Minggu, 29 Mei 2022
28 Syawal 1443

Gerindra: Peran Pak Harto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 Sangat Besar

Soeharto Keppres 2 2022 serangan umum 1 Maret - inilah.com
Presiden Soeharto dan Bu Tien bersama Presiden Korea Selatan dan Chun Doo-Hwan berbincang bersama dalam sebuah acara tahun 1982 - kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon turut menanggapi Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 2 Tahun 2022 yang tidak mencantumkan nama mantan Presiden ke-2 RI Soeharto dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.

Fadli Zon menilai peran Soeharto besar dalam peristiwa tersebut.

“Pak Harto orang kepercayaan Jenderal Sudirman. Perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 sangat besar dan vital,” kata Fadli Zon di twitternya, Kamis (3/3/2022).

Anggota Komisi I DPR itu pun kembali mengulas peristiwa sejarah tersebut. Dia menyebut saat itu Indonesia berada di bawah Pemerintah Darurat RI yang dipimpin oleh Sjafroeddin Prawiranegara dari Bukittinggi, Sumatera Barat.

Baca juga
251 Ekor Burung Kicau Nyaris Diselundupkan dari Pontianak

“Yang orang lupa, waktu itu negara di tangan Pemerintah Darurat RI (PDRI) di bawah Sjafroeddin Prawiranegara dengan Ibu Kota di Bukittinggi. Ini strategi tunjukkan pada dunia RI masih ada,” paparnya.

Ia pun meminta pemerintah mengoreksi Keppres tersebut. Menurutnya, Setneg seharusnya lebih cermat memberi masukan kepada Presiden Jokowi.

“Keppres itu harus dikoreksi. Setneg harusnya lebih cermat dalam memberi masukan kepada Presiden. Jelas besar sekali peran Pak Harto (Soeharto) sebagai pelaksana Serangan Umum 1 Maret. Meskipun ide dari Sri Sultan HB IX. Karena waktu itu masa Pemerintahan Darurat RI (PDRI) dengan ibu kota di Bukittinggi. Soekarno-Hatta ditawan di Menumbing, Bangka. Jadi kekuasaan negara di bawah Mr Sjafroeddin Prawiranegara. Pak Dirman (Jenderal Soedirman) tunduk pada PDRI. Pak Harto adalah orang kepercayaan Pak Dirman,” tandasnya.

Baca juga
Taufik Gabung Nasdem, Suara Gerindra di DKI Tergerus

Sebelumnya Menko Polhukam Mahfud MD menyebut, nama Soeharto tetap ada dalam Keppres tersebut. Namun tercantum dalam naskah akademiknya. Fadli Zon juga turut menanggapi pernyataan Mahfud tersebut.

Tinggalkan Komentar