Rabu, 28 September 2022
02 Rabi'ul Awwal 1444

Gara-gara Perangi Ukraina, ExxonMobil Kemas-kemas Tinggalkan Rusia

Rabu, 02 Mar 2022 - 10:07 WIB
Gara-gara Perangi Ukraina, ExxonMobil Kemas-kemas Tinggalkan Rusia

ExxonMobil siap keluar dari Rusia, termasuk meninggalkan ladang minyak. Merespons invasi militer Rusia ke Ukraina.

Disampaikan pihak ExxonMobil, Selasa (1/3/2022), keluarnya Exxon menambah panjang daftar perusahaan energi besar Barat yang keluar dari Rusia yang dikenal kaya minyak.

Keputusan Exxon minggat dari Rusia, termasuk menghentikan operasi di proyek produksi minyak dan gas besar di Pulau Sakhalin di Timur Jauh Rusia. British BP PLC, Shell dan Equinor ASA dari Norwegia, sebelumnya telah mengungkapkan rencana untuk meninggalkan operasi-operasi di Rusia. “Mengingat situasi saat ini, Exxon Mobil tidak akan berinvestasi dalam pengembangan baru di Rusia,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Exxon tidak memberikan jadwal untuk keluar, atau mengomentari potensi penurunan aset. Perusahaan mengutuk serangan Rusia dan mengatakan mendukung rakyat Ukraina. “Kami menyesalkan tindakan militer Rusia yang melanggar integritas wilayah Ukraina dan membahayakan rakyatnya,” kata Exxon.

Baca juga
Rusia Kepincut Kembangkan Nuklir di RI, Menteri ESDM: Kita Lihat Mana yang Kompetitif

Exxon telah mulai mengeluarkan karyawan yang merupakan warga negara AS dari Rusia, Reuters melaporkan sebelumnya, berdasarkan dua orang yang mengetahui masalah tersebut.

Exxon tahun lalu mempekerjakan lebih dari 1.000 orang di seluruh Rusia dengan kantor di Moskow, St. Petersburg, Yekaterinburg dan Yuzhno-Sakhalinst, menurut situs webnya.

Jumlah staf ekspatriat yang dievakuasi tidak jelas pada Selasa (1/3). Perusahaan mengirim pesawat ke Pulau Sakhalin untuk mengambil staf, kata salah satu orang yang mengetahui masalah tersebut.

Exxon mengoperasikan tiga ladang minyak dan gas lepas pantai besar yang beroperasi di Pulau Sakhalin atas nama konsorsium internasional perusahaan Jepang, India, dan Rusia. Perusahaan telah memajukan rencana untuk menambah terminal ekspor gas alam cair di lokasi tersebut.

Baca juga
Sejumlah Negara Uni Eropa Usir Puluhan Diplomat Rusia

“Bisnis Exxon di Rusia relatif kecil dalam konteks perusahaannya yang lebih luas, sehingga tidak memiliki signifikansi yang sama seperti yang dimiliki BP atau TotalEnergies, jika ingin meninggalkan aset Rusianya,” kata Anish Kapadia, direktur energi dan peneliti pertambangan Pallissy Advisors.

Perusahaan, yang telah mengembangkan ladang minyak dan gas Rusia sejak 1995, mendapat tekanan untuk memutuskan hubungannya dengan Rusia atas invasi Moskow ke Ukraina. Rusia menyebut tindakannya di Ukraina sebagai “operasi khusus”.

Fasilitas Sakhalin, yang telah dioperasikan Exxon sejak produksi dimulai pada 2005, merupakan salah satu investasi langsung terbesar di Rusia, menurut deskripsi proyek di situs web Exxon. Operasi tersebut telah memompa minyak dan gas hingga 300.000 barel per hari.

Baca juga
Rusia Balas Barat, Jatuhkan Sanksi untuk Joe Biden dan PM Trudeau

 

Tinggalkan Komentar