Kamis, 26 Mei 2022
25 Syawal 1443

Gara-gara CKPN, Rugi Bersih Bank Raya Capai Rp3,05 Triliun di 2021

Gara-gara CKPN, Rugi Bersih Bank Raya Capai Rp3,05 Triliun di 2021 - inilah.com
RUPST Bank Raya, Kamis 31 Maret 2022. Foto: Humas Bank Raya

Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Bank Raya Indonesia Tbk (Persero) melaporkan, emiten dengan kode saham AGRO ini telah membukukan rugi bersih sebesar Rp3,05 triliun sepanjang 2021.

Kerugiaan tersebut terpicu oleh kenaikan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang cukup signifikan. Demikian terungkap dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (1/4/2022).

Bank Raya menjelaskan peningkatan CKPN bertujuan untuk mendukung transformasi yang dijalankan perseroan, khususnya dalam peralihan dari bisnis legacy menjadi bank digital.

Bank Raya juga tengah melakukan pengelolaan terhadap kredit tidak lancar yang berasal dari bisnis legacy.

Transformasi bisnis Bank Raya dari bisnis legacy menuju pengembangan bisnis kredit digital telah menyumbangkan pertumbuhan pada penyaluran kredit digital melalui aplikasi PINANG (Pinjaman Tenang), yang mencapai Rp488 miliar pada akhir 2021 atau naik sebesar enam kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Baca juga
Asyiiik.. Transfer via BSI Mobile dengan Metode BI Fast Hanya Rp2500

Hal ini memperlihatkan komitmen Bank Raya untuk dapat terus memperluas akses penyaluran kredit yang merata di Indonesia.

Secara keseluruhan, Bank Raya mencatatkan penyaluran kredit yang diberikan sebesar Rp11,61 triliun, menurun 40,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) karena perubahan portofolio bisnis dari bisnis menengah ke bisnis digital.

Dana Pihak Ketiga

Selain itu, Bank Raya mencatatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp13,50 triliun atau turun sebesar 41,31 persen (yoy), yang mencerminkan kebijakan penurunan suku bunga simpanan yang diambil perseroan karena adanya penyesuaian kebutuhan dana akibat perubahan fokus bisnis.

Dari sisi biaya bunga, perseroan berhasil menjalankan bisnisnya dengan biaya bunga yang lebih efisien, sehingga terdapat penurunan beban bunga yang cukup signifikan pada akhir 2021, yaitu sebesar 40,80 persen (yoy) menjadi Rp773,62 miliar.

Baca juga
MIND ID Reklamasi 931,2 Ha Lahan Tambang Jadi Tambak Ikan dan Tempat Wisata

Penurunan ini diiringi dengan kegiatan operasional yang dapat dijalankan secara efisien, sehingga tanpa memperhitungkan CKPN atas aset, Bank Raya membukukan laba operasional sebelum pencadangan sebesar Rp582 miliar atau naik 53,18 persen (yoy).

Beberapa rasio lain yang memperlihatkan solidnya pertumbuhan bisnis perseroan adalah rasio margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) dan rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM/CAR) yang berhasil dijaga sesuai target Rencana Bisnis Bank, yaitu masing-masing sebesar 3,87 persen dan 20,24 persen.

Dalam RUPST, perseroan juga telah melaksanakan aksi korporasi dalam bentuk penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) dalam rangka memperkuat permodalan Bank Raya untuk memenuhi ketentuan regulator dalam pemenuhan modal inti minimal Rp2 triliun pada akhir tahun 2021.

Baca juga
Dosa Besar Palsukan Tanda Tangan, Menteri Erick Layak Pecat Arief Rosyid dari BSI

Melalui PMHMETD tersebut, pemegang saham telah menyerap secara optimal saham baru yang diterbitkan sebanyak 1.054.545.185 lembar saham dengan harga pelaksanaan Rp1.100 per lembar saham, sehingga perseroan menghimpun dana Rp1,16 triliun yang akan digunakan untuk modal kerja dalam penyaluran kredit digital.

RUPST juga menyetujui pengangkatan anggota Dewan Komisaris dan Direksi baru, yakni Rudhy Sidharta sebagai Komisaris Utama, Akhmad Fazri sebagai Direktur Keuangan, dan Dedy Hendrianto sebagai Direktur Retail Agri dan Pendanaan.

Ketiganya akan efektif menjabat setelah penilaian kemampuan dan kepatutan disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tinggalkan Komentar