Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

Gelombang Panas Jadi Pukulan Tambahan Ekonomi Dunia

Rabu, 27 Jul 2022 - 00:45 WIB
Gelombang Panas
(ist)

Banyak negara di berbagai belahan dunia mengalami gelombang panas. Di AS dan daratan Eropa mengalami suhu tertingginya. Sebuah pukulan baru yang memperberat perekonomian untuk bangkit di tengah terpaan krisis global yang terimbas pandemi dan invasi Rusia ke Ukraina.

Ratusan juta orang berjuang untuk tetap tenang di tengah gelombang panas musim panas yang terik di banyak negara. Di Inggris, sempat menyentuh suhu 40 derajat Celcius pada Selasa, 19 Juli 2022, sebagai level tertinggi yang pernah tercatat.

Peneliti Komisi Eropa mengatakan hampir setengah (46 persen) wilayah Uni Eropa terkena kekeringan tingkat peringatan. Sebelas persen berada pada tingkat siaga, dan tanaman sudah menderita kekurangan air.

Perubahan iklim ekstrem ini juga telah meningkatkan kondisi panas dan kering yang membantu api menyebar lebih cepat. Kebakaran dengan mudah terjadi di banyak negara. Di Prancis, Yunani, Portugal, dan Spanyol kebakaran telah menghancurkan ribuan hektar lahan. Di AS juga sama terjadi kebakaran hutan seperti yang terjadi di Taman Nasional Sequoia.

Para ahli menyalahkan perubahan iklim atas gelombang panas terbaru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini membuat banyak kekacauan. Misalnya saja banyak infrastruktur di negara-negara Barat yang memang tidak dibangun untuk menghadapi suhu seperti ini. Seperti jaringan transportasi Inggris, beberapa jalur kereta api ditutup dan layanan lainnya terhambat.

Baca juga
Era Resesi Ekonomi, Anak Buah Sri Mulyani Ramalkan Indonesia Bisa 5 Persen

Memperparah Kondisi Ekonomi

Cuaca panas tidak hanya menyengat di permukaan kulit, membuat dehidrasi atau membakar hutan dan objek lainnya tetapi menjadi pukulan berat bagi perekonomian di banyak negara. Apa yang terjadi dengan perubahan iklim ini juga memiliki dampak signifikan pada ekonomi yang lebih luas.

Associate Professor Ekonomi di University of Arizona Derek Lemoine, mengungkapkan, efek cuaca dan perubahan iklim dengan perekonomian cukup luas. Dalam penelitannya, seperti dikutip dari The Conversation, beberapa dampaknya itu dari mulai pertumbuhan yang terhambat, panen hasil komoditas yang terganggu, penggunaan energi berlebihan hingga dampak ke sektor pendidikan dan kemiskinan.

Penelitian telah menemukan bahwa panas yang ekstrem dapat secara langsung merusak pertumbuhan ekonomi. Misalnya, sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa ekonomi negara bagian AS cenderung tumbuh lebih lambat selama musim panas yang relatif panas. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tahunan turun 0,15-0,25 poin persentase untuk setiap 1 derajat Fahrenheit (0,56 derajat Celcius) bahwa suhu musim panas rata-rata suatu negara di atas normal.

Baca juga
Pangeran Charles Positif COVID-19, Sempat Bertemu Ratu Elizabeth

Buruh di industri yang terpapar cuaca seperti konstruksi bekerja lebih sedikit saat cuaca panas. Tetapi suhu musim panas yang lebih tinggi juga mengurangi pertumbuhan di banyak industri yang cenderung melibatkan pekerjaan di dalam ruangan, termasuk ritel, layanan, dan keuangan. Pekerja menjadi kurang produktif saat cuaca panas.

Imbas lainnya dari cuaca panas adalah mengganggu hasil panen. Di banyak negara suhu panas hingga 29-32 derajat Celcius dapat menguntungkan pertumbuhan tanaman. Namun, hasil panen turun tajam ketika suhu meningkat lebih jauh. Beberapa tanaman yang dapat terkena dampak panas yang ekstrem antara lain jagung, kedelai, dan kapas.

Tentu saja, saat cuaca panas mendorong peningkatan penggunaan energi karena orang dan bisnis menjalankan AC dan peralatan pendingin lainnya dengan kecepatan penuh. Sebuah studi 2011 menemukan bahwa hanya satu hari ekstra dengan suhu di atas 32 derajat Celcius meningkatkan penggunaan energi rumah tangga tahunan sebesar 0,4 persen.

Sementara dampak jangka panjang dari cuaca yang semakin panas mempengaruhi kemampuan anak-anak untuk belajar dan dengan demikian mengganggu masa depan mereka. Penelitian telah menunjukkan bahwa cuaca panas selama tahun ajaran mengurangi nilai ujian. Skor matematika semakin menurun saat suhu naik melebihi 21 derajat Celcius. Skor membaca lebih tahan terhadap suhu tinggi, yang menurut penelitian ini konsisten dengan bagaimana berbagai daerah di otak merespons panas.

Baca juga
Teledor Soal Amdal, Inspektur Tambang Diminta Awasi Pemegang IUP

Bagi yang tinggal di iklim tropis seperti Indonesia, setiap hari memang terbiasa dengan suhu panas hingga 39 derajat Celcius sehingga pengaruhnya tidak seperti yang terjadi di negara-negara belahan Bumi lainnya. Namun, berbeda dengan mereka yang tinggal di benua Eropa dan AS tentu akan sangat repot dengan suhu panas. Tak hanya menimbulkan korban harta dan jiwa tetapi juga mengganggu perekonomian mereka.

Tinggalkan Komentar