Rabu, 08 Februari 2023
17 Rajab 1444

Fomepizole Obat Gagal Ginjal Akut, Kenali Efek Samping dan Cara Kerjanya

Kamis, 10 Nov 2022 - 16:07 WIB
Fomepizole Gagal Ginjal
(dok. Kemenkes)

Fomepizole menjadi penyelamat efektif mengatasi gagal ginjal akut yang marak terjadi pada anak-anak di Tanah Air. Bagaimana cara kerja obat ini dan apa saja efek sampingnya?

Hingga Minggu (6/11/2022) kasus gagal ginjal akut sudah menyerang 324 anak dan 195 meninggal. Kementerian Kesehatan telah mendatangkan obat penawar dari Australia dan Singapura antidotum fomepizole. Obat ini pun ternyata efektif untuk mengobati anak yang terkena gagal ginjal akut.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Yanuarso Basarah mengakui obat ini cukup efektif. “Waktu pasien gagal ginjal akut masuk ke rumah sakit sore, malamnya sudah masuk fomepizole, Alhamdulillah ya, dua hari apa tiga hari gitu, sekarang sudah pindah ke ruang bangsal. Jadi ini respons bagus bagus sekali,” ungkap dr. Piprim, Rabu (9/11/2022).

Seperti diketahui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam temuannya menyebutkan, salah satu pemicu penyakit gagal ginjal akut pada anak-anak adalah cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Kedua zat ini menurut hasil investigasi terdapat pada obat sirup yang beredar di Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun menarik puluhan merek obat sirup yang mengandung zat ini.

Baca juga
Pasuruan Maksimalkan 40 Persen Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau untuk Kesehatan

EG dan DEG merupakan senyawa yang strukturnya sangat sederhana namun memiliki tingkat toksisitas yang sangat tinggi. Senyawa ini sebenarnya tidak diperbolehkan, baik dalam obat maupun makanan. Tetapi senyawa ini umumnya masih ada sebagai impurities atau cemaran dari bahan tambahan dalam produksi obat sirup.

Efek samping

Fomepizole merupakan penangkal racun jenis tertentu. Digunakan untuk mengobati keracunan akibat metanol atau zat yang terkandung dalam pelarut pada bahan kimia sera etilen glikol yang juga merupakan zat pelarut. Obat ini juga sering digunakan bersama dengan hemodialisis guna membersihkan tubuh dari racun.

Seperti obat lainnya, Fomepizole, memiliki beberapa efek samping. Mengutip Drugs.com ada beberapa tanda-tanda efek samping dari obat ini seperti tanda-tanda reaksi alergi. Di antaranya, gatal-gatal, sulit bernapas, pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.

Baca juga
Kenali Paxlovid, Obat COVID-19 yang Baru Saja Dapat Izin Edar BPOM

Bisa juga muncul ruam kulit, memar, kesemutan parah, mati rasa, nyeri, kelemahan otot. Beberapa pasien mengalami mual parah, pusing parah atau sensasi berputar bahkan seperti akan pingsan. Efek samping yang umum mungkin termasuk juga mengantuk dan rasa tidak enak di mulut. Ada pula gangguan pada penciuman, gangguan bicara/penglihatan, penglihatan kabur sementara, serta dengungan di telinga.

Meskipun tidak diketahui apakah obat ini membahayakan janin atau tidak, ibu hamil tidak disarankan menggunakan fomepizole. Namun, perlu memberikan informasi kepada dokter ketika pasien sedang mengandung, saat akan menggunakan obat ini. Hal yang sama juga perlu dilakukan ketika pasien sedang dalam masa menyusui.

Bagaimana cara kerja obat ini?

Juru Bicara Ikatan Apoteker Indonesia, Keri Lestari menjelaskan mengenai cara kerja fomepizole dalam mengatasi penyebab penyakit gagal ginjal akut, berupa cemaran etilen glikol pada obat sirup. “Nah si fomepizole tadi, dia mencegah etilen glikol ini dimetabolisme lebih lanjut oleh adanya enzim ADH yang kita sebut sebagai alkohol dehidrogenase,” papar Keri, Rabu (9/11/2022).

Baca juga
Varian Batuk pada Pasien Omicron Beragam

Ia juga menerangkan, fomepizole bisa mencegah perburukan akibat kontaminasi etilen glikol pada sirup yang dikonsumsi oleh pasien gagal ginjal, terus berlanjut. “Fomepizole ini sudah tersedia banyak sehingga ini bisa terjaga, sehingga tidak terjadi perburukan,” tambah Keri.

Lebih lanjut ia menyebut, hal ini disebabkan oleh pemblokiran yang dilakukan oleh fomepizole terhadap etilen glikol, sehingga proses metabolisme etilen glikol pada tahap selanjutnya terhenti. “Jadi enzimnya diblok, sehingga tidak terjadi perburukan lebih lanjut etilen glikol menjadi asam oksalat,” ungkap Keri.

 

Tinggalkan Komentar