Selasa, 31 Januari 2023
09 Rajab 1444

Geger Kasus HIV di Bandung, ARV Masih Jadi Primadona Terapi 

Rabu, 31 Agu 2022 - 13:18 WIB
Obat Antiretroviral Fixed Dose Combination jenis Tenofovir, Lamivudin, Efavirens (ARV FDC TLE) yang digunakan untuk terapi pengobatan orang dengan HIV AIDS (ODHA).
Obat Antiretroviral Fixed Dose Combination jenis Tenofovir, Lamivudin, Efavirens (ARV FDC TLE) yang digunakan untuk terapi pengobatan orang dengan HIV AIDS (ODHA).

Belakangan heboh kasus HIV di Bandung yang dilaporkan sekitar 407 mahasiswa mengidap virus tersebut. Namun ternyata data tersebut adalah akumulasi selama 31 tahun belakang. Meski begitu, pengobatan yang digunakan untuk menekan penyebaran HIV agar tidak semakin banyak terjangkit masyarakat adalah dengan menggunakan antiretroviral (ARV). 

Pada Juli 2018 WHO telah merekomendasikan dolutegravir yang merupakan obat dari golongan kelas penghambat integrase atau Integrase Inhibitor (INIs) yang dapat digunakan untuk pengobatan HIV sebagai alternatif pada terapi yang menggunakan efavirenz. 

Dengan demikian masuknya dolutegravir makin bertambahnya jenis golongan ARV yang digunakan khususnya di Indonesia.

Juru bicara Kementerian Kesehatan RI, dr. Mohammad Syahril Sp,P,MPH menjelaskan pengobatan HIV di Indonesia sudah menggunakan dolutegravir yang dikombinasikan dengan jenis obat ARV lainnya. 

“Ya (Sudah menggunakan obat tersebut untuk terapi HIV),” kata Mohammad Syahril saat dihubungi Inilah.com, Jakarta, Rabu, (31/8/2022). 

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu menjelaskan, seluruh temuan kasus HIV/AIDS di Bandung sudah mendapatkan pengobatan ARV untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, dan bisa meningkatkan kualitas hidup penderita HIV. 

Lantas, apa saja obat-obatan yang bisa dikonsumsi untuk menekan penyabaran HIV? Yuk, kenal lebih jauh dolutegravir yang menjadi obat pilihan utama untuk pasien HIV saat ini.

Menurut sumber dari yankes.kemkes.go.id, penemuan obat antiretroviral (ARV) pada tahun 1996 mendorong suatu revolusi dalam perawatan orang dengan HIV-AIDS (ODHIV). 

Tatalaksana medis infeksi HIV adalah pengobatan ARV, yang bertujuan mengurangi laju penularan HIV di masyarakat, menurunkan angka kesakitan dan kematian, memperbaiki kualitas hidup orang dengan HIV (ODHIV), memulihkan atau memelihara fungsi kekebalan tubuh, menekan penggandaan virus secara maksimal dan terus-menerus.

Saat ini, ada lebih dari 40 jenis obat antiretroviral yang telah disetujui untuk pengobatan HIV. 

Seiring berjalannya waktu, terapi ARV modern kini telah berkembang ke titik dimana efek samping obat berhasil dikurangi dan tetap efektif untuk menekan perkembangan virus.

Antiretroviral (ARV) merupakan bagian dari pengobatan HIV dan AIDS untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.

Sejauh ini obat ARV yang digunakan untuk pengobatan HIV di Indonesia ada tiga golongan utama, di antaranya :

1.     NRTI (Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor), seperti: Zidovudin, Lamivudin, Abacavir, Tenofovir, Didanosine dan Emtricitabine.

2.     NNRTI (Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor), seperti: Evafirenz, Nevirapin dan Rilpivirin.

3.     PI (Protease Inhibitor), seperti : Lopinavir/Ritonavir.

Pada Juli 2018 WHO telah merekomendasikan dolutegravir yang merupakan obat dari golongan kelas penghambat integrase atau Integrase Inhibitor (INIs) yang dapat digunakan untuk pengobatan HIV sebagai alternatif pada terapi yang menggunakan efavirenz. 

Dengan demikian masuknya dolutegravir makin bertambahnya jenis golongan ARV yang digunakan khususnya di Indonesia.

Mekanisme Kerja Dolutegravir

Dolutegravir bekerja dengan menghambat integrase, enzim yang dibutuhkan oleh HIV untuk memasukkan virus ke dalam DNA dari sel T CD4 pejamu. 

Saat HIV menulari sebuah sel dalam tubuh manusia DNA (kode genetik) HIV dipadukan dalam DNA sel induk. 

Pemaduan ini dibantu oleh enzim integrase. 

Dolutegravir menghambat pekerjaan enzim ini, dengan akibat DNA HIV tidak dipadukan pada DNA sel induk. HIV menulari sel tersebut, tetapi tidak mampu menggandakan diri.

Dosis

50mg sekali sehari untuk pasien dewasa dan remaja di atas usia 12 tahun dengan berat badan 40kg atau lebih, belum pernah menggunakan ARV sebelumnya atau sudah pernah menggunakan ARV lainnya selain penghambat integrase.

50mg dua kali sehari untuk pasien yang sudah pernah menggunakan penghambat integrase sebelumnya dan pasien yang memiliki atau diduga memiliki resistensi terhadap penghambat integrase lainnya.

50mg dua kali sehari untuk mereka yang menggunakan obat-obat berikut tanpa mempertimbangkan paparan terhadap penghambat integrase sebelumnya: efavirenz, rifampin, fosamprenavir/ritonavir, tipranavir/ritonavir.

Efek Samping

Dolutegravir bekerja dengan menghambat enzim integrase, sehingga tidak menyebabkan toksisitas pada manusia karena sel manusia tidak memilki enzim integrase. Efek samping yang umum terjadi seperti sakit kepala, mual, dan diare. Tetapi proporsi dengan reaksi parah hanya 1 persen. 

Jika dibandingkan dengan efavirenz dan rejimen berbasis golongan PI, dolutegravir jarang menyebabkan penghentian pengobatan karena efek samping. 

Meskipun demikian dolutegravir masih dianggap memiliki reaksi efek samping yang berhubungan dengan neuropisikiatrik yang menjadi alasan dari penghentian pengobatan dengan menggunakan dolutegravir.

Interaksi Obat

Dolutegravir berinteraksi dengan beberapa obat antiretroviral dan juga obat lainnya, yaitu :

Nevirapin : dapat menurunkan konsentrasi dolutegravir

Oskabamarzepin, fenitoin, phenobarbital, karbamazepin : dapat menurunkan konsentrasi dolutegravir

Antasida atau laksatif yang mengandung kation, sucralfat : dapat menurunkan dolutegravir

Metformin : dapat meningkatkan dolutegravir

Rifampisin : dapat menurunkan dolutegravir.

Populasi Khusus

Dolutegravir di kontraindikasikan pada pasien dengan riwayat reaksi hipersensitivitas terhadap dolutegravir, anak-anak usia dibawah 6 tahun, perempuan yang merencanakan kehamilan atau ibu hamil trimester ke-1 serta beberapa pasien dengan kelainan fungsi organ dengan pertimbangan dosis maupun pengawasan yang cukup.

Kemanjuran Dolutegravir

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan dolutegravir memiliki nilai kemanjuran adalah sebagai berikut :

1. Menurut Christoper & Sharon (2015), menjelaskan dolutegravir, INSTI terbaru, adalah agen antiretroviral yang efektif untuk pasien yang belum pernah menggunakan pengobatan dan pasien yang berpengalaman dengan pengobatan yang terinfeksi HIV. 

Hal ini didorong oleh penekanan virologi yang efektif, tolerabilitas yang baik, interaksi obat-obat yang jarang, dan pemberian sekali sehari. Koformulasi dolutegravir dengan abacavir-lamivudine memaksimalkan kepatuhan dan harus dipertimbangkan di antara pilihan awal untuk yang belum pernah menggunakan pengobatan.

2.     Menurut Analú Correa et al (2020), menyimpulkan bahwa dolutegravir telah terbukti menjadi obat dengan respons virologi tinggi dan tolerabilitas yang baik, dengan frekuensi efek samping yang rendah, yang ringan dan sedang.

3.     Menurut Eugenia et al (2018), disebutkan keuntungan utama dari rejimen berbasis DTG adalah kemungkinan untuk mengurangi beban pil menjadi dua pil sekali sehari, peningkatan kepatuhan pengobatan dan risiko rendah atau tidak adanya mutasi resistensi obat tambahan.

4.     Menurut Nsirimobu & Rosemary (2020), menunjukkan bahwa FDC berbasis DTG efektif dalam pengobatan anak dan remaja yang memenuhi syarat dengan HIV/AIDS dengan penekanan viral load yang signifikan pada semua kelompok umur, jenis kelamin, dan kelas sosial. Reaksi obat yang merugikan dengan penggunaan ARV berbasis DTG rendah.

Ketersediaan Dolutegravir

Di Indonesia saat ini dolutegravir sudah tersedia baik dalam bentuk tunggal (dolutegravir 50mg tablet) maupun dalam bentuk kombinasi tetap atau fixed doses combination (FDC) yang terdiri dari tenofovir 300mg, lamivudin 300mg dan dolutegravir 50mg yang disebut dengan FDC TLD.

Pemerintah Indonesia pun sudah menjamin keamanan dan legalitas bahwa obat FDC TLD sudah mendapatkan persetujuan dari BPOM dengan merk dagang Acriptega® pada bulan September 2020. 

Di sisi lain dolutegravir baik sediaan tunggal maupun FDC TLD pun sudah dimasukan kedalam Formularium Nasional (Fornas) sebagai obat program HIV pada tahun 2021.

Kelebihan Dolutegravir

1.     Terbukti efektif lebih cepat dalam menekan virus HIV terutama pada pasien yang belum pernah pengobatan maupun pasien yang mempunyai masalah terkait resistensi terhadap antiretroviral lain.

2.     Memiliki tolerabilitas yang baik karena reaksi efek samping lebih ringan dan interaksi obat minimal dibandingkan agen lain.

3.     Memiliki ukuran tablet yang lebih kecil sehingga lebih mudah untuk ditelan.

4.     Sudah tersedia dalam bentuk kombinasi tetap (FDC TLD) sehingga mengurangi dosis minum obat menjadi 1 x sehari 1 tablet.

5.     Dapat diminum sebelum atau sesudah makan.

6.     Kemungkinan gagal terapi lebih rendah.

Kesimpulan

Sejak awal dolutegravir cukup menjadi bahan perhatian sebagai angin segar bagi pengobatan penderita HIV yang saat itu dinilai memiliki efektifitas yang sangat baik menekan virus HIV. 

Studi klinis lebih lanjut terus dilakukan untuk menilai kemanjuran dan keamanan dolutegravir. 

Sehingga dari beberapa penelitian yang dikutip dapat disimpulkan bahwa saat ini dolutegravir direkomendasikan sebagai pilihan utama bagi pengobatan HIV. 

Dolutegravir terbukti memiliki efek supresi virus yang tinggi dengan reaksi efek samping yang lebih ringan serta memiliki interaksi obat yang lebih sedikit. Dengan demikian harapan angka kesakitan dan kematian akibat HIV-AIDS dapat dicegah melalui pengobatan yang maksimal sehingga dapat terwujudnya target Three Zero pada tahun 2030.

Tinggalkan Komentar