Gizi Buruk Anak, Korban Tersembunyi Pandemi Covid-19

Gizi Buruk Anak, Korban Tersembunyi Pandemi Covid-19 - inilah.com
(ist)

Saat ini, permasalahan gizi dan kesehatan anak masih menjadi fokus utama pemerintah Indonesia. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2020 menyebutkan bahwa prevalensi stunting (pendek) pada balita Indonesia tercatat sebesar 27,7%, atau 28 dari 100 balita mengalami stunting. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporannya menyebutkan bahwa tingkat prevalensi ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Pemenuhan gizi pada anak turut penting untuk membangun sistem kekebalan tubuh, khususnya di masa pandemi Covid-19. Selain makanan, anak-anak dan orang dewasa disarankan untuk berjemur.

Menurut dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Zakiudin Munasir, sistem kekebalan tubuh seseorang sangat bergantung pada konsumsi gizi. Gizi yang seimbang mengandung, antara lain, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Asupan gizi yang tidak seimbang menyebabkan kekebalan tubuh terganggu.

Baca juga  Santriwati: Mang Saung Kerja Kuli Bangunan Demi Bahagiakan Muridnya

“Komponen-komponen makanan yang penting untuk sistem kekebalan tubuh adalah protein, magnesium, beta karoten, zat besi, serta vitamin A, B, C, D, dan E,” kata Zakiudin.

Melihat ini salah satu rintisan penyedia makanan pendamping ASI (MPASI) Grouu Baby Food merangkul seluruh masyarakat Indonesia, untuk sama-sama mendukung kesejahteraan dan kesehatan anak Indonesia secara daring. Pada tanggal 9 – 13 Agustus lalu, Grouu Baby Food berhasil menghimpun dana bantuan sebesar Rp12.200.000. Dana tersebut telah disalurkan kepada UNICEF Indonesia pada tanggal 6 September 2021 guna mendukung program UNICEF untuk anak-anak Indonesia.

Jessica Marthin selaku CEO Grouu Baby Foood mengatakan, langkah yang dilakukan dalam program ini dapat membantu menurunkan angka gizi buruk pada anak Indonesia.

Baca juga  Apakah Kamu Takut Akan Miskin?

“Kami ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh orang tua dan keluarga Indonesia yang telah mempercayakan nutrisi anaknya dengan Grouu Baby Food hingga kami bisa menyajikan lebih dari 100.000 porsi MPASI dalam satu tahun perdana kami. Kami juga tentunya berterima kasih kepada seluruh pelanggan yang telah berpartisipasi dalam program donasi ini,” jelasnya.

Jessica menambahkan, “1.000 hari pertama kehidupan bayi merupakan usia emas bagi tumbuh kembang anak. Sayangnya, anak-anak yang seharusnya menjadi harapan masa depan bangsa Indonesia masih banyak yang mengalami masalah gizi di usia dini. Hal ini dapat kita tanggulangi bersama dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan ASI lanjutan hingga usia 2 tahun dengan dilengkapi Makanan Pendamping ASI yang berkualitas. Sebagai penyedia makanan MPASI berkualitas untuk bayi usia 6 bulan ke atas, Grouu Baby Food tentu ingin melihat anak Indonesia dapat tumbuh dengan sehat dan menjadi insan terbaik bangsa,” tambahnya.

Baca juga  Kemenkes Tegaskan Belum Ditemukan Kasus Covid-19 Varian Mu

Berdasarkan survei Wahana Visi Indonesia kepada 900 rumah tangga dan 943 anak dari kelompok miskin pada 12-18 Mei 2020 di sembilan provinsi, ada 53 persen responden rumah tangga tidak mampu menyediakan makanan bergizi.

Kebutuhan minimum makanan bayi di bawah dua tahun berdasarkan frekuensi dan variasi makanan tidak terpenuhi, tepatnya ada 96,5 persen bayi. Sebanyak 25,4 persen rumah tangga yang pendapatannya terdampak pandemi mengurangi jumlah dan kualitas makan. Mereka memilih makanan yang mengenyangkan, tetapi kurang bergizi.

Tinggalkan Komentar