GIMNI: Harga Minyak Goreng Curah di Atas Rp16 Ribu, Itu Garong

GIMNI: Harga Minyak Goreng Curah di Atas Rp16 Ribu, Itu Garong - inilah.com

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga bilang, kenaikan harga minyak goreng (migor) sulit dihindari. Dipicu kenaikan sejumlah parameter penentu harga. Hanya saja, kenaikannya harus rasional. Kalau tidak berarti ada yang bermain.

“Kalau ditemukan harga migor di atas Rp16 ribu per liter di pasar tradisional, itu garong. Pedagangnya ingin untung besar. Karena harga patokan kami Rp15.400 per liter untuk migor kemasan sederhana. Sedangkan yang curah Rp13.500 per liter,” papar Sahat kepada Inilah.com, Selasa (26/10/2021).

Lalu, siapa yang bermain? Sahat menduga, kemungkinan besar di level pengecer sangat rawan permainan. “Kalau kami kan mengikuti harga produksi saja. Bahan bakunya berapa, ongkos produksinya berapa, biaya transportasi termasuk kemasannya berapa. Itu saja,” terang Sahat.

Baca juga  DPRD DKI Tunda Rapat Paripurna Interpelasi Formula E

Terkait harga minyak mentah sawit (Crude Palm Oil) sebagai bahan baku utama migor, kata Sahat, sangat bergantung harga CPO Cif Rotterdam. Selain itu, harga CPO juga ditentukan permintaan dunia akan minyak dan lemak.

Di pasar global, kata Sahat, terdapat 17 jenis minyak dan lemak (oil & fats) terbagi dalam 3 kelompok besar, yang bisa dipergunakan secara bersamaan oleh industri. Kelompok hard oils berupa minyak sawit, kernell dan minyak kelapa. Kelompok soft oils berupa soybean, rapeseed, bunga matahari; kelompok lemak berupa minyak ikan dan minyak binatang.

“Saat ini, Kanada sebagai penghasil Canola mengalami cuaca yang kurang kondusif. Malaysia, produksi minyak sawitnya turun, karena masalah tenaga kerja. Kondisi ini, bisa saja berdampak kepada naiknya permintaan dunia akan CPO,” ungkapnya.

Baca juga  Mahalnya Minyak Goreng Mendekati Rp20 Ribu/Liter, Ekonom PKR Singgung Kinerja Mendag Lutfi

Perkembangan harga minyak dunia, kata sahat juga berdampak kepada harga CPO. Karena, CPO kini menjadi campuran bahan bakar fosil. Ketika harga minyak dunia naik maka CPO juga ikut naik. Pada kuartal I-2020, harga minyak dunia berada di level US$43 per barel. Kini, harga minyak dunia melejit 200% menjadi US$85 per barel.

Saat ini, kata Sahat, permintaan migor di dalam negeri mengalami kenaikan 2,3% dibandingkan 2020. Faktor ini juga bisa berdampak kepada kenaikan harga. Sementara, harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp12.500/liter (kemasan) dan Rp11.000/liter (curah).

“Harga ini sudah tidak sesuai dengan ongkos produksi. Harga bahan baku yaitu TBS Dumai per Oktober saja sudah Rp14.010/kg. Belum ditambah biaya transportasi dan kemasan. Kami usulkan HET dievaluasi, serahkan saja ke pasar,” pungkasnya.

Baca juga  Naik 0,92 Persen, Harga Minyak Goreng di Gorontalo Termahal di Indonesia

Tinggalkan Komentar