Jumat, 07 Oktober 2022
11 Rabi'ul Awwal 1444

Garap Pembangkit Listrik EBT, PLN Diutangi Bank Dunia dan AIIB Rp8,7 Triliun

Selasa, 15 Mar 2022 - 16:41 WIB
Garap Pembangkit EBT, PLN Diutangi Bank Dunia dan AIIB Rp8,7 Triliun
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo

Untuk membangun Pumped Storage Hydropower in The Java-Bali System, PT PLN (Persero) diguyur Bank Dunia dan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) senilai US$610 juta, atau setara Rp8,7 triliun.

Rincian utang yang digelontorkan kedua bank tersebut sebagai berikut. Bank Dunia sebesar US$380 juta dan AIIB senilai US$230 juta. Kementerian Keuangan dan PLN meneken Penerusan Pinjaman Luar Negeri (Subsidiary Loan Agreement) atau PPLN untuk proyek tersebut.

Penandatanganan dilakukan Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu Hadiyanto dan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo di Auditorium Kantor Pusat PLN, Jakarta. Pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Pumped Storage dengan kapasitas 1040 megawatt (MW) yang berlokasi di Jawa Barat, diharapkan meningkatkan kapasitas pembangkit listrik yang signifikan pada saat beban puncak. “Pembangunan PLTA terutama untuk kawasan permintaan tenaga listrik yang besar, di daerah Jawa Barat dan Jabodetabek. Selain itu, PLTA Pumped Storage juga mendukung transisi energi dan penurunan emisi karbon di Indonesia,” sebut Hadiyanto, dikutip Selasa (15/3/2022).

Menurut Hariyanto, Service Level Agreement (SLA) merupakan salah satu sumber untuk membiayai proyek pembangunan pembangkit listrik di Indonesia, terutama pembangkit listrik Energi Baru Terbarukan (EBT). EBT merupakan salah satu isu prioritas Presiden dalam program pembangunan nasional (RPJMN) yang didukung bersama.

Baca juga
Ekonom Bank Dunia Sarankan Indonesia Reformasi Kebijakan Subsidi

Negara-negara anggota G20 memiliki peran strategis dalam mewujudkan transisi energi yang bersih dan berkelanjutan, ujar Hariyanto, mengingat negara-negara anggota G20 menyumbang sekitar 75 persen dari permintaan energi global. “Untuk mendukung komitmen EBT sebesar 23 persen pada 2025 dan net zero emission (NZE) pada 2060, isu pendanaan diatasi dengan sumber pembiayaan dalam bentuk PPLN,” tambahnya.

Hadiyanto berpesan, kepada PLN agar melaksanakan proyek ini dengan sebaik mungkin dan wajib menekan potensi keterlambatan seminimal mungkin. “Dengan dana yang begitu besar dan pekerjaan pembangunan PLTA Pumped Storage yang penuh tantangan, PT PLN diminta membuat jadwal dan mengawasi setiap pengerjaan proyek secara ketat, dari sejak masa persiapan, pembangunan, hingga pemeliharaan,” pungkasnya.

Baca juga
Bangun PLTA, Arkora Hydro Genjot Pengembangan EBT

Hingga akhir Desember 2021, pembiayaan EBT melalui SLA yakni sebesar US$441,80 juta (Rp16,26 triliun). Sisanya, komitmen pembiayaan SLA untuk EBT yang belum disalurkan senilai US$ 197,5 juta (Rp2,82 triliun). Pembiayaan EBT yang masih proses SLA dan LA sebesar US$957,50 juta atau Rp 13,66 triliun.

 

Tinggalkan Komentar