Gegara Utang di Bank Pelat Merah, Saham PSAB Terancam Tertekan

Gegara Utang di Bank Pelat Merah, Saham PSAB Terancam Tertekan - inilah.com

Musim pandemi COVID-19, banyak perusahaan tersandera kredit macet atau utang di bank. Kondisi ini tentunya berdampak kepada keuangan perusahaan, termasuk perkembangan harga sahamnya di lantai bursa. Contohnya, saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) berpotensi mengalami tekanan. Lantaran gagal bayar fasilitas B senilai US$40 juta kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (Persero/BBNI).  

Analis pasar modal Reza Priyambada mengatakan, pelaku pasar akan menjaga portofolio investasinya dengan menjauhi emiten-emiten yang sedang mengalami persoalan kewajiban pelunasan utang, salah satunya yang sedang mendera J Resources Nusantara, anak usaha PSAB.

“Pelaku pasar akan melihat sejauh mana kasus ini dapat diselesaikan, umumnya kalau ada permasalahan maka pelaku pasar akan menjauhi dulu sampai terdapat penyelesaian kasus ini,” kata Reza, di Jakarta, Selasa (14/9/2021).
     
Menurut dia, tekanan jual terhadap PSAB akan berlanjut jika penyelesaian permalasahan ini berujung kepada penyitaan aset emiten tambang emas itu. “Hal itu akan berdampak kegiatan operasional PSAB,” terangnya.

Baca juga  Ali Kalora Tewas, Warga Diminta Tenang

Di sisi lain sisi lain, lanjut Reza, Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengamati penyelasaian permasalahan kasus ini. “Potensi suspend ada, tapi kalau pengaruhnya tidak signifikan paling hanya diminta menyampaikan keterangan,” tuturnya.

Sebelumnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) meminta J Resources Nusantara (JRN), anak usaha PSAB segera membayar kredit yang jatuh tempo pada 31 Agustus 2021.Hal itu tertuang dalam jawaban BBNI atas pertanyaan regulator bursa yang diunggah pada laman bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/9/2021).

“Kredit telah jatuh tempo pada 31 Agustus 2021 dan sesuai perjanjian, kewajiban tersebut harus segera diselesaikan,” tulis manajemen BBNI.

Namun, BBNI telah mempertimbangkan prospek bisnis industri pertambangan serta kemampuan bayar anak usaha PSAB itu. Selanjutnya, BBNI telah melakukan mitigasi atas potensi risiko yang terjadi seperti menetapkan pencadangan.

Baca juga  Siapakah IHW, Bos GCA Punya Duit Segunung Siap Bantu Pemerintah Lunasi Utang

Sementara, PSAB telah menyampaikan jawaban atas pernyataan BBNI itu. Dalam jawaban PSAB kepada BEI, dalam proses pembiayaan ulang atas fasilitas B senilai US$40 juta kepada BBNI. Bahkan, pada 27 Agustus 2021, perseroan dan salah satu pihak yang akan memberikan fasilitas refinancing atas fasilitas B, telah melakukan pertemuan dengan BBNI.

Dalam pertemuan, pihak JRN siap membayarkan sebagian tanggungan dari fasilitas B, yaitu sebesar US$5 juta sebelum 31 Agustus 2021. Sisanya sebesar US$32,987 juta, serta bunganya akan dibayarkan secara penuh paling lambat 30 September 2021.

Selanjutnya, pada 27 Agustus 2021, JRN mengirimkan surat kepada BBNI yang berisi mengenai komitmen JRN untuk melaksanakan hasil diskusi antara JRN dan BBNI tersebut dan pada tanggal 30 Agustus 2021.

Ditegaskan, JRN telah membuktikan komitmennya sesuai hasil diskusi pada 27 Agustus 2021, dengan melakukan pembayaran sebagian Fasilitas B kepada Bank BNI, yaitu sebesar US$5 juta.  

Baca juga  Utang Pemerintahan Jokowi Mendekati Rp7.000 Triliun, Betul Prediksi Prof Didik Rachbini

Pada 1 September 2021, JRN menerima surat dari BBNI yang menyatakan bahwa Fasilitas A dan Fasilitas B yang telah diutilisasi oleh JRN berdasarkan Secured Facilities Agreement, yaitu sebesar USD 95,087 juta menjadi jatuh tempo dan harus dibayar secara sekaligus dan seketika.

“Kami sangat terkejut karena isi dari surat tersebut sangat berbeda dengan hasil pertemuan antara JRN dan BNI pada tanggal 27 Agustus 2021,” tulis manajemen PSAB.

Untuk diketahui, fasilitas B senilai US$50 juta yang diraih pada 12 April 2019, sejatinya jatuh tempo pada 12 April  2020. Rencananya, fasilitas ini akan dilunasi dengan dana hasil right issue.

Selain itu, JRN mendapat Fasilitas A sebesar US$96,529 juta yang akan jatuh tempo pada 16 Maret 2024. Kemudian, fasilitas C sebesar US$95,455 juta yang jatuh tempo 8 tahun sejak tanggal perjanjian.

Tinggalkan Komentar