Rabu, 28 September 2022
02 Rabi'ul Awwal 1444

Gara-gara China, Harga Minyak Dunia Berbalik Naik

Rabu, 27 Apr 2022 - 07:39 WIB
Gara-gara China, Harga Minyak Dunia Berbalik Naik

Harga minyak dunia berbalik naik dari penurunan sesi sebelumnya dalam hari bergejolak pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB, 27/4/2022).

Pasar mempertimbangkan rencana China untuk mendukung ekonominya terhadap kemungkinan penguncian virus Corona di ibu kotanya, Beijing.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni terangkat 2,67 dolar AS atau 2,6 persen, menjadi menetap di 104,99 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni bertambah 3,16 dolar AS atau 3,2 persen, menjadi ditutup di 101,70 dolar AS per barel.

Brent dan WTI telah turun sekitar 4,0 persen pada Senin (25/4) dan menyentuh posisi terendah masing-masing pada Selasa (26/4) di 101,08 dolar AS dan 97,06 dolar AS per barel, tertekan oleh kekhawatiran atas permintaan di China, importir minyak mentah terbesar dunia.

NYMEX ultra-low-sulfur diesel berjangka melonjak 9,2 persen menjadi menetap di 4,47 dolar AS per galon, rekor penutupan, setelah Polandia mengatakan bahwa Rusia memperingatkan bahwa pasokan gas akan berhenti pada Rabu waktu setempat.

Bank Sentral China mengatakan pada Selasa (26/4) bahwa pihaknya akan meningkatkan dukungan kebijakan moneter yang hati-hati untuk perekonomian negara dan setiap stimulus akan membantu meningkatkan permintaan minyak di tengah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global.

Baca juga
Harga Minyak Goreng di Atas Rp16 Ribu, Mendag Lutfi Salahkan CPO Mahal

“Pedagang minyak menempatkan ketakutan penguncian Beijing di belakang, dan sebaliknya berfokus pada lebih banyak stimulus yang datang dari China,” kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group.

Ibu kota China, Beijing, telah memperluas pengujian massal COVID-19 ke sebagian besar kota berpenduduk hampir 22 juta orang itu ketika penduduknya bersiap untuk penguncian yang serupa dengan pembatasan ketat di Shanghai.

Pemadaman terkait cuaca dalam produksi di cekungan serpih Bakken North Dakota, setelah badai salju menghantam listrik dan penguatan ekstrem produk-produk dengan penekanan pada harga diesel mendorong pasar, kata Scott Shelton, spesialis energi di United ICAP.

Raksasa energi Rusia Gazprom mengatakan kepada PGNiG Polandia bahwa mereka akan menghentikan pasokan gas di sepanjang pipa Yamal mulai Rabu pagi, kata PGNiG dalam sebuah pernyataan. Gazprom mengatakan pada Selasa (26/4) bahwa Polandia perlu mulai melakukan pembayaran di bawah skema baru pada Selasa (26/4).

Baca juga
Tak Ada yang Selamat, 120 Korban Pesawat China Eastern Sudah Diidentifikasi

“Rusia menuntut pembayaran dalam rubel dari Polandia kemungkinan akan mengakibatkan penghentian pasokan gas dan juga akan berkontribusi pada harga diesel yang lebih kuat,” kata Shelton pula.

Valero Energy Corp, penyulingan AS pertama yang melaporkan pendapatan untuk kuartal tersebut, mengatakan pihaknya memperkirakan permintaan produk akan tetap sehat.

Uni Eropa terus mempertimbangkan opsi untuk memotong impor minyak Rusia sebagai bagian dari kemungkinan sanksi lebih lanjut terhadap Moskow atas invasinya ke Ukraina, tetapi tidak ada yang secara resmi diusulkan.

Jerman mengatakan pihaknya berharap untuk mengganti semua pengiriman minyak dari Rusia dalam hitungan hari, sementara pedagang komoditas Trafigura Group mengatakan akan menghentikan semua pembelian minyak mentah dari perusahaan minyak negara Rusia Rosneft pada 15 Mei.

Namun, analis mengatakan pelepasan minyak dari cadangan darurat telah meredakan kekhawatiran atas ketatnya pasokan.

Kazakhstan juga telah meningkatkan produksi minyak mentah selama beberapa hari terakhir, sumber yang mengetahui data tersebut mengatakan kepada Reuters, setelah membatasinya karena kemacetan pada pipa ekspor utamanya.

Baca juga
Krisis Ukraina Kian Dalam, Harga Emas di Rekor Tertinggi 9 Bulan

Dalam sinyal bearish untuk pasar minyak, analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan bahwa persediaan minyak mentah AS telah meningkat sebesar 2,2 juta barel dalam seminggu hingga 22 April.

Jajak pendapat tersebut dilakukan menjelang rilis laporan inventaris dari American Petroleum Institute pada pukul 16.30 waktu setempat (20.30 GMT) pada Selasa (26/4/). Data resmi Badan Informasi Energi pemerintah akan dirilis pada Rabu.

“Fokus telah bergeser ke sisi permintaan dan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan telah sangat dikurangi dengan pelepasan 240 juta barel minyak SPR oleh anggota IEA dan oleh transaksi minyak Rusia meskipun tidak begitu jelas,” kata Tamas Varga dari pialang minyak PVM.

Tinggalkan Komentar