Senin, 04 Juli 2022
05 Dzul Hijjah 1443

Google Tutup Rapat Akses Email Akun Pemerintah Taliban

Minggu, 05 Sep 2021 - 05:13 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Google Tutup Rapat Akses Email Akun Pemerintah Taliban - inilah.com
(ist)

Google baru ini dilaporkan untuk sementara waktu mengunci sejumlah akun e-mail terkait Pemerintah Afghanistan yang terguling. Hal ini dilakukan karena Taliban diduga kuat sedang melacak jejak digital yang ditinggalkan oleh para mantan pejabat dan mitra internasional mereka.

Keterangan itu disampaikan oleh seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut, seperti dilaporkan Reuters, Sabtu (4/9/2021) pagi. Sejak Taliban mengambil alih pemerintahan Presiden Ashraf Ghani per 15 Agustus, Taliban dilaporkan telah menyita perangkat biometrik militer AS yang dapat membantu mengidentifikasi warga Afghanistan yang membantu pasukan AS dan koalisinya.

Dilansir dari The Intercept, perangkat yang dikenal sebagai Peralatan Deteksi Identitas Antar-Lembaga Genggam (HIIDE) itu disita pada pekan lalu selama serangan Taliban. Seorang pejabat Komando Operasi Khusus Gabungan dan tiga mantan personel militer AS mengatakan, hal itu mengkhawatirkan karena data sensitif di dalamnya dapat digunakan Taliban untuk memburu musuh-musuh mereka.

Perangkat HIIDE berisi identifikasi data biometrik seperti pemindaian iris mata dan sidik jari, serta informasi biografi. HIIDE digunakan untuk mengakses database terpusat yang besar. Tidak jelas berapa banyak database biometrik militer AS tentang populasi Afghanistan yang telah dihimpun.

Baca juga
Google: Peretas Rusia Berupaya Bobol Jaringan NATO dan Militer Eropa Timur

Ketika melacak individu atau kelompok teroris dan anggota Taliban, militer AS meminta informasi dari warga Afghanistan. Data biometrik tentang warga Afghanistan yang membantu AS juga banyak dikumpulkan dan digunakan untuk kartu identitas. Jika data sensitif seperti ini terakses Taliban,  dikhawatirkan warga terkait bisa menjadi target Taliban.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Google Alphabet Inc mengonfirmasi bahwa akun pemerintahan Ashraf Ghani sedang dikunci. Perusahaan sedang memantau situasi di Afghanistan dan ”mengambil tindakan sementara untuk mengamankan akun yang relevan”.

Seorang pegawai pemerintahan Ghani mengatakan, Taliban sedang berusaha mendapatkan surel-surel mantan pejabat. Akhir bulan lalu, karyawan itu mengatakan, Taliban telah memintanya untuk menyimpan data di server kementerian tempat dia bekerja. ”Jika saya menurutinya, mereka akan mendapatkan akses ke data dan komunikasi resmi kementerian sebelumnya,” kata karyawan itu.

Baca juga
Google Akuisisi Perusahaan Layar MicroLED untuk Headset AR

Pegawai pemerintah itu mengatakan, dia tidak mematuhi dan sejak itu ia bersembunyi. Reuters tidak mengidentifikasi pria itu atau mantan kementeriannya karena mengkhawatirkan keselamatannya.

Catatan penukar surat yang tersedia untuk umum menunjukkan, sekitar dua lusin badan pemerintah yang terguling oleh Afghanistan menggunakan server Google untuk menangani surel resmi, termasuk kementerian keuangan, industri, pendidikan tinggi, dan pertambangan. Kantor protokol kepresidenan juga menggunakan Google, seperti dilakukan beberapa badan pemerintah daerah.

Basis data dan surel pemerintah menyimpan semua informasi tentang pegawai pemerintahan sebelumnya, seperti mantan menteri, kontraktor pemerintah, suku sekutu, dan mitra asing. Jika Taliban dapat menguasai semua informasi tersebut, hampir pasti pula mereka dapat mendeteksi pejabat-pejabat atau pihak mana saja yang selama ini disebut sebagai musuh.

”(Data) ini akan memberikan banyak informasi yang nyata,” kata Chad Anderson, peneliti keamanan di perusahaan intelijen internet DomainTools, yang membantu Reuters dalam mengidentifikasi kementerian mana  menjalankan platform surel yang mana.

Baca juga
Taliban Hanya Terbitkan 6000 Paspor per Hari, Warga Afghanistan Berebut

”Dengan hanya memiliki daftar karyawan di Google Sheet, bisa menjadi masalah besar,” katanya.

Catatan penukar surat menunjukkan bahwa layanan surel Microsoft Corp juga digunakan oleh beberapa lembaga pemerintahan terguling Afghanistan, termasuk kementerian luar negeri dan kepresidenan. Namun, tidak jelas langkah apa, jika ada, yang diambil perusahaan perangkat lunak untuk mencegah data jatuh ke tangan Taliban. Microsoft menolak berkomentar.

Anderson mengatakan, upaya Taliban untuk mengendalikan infrastruktur digital buatan AS patut diwaspadai dan diperhatikan. Data intelijen yang diambil dari infrastruktur itu, katanya, ”mungkin jauh lebih berharga bagi pemerintah pemula daripada helikopter tua.” 

Tinggalkan Komentar