Gang Senggol, Tempat Secercah Harapan Ibu

Gang Senggol, Tempat Secercah Harapan Ibu - inilah.com
Gang Senggol di Depan Rumah Ibu Nurhayati

Ada secercah harapan dari sebuah rumah yang terdapat
di salah satu gang senggol di daerah Tangerang Selatan. Nyatanya, rumah
tersebut mampu menafkahi empat orang yang tinggal disana sampai sekarang.

***

Sekitar pukul 15.00 WIB saya datang ke rumah rekan
saya, Putri (22) yang berada di daerah kota Tangerang Selatan, Banten. Rencana awal
saya, saya ingin mengerjakan skripsi bersama dengan Putri untuk menyelesaikan
syarat tugas akhir pada masa perkuliahan saya.

Saat sampai di rumahnya, ada satu hal yang menarik
yang mencuri pandangan saya, yaitu salah satu rumah yang berada tidak jauh dari
rumah Putri. rumah yang terdapat pada sebuah gang senggol. Jika di perhatikan
lagi, uniknya terdapat sebuah spanduk berwarna kuning pada pagar rumah yang
saya lihat tersebut.

Rumah tersebut nampak sederhana, dihiasi oleh banyak
tanaman di depan halaman. Cat pink mendominasi tembok yang ada. Pagar hitam
yang tertutup namun disertai spanduk kuning bertuliskan “Bakso dan Mie Ayam 77”
dan “Bubur Ayam 77.”



Rupanya rumah tersebut merupakan tetangga dari Putri
yang menjajakkan usahanya di rumah. Rumah tersebut menjual makanan berupa
bakso,mie ayam, dan bubur yang dapat dipesan melalui offline maupun online.
Penasaran, akhirnya saya pun bertanya pada Putri.

“Put, tetanggamu yang rumah itu jualan ya? Nanti untuk
makan kita pesan disana aja yuk!” tanyaku pada Putri yang sedang fokus terhadap
laptopnya.

“Iya, kamu tadi ngeliat spanduknya ya? Oke nanti kita
pesan disana, biar gak perlu jauh jalan keluar, setelah pesan nanti biasanya
langsung dibawain kesini kok sama ownernya” terang Putri yang nampak antusias.

Setelah dua jam berkutik di depan laptop, tak terasa
perut akhirnya mulai berbunyi menandakan kapasitasnya yang perlahan harus mulai
diisi oleh amunisi, yang tak lain dan tak bukan adalah makanan.

Putri dan saya beranjak keluar untuk membeli mie ayam
yang terdapat pada rumah berspanduk kuning tersebut. Tak membutuhkan waktu
lama, akhirnya kita telah sampai disana,

Saya dan Putri mengetuk pagar dan memberi salam.

“Assalamualaikum. Beeeelllliiiiiii!” ucapku lantang
bersamaan dengan Putri yang berada di depan pagar rumah tersebut yang masih
tertutup.

Beberapa detik kemudian seorang wanita membuka pagar
dan terlihat jelas wanita paruh baya yang memakai kerudung hitam dengan senyum
dibibirnya.

“Mau pesan apa Nak?” kata wanita tersebut masih sambil
tersenyum.

“Mau pesen mie ayamnya dua Ibu.” sahut Putri yang
sudah kenal betul pada pemilk rumah tersebut.

“Nanti dianter ya Bu ke rumah Putri kayak biasa.”
tambah Putri lagi.

“Siap, nanti dianter ya! Lagi ada temen ke rumah ya
Nak? tanya Ibu tersebut sambal melirik ke arahku.

“Iya, saya temannya Putri Bu. Lagi ngerjain skripsi di
rumahnya Putri.” tuturku menjelaskan.

Setelah memesan akhirnya kita kembali ke rumah Putri dan
menunggu untuk makanan datang. Tak sampai lima belas menit, pesanan saya dan
Putri akhirnya datang yaitu dua mie ayam.

Perlahan saya mencicipi mie ayam tersebut, dan rasanya
sangat enak, tak kalah dari mie ayam-mie ayam yang ada di resotran-restoran
lain walaupun mie ayam disini bertempat di rumah. Jujur, saya sangat speechless.

“Enak banget mie ayamnya!” tuturku pada Putri.

“Iya, soalnya setauku dulu ownernya itu suaminya salah
satu chef di Hotel Ciputra.”

Really?”

“Iya, nanti kita sambil ngobrol aja sama ibunya
setelah kelar makan, sambil kita sekalian balikin mangkok ke rumahnya dan
bayar.” kata Putri menjelaskan.

Setelah selesai makan, kami pun pergi untuk
mengembalikkan mangkok serta ingin membayar.

Saat kami selesai membayar, saya pun penasaran dan
mulai bertanya kepada ibu pemilik dari rumah tersebut, bagaimana asal mulai ia
bisa berjualan sampai harus berjualan di rumah seperti ini, yang notabennya
adalah di gang senggol yang hanya bisa masuk untuk satu kendaraan motor
berlalu-lalang.

Dan
inilah kisahnya…

Tepatnya Ibu Nurhayati (44), wanita paruh baya ini
yang bekerja sebagai ibu rumah tangga sekaligus berdagang bakso, mie ayam, dan
bubur yang berada tepatnya di rumah miliknya sendiri di daerah Pamulang,
Tangerang Selatan.

Rumhanya sekaligus tempat berjualannya berada di Jalan
Swadaya No. 158, Pondok Benda, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Ibu Nurhayati harus menghidupi suami, serta kedua
anaknya yang masih bersekolah. Suaminya merupakan mantan chef dari Hotel Ciputra dan saat ini suaminya telah pensiun dan
tengah sakit keras yang menjadikannya sudah tidak dapat bekerja lagi.

Katanya, hidupnya berubah semenjak suaminya telah
pensiun dan sakit keras. Otomatis saat ini ia harus membiayai kehidupannya dan
keluarga seorang diri.

Sebelumnya, ia bercerita pernah berjualan di luar dan
menyewa toko, namun saat pandemi Covid-19 mulai masuk, penjualannya sepi,
apalagi semenjak PPKM mulai diterapkan dan akhirnya ia memutuskan untuk gulung
tikar dan memutuskan untuk berjualan di rumah. Mengingat jika berjualan di
rumah, ia tidak perlu membayar uang sewa yang pada dasarnya hal inilah yang
sangat berat ditanggungnya saat berjualan di rumah, apalagi dalam kondisi
pandemi seperti ini.

Maka dari itu, saat ini ia hanya mengandalkan
penjualan offline, yaitu pembeli yang berada di sekitar rumah serta penjualan
online yang terdapat pada aplikasi-aplikasi ojek online yang tersedia. Dan
beliau mengatakan, “Sudah takdir Allah, saya ikhlas menjalaninya.”

“Saya yakin, selama kita bernafas, Allah pasti akan
selalu membeli rezeki pada hamba-Nya, dan selagi kita masih berusaha, pasti
selalu ada jalan.” tambahnya.

Saat Ibu tersebut bercerita, saya menyadari gang
senggolnya merupakan tempat secercah harapan untuknya. Tempatnya berlindung
dari segala terik, hujan, dan secercah harapan untuk menyambungkan hidup. Dan
disanalah terdapat harapan oleh keluarganya.

Sampai pada akhir cerita, saya teringat oleh kata-kata
beliau, “Kunci bahagia itu ada tiga hal Nak, bersyukur, bersabar, dan ikhlas”

Baca juga  Nakes Harus Diselamatkan

Saya pun tersenyum dan mengangguk mendengarkannya. Hal
luar biasa yang bisa saya ambil dari kisalh beliau.

Tinggalkan Komentar