol atau menggunakan obat-obatan lebih dari biasanya, memiliki hampa, lelah, atau tidak berharga. Terkadang juga pesimis dan putus asa menghadapi persoalan hidup.

Yang pasti, masalah bunuh diri bukan hal sederhana, seperti mengurai benang kusut untuk menyejahterakan mental masyarakat. Tidak akan selesai dengan hanya menyuruh orang untuk tetap tenang, bersabar, bersyukur atau positive thinking.

Perlu dorongan dari banyak pihak, dari orang terdekat sampai pada pertolongan profesional kesehatan mental dan selanjutnya mendapatkan kebahagiaannya kembali. Sekaligus menciptakan kondisi sosial ekonomi yang menjauhkan warganya dari tekanan dan kesengsaraan. Agar fenomena bunuh diri ini tidak terus terjadi. [ikh]

 

Tinggalkan Komentar