Rabu, 30 November 2022
06 Jumadil Awwal 1444

Gas Air Mata, Ini Efeknya dari Mata Hingga Paru-paru

Selasa, 04 Okt 2022 - 01:38 WIB
Gas Air Mata pada Anak
(foto: beritajatim.com)

Dunia sepak bola tengah berkabung menyusul peristiwa kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang seusai laga Arema FC dan Persebaya yang menyebabkan 125 orang meninggal dunia. Salah satu pemicunya adalah penggunaan gas air mata yang dilontarkan oleh petugas keamanan. Apa efek gas mata terhadap tubuh?

Kerusuhan yang terjadi pada Sabtu (1/10/2022) malam itu menjadi insiden terburuk dalam sejarah sepak bola Indonesia dan bahkan dunia. Peristiwa ini berawal dari aksi Aremania tidak terima setelah timnya kalah 2-3 dari Persebaya untuk kali pertama dalam 23 tahun terakhir.

Untuk membubarkan para Aremania ini, petugas keamanan menggunakan gas air mata ke arah penonton yang tidak terkendali. Akibat penggunaan gas air mata ini, penonton yang panik berdesakan keluar lapangan dan menyebabkan lemas hingga sesak nafas.

Penggunaan gas air mata untuk menghalau penggemar sepak bola di stadion sejatinya sudah dilarang federasi sepak bola dunia FIFA. Dalam dokumen FIFA Stadium Safety and Security Regulations pada Bab III mengenai pengurus pertandingan (stewards), FIFA menetapkan larangan penggunaan gas air mata dalam pertandingan.

Tak hanya dilarang digunakan, gas air mata juga tidak bolah dibawa ke stadion. “Tidak boleh ada senjata api atau gas air mata yang dibawa atau digunakan (no firearms or crowd control gas shall be carried or used),” demikian tertulis dalam poin 19b Bab III FIFA Stadium Safety and Security Regulations.

Penggunaan gas air mata biasa digunakan petugas dari kepolisian di banyak negara untuk menghalau pada pengunjuk rasa atau para perusuh. Biasanya sebuah tabung berisi gas air mata ditembakkan ke arah masa kemudian menggeluarkan asap putih yang membuat mata pedih dan napas sesak.

Gas air mata merupakan kumpulan bahan kimia yang menyebabkan iritasi kulit, pernapasan, dan mata. Ini biasanya digunakan dari tabung, granat, atau semprotan bertekanan. Terlepas dari namanya, gas air mata bukanlah gas. Ini adalah bubuk bertekanan yang menciptakan kabut saat digunakan.

Baca juga
Komisi X DPR: Mari Fokus Evaluasi dan Pembenahan Tata Kelola Sepak Bola

Jenis gas air mata yang paling umum digunakan adalah chlorobenzalmalononitrile (gas CS). Ini pertama kali ditemukan oleh dua ilmuwan Amerika di 1928 dan Angkatan Darat AS mengadopsinya untuk mengendalikan kerusuhan pada tahun 1959. Jenis gas air mata lainnya yang umum termasuk oleoresin capsicum (semprot merica), dibenzoxazepine (gas CR), dan chloroacetophenone (gas CN).

Gas Air Mata

Apa Efek Gas Air Mata Bagi Tubuh?

Mengutip Healthline, kontak dengan gas air mata menyebabkan iritasi pada sistem pernapasan, mata, dan kulit. Rasa sakit terjadi karena bahan kimia dalam gas air mata mengikat salah satu dari dua reseptor rasa sakit yang disebut TRPA1 dan TRPV1.

TRPA1 adalah reseptor rasa sakit yang sama dengan minyak dalam mustard, wasabi, dan lobak untuk memberi mereka rasa yang kuat. Gas CS dan CR lebih dari 10.000 kali lebih kuat daripada minyak yang ditemukan dalam sayuran ini.

Tingkat keparahan gejala yang Anda alami setelah terpapar gas air mata dapat bergantung pada apakah Anda berada di ruang tertutup atau ruang terbuka? Berapa banyak gas air mata yang digunakan? Seberapa dekat Anda dengan gas air mata saat dilepaskan? Juga apakah Anda memiliki kondisi penyakit yang sudah ada sebelumnya yang mungkin menjadi lebih buruk?

Beberapa efek potensial dari paparan gas air mata meliputi gejala pada mata. Sesaat setelah terpapar gas ini, Anda dapat mengalami gejala pada mata seperti mata berair, kelopak mata menutup tidak sengaja, gatal, merasa panas seperti terbakar, kebutaan sementara, serta pandangan.

Sementara paparan jangka panjang dapat menyebabkan kebutaan, pendarahan pada mata, kerusakan saraf, katarak, hingga erosi kornea. Menghirup gas air mata juga dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Orang dengan kondisi pernapasan yang sudah ada sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala parah seperti gagal napas.

Baca juga
KLB PSSI, Perlu atau Tidak?

Gejala pernapasan dan gastrointestinal akibat gas air mata di antaranya, tersedak, terbakar dan gatal pada hidung dan tenggorokan Anda, kesulitan bernapas, batuk, mengeluarkan air liur, sesak dada, mual, muntah, diare dan gagal napas. Pada kasus yang parah dengan paparan gas air mata konsentrasi tinggi atau paparan di ruang tertutup atau dalam waktu lama dapat menyebabkan kematian.

Ketika gas air mata bersentuhan dengan kulit yang terbuka, dapat menyebabkan iritasi dan rasa sakit. Iritasi dapat berlangsung selama berhari-hari dalam kasus yang parah. Gejala lain termasuk gatal, kemerahan, melepuh, dermatitis alergi, luka bakar kimia dan gejala laiinya.

Gejala gas air mata lainnya, menurut Physicians for Human Rights, adalah paparan yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Paparan gas air mata dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung atau tekanan darah. Pada orang dengan kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya, ini dapat menyebabkan serangan jantung atau kematian.

Efek lainnya, menurut beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa paparan gas CS dapat meningkatkan risiko keguguran atau menyebabkan kelainan janin. Namun, tidak ada penelitian manusia yang cukup saat ini untuk mengetahui bagaimana gas CS mempengaruhi perkembangan janin pada manusia.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Agus Dwi Susanto menjelaskan bahwa paparan gas air mata bisa memberikan efek dalam berbagai tingkatan terhadap tubuh seseorang. Efeknya dapat terasa di luar maupun hingga ke pernapasan bahkan kematian. “Risiko kematian bisa terjadi bila menghirup dalam konsentrasi tinggi,” ujarnya, Minggu (2/10/2022).

Ia menjelaskan bahwa paparan gas air mata dapat menyebabkan iritasi dari hidung, tenggorokan, sampai dengan saluran napas bawah. Saluran pernafasan bisa terpengaruh oleh paparan gas tersebut. “Gejala dari hidung berair, rasa terbakar di hidung dan tenggorokan, batuk, dahak, nyeri dada, sesak napas,” kata dr Agus.

Baca juga
Kebakaran Terminal Peti Kemas di Bangladesh Tewaskan 16 Orang

Mengatasi Efek Gas Air Mata

Tidak ada obat penawar untuk gas air mata, jadi pengobatan bergantung pada bagaimana cara Anda mengatasinya. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), usahakan Anda harus segera menjauh dari sumber gas air mata setelah terpapar dan mencari udara segar.

Uap dari gas air mata akan mengendap di tanah, jadi sebaiknya mencari tempat yang lebih tinggi jika memungkinkan. Melepaskan pakaian bisa menjadi ide yang baik mengingat kemungkinan pakaian terkontaminasi serta segeralah mandi dengan sabun dan air untuk menghilangkan uap dari kulit. Anda juga dapat segera mencuci mata dengan membilasnya menggunakan air bersih sampai gas air mata benar-benar hilang.

Komplikasi gas air mata bisa semakin parah jika semakin lama terpapar. Meminimalkan jumlah waktu bersentuhan dengan gas dengan menjauh secepat mungkin dapat meminimalkan risiko mengembangkan efek samping yang lebih parah.

Anda mungkin dapat meminimalkan paparan Anda dengan menutupi mata, mulut, hidung, dan kulit sebanyak mungkin. Mengenakan syal atau bandana di hidung dan mulut dapat membantu mencegah sebagian gas memasuki saluran udara. Mengenakan kacamata juga dapat membantu melindungi mata Anda.

Mengingat efeknya yang berdampak buruk pada kesehatan tubuh bahkan bisa menimbulkan kematian, ada baiknya Anda menghindari kerumunan berpotensi kerusuhan dan kemungkinan pemberian gas air mata oleh petugas keamanan.

Sementara bagi petugas, sebaiknya meminimalkan penggunaan gas mata untuk meredam aksi masa, apalagi pendukung sepak bola. Masih banyak teknik lain yang bisa digunakan petugas untuk mengatasi aksi massa.

Tinggalkan Komentar