Minggu, 22 Mei 2022
21 Syawal 1443

Gunakan PLTS Atap, Kawasan Industri Suryacipta Konsisten Jalankan ESG

Gunakan PLTS Atap, Industri Suryacipta Konsisten Jalankan ESG
Kawasan industri Suryacipta

Memasuki usia 32 tahun, Kawasan Industri Suryacipta mendorong penggunaan PLTS Atap sebagai implementasi ESG, melalui program leading by example.

PT Suryacipta Swadaya (Suryacipta), selaku pengembang dan pengelola kawasan industri, menyadari pentingnya pengurangan emisi karbon sebagai salah satu langkah penerapan Environmental, Social and Governance (ESG) di perusahaan.

Pada 2021, Suryacipta menunjukkan komitmen dengan meneken MoU dengan PT Xurya Daya Indonesia (Xurya), sebagai startup energi terbarukan dengan fokus pada jasa sewa PLTS Atap di Indonesia. Suryacipta juga merupakan pengembang kawasan industri pertama dan satu-satunya yang menandatangani Pledge Renewable Energy Commitment pada acara Indonesia-German Renewable Energy Day 2021.

Suryacipta dan Xurya mengawali kolaborasi di tahun 2022 ini dengan instalasi PLTS Atap pada infrastruktur dan utilitas di Suryacipta City of Industry, Karawang. Instalasi ini dilakukan di area gedung perkantoran The Manor dan area komersial The Promenade, serta di area Water Treatment Plant dan Sekolah Menengah Kejuruan Suryacipta.

Eka Himawan, Managing Director Xurya Daya Indonesia mengatakan, instalasi PLTS Atap ini merupakan pilot project yang diharapkan dapat mendorong para tenant di Suryacipta untuk mulai beralih ke energi bersih.

Baca juga
Ditarget Energi Terbarukan Paris Agreement, Bisnis PLTS Atap Laris Manis

“Hal ini sejalan dengan komitmen Xurya dan Suryacipta dalam menciptakan kawasan industri yang tidak hanya menerapkan smart system, namun juga smart environment yang salah satunya dapat diimplementasikan melalui pemanfaatan energi terbarukan berbasis tenaga surya,” katanya, Senin (7/3/2022).

Aktivitas ini akan ditingkatkan kapasitasnya dalam 3 tahun ke depan dan perusahaan akan terus mengembangkan metode lain dan tanpa henti menganjurkan para tenant di dalam kawasan untuk menerapkan hal yang sama. Suryacipta dan Xurya percaya dengan “Leading by Example” dapat menjadi cara terbaik untuk meyakinkan para tenant Suryacipta City of Industry untuk turut serta menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan.

Wilson Effendy, Wakil Presiden Direktur Suryacipta mengatakan aplikasi solar panel di Suryacipta City of Industry di Karawang merupakan aktivitas nyata dari Suryacipta dalam mewujudkan kawasan yang ramah lingkungan melalui penggunaan EBT.

Baca juga
Omong Besar Energi Terbarukan, Tahun Ini Targetnya Meleset

“Proyek instalasi PLTS Atap ini pun merupakan geliat Suryacipta seiring dengan ulang tahun perusahaan ke-32 yang jatuh pada 26 Februari 2022. Kami berkomitmen untuk menerapkan prinsip ESG pada kawasan kami di Karawang dan Subang. Hingga pada akhirnya, perusahaan tidak hanya memberikan yang terbaik bagi para tenant dan klien namun juga dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan lingkungan. Hal tersebut tentunya selaras dengan visi perusahaan kami yaitu “Building a Better Indonesia”, tambah Wilson.

Secara paralel, Subang Smartpolitan sebagai kota cerdas dan ramah lingkungan yang sejak awal sudah direncanakan dengan konsep Smart & Sustainable tentu akan menerapkan ESG melalui pemanfaatan teknologi pada berbagai infrastrukturnya. Sebagai kota baru yang mengintegrasikan aktivitas bisnis, hunian, pendidikan dan rekreasi, penerapan ESG akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Informasi saja, sejak dimunculkan pada 2005, ESG telah banyak digunakan berbagai perusahaan yang telah menyadari bahwa faktor non-finansial, memiliki peran penting dan menjadi bagian dari proses identifikasi risiko dan peluang pertumbuhan.

Baca juga
Menko Airlangga Dorong B20 Realisasikan Net Zero Emission

Kini, berbagai keputusan yang diambil oleh perusahaan juga mempertimbangkan faktor ESG daripada sekedar memperoleh keuntungan finansial semata.

Pada praktiknya, penerapan konsep ESG tentunya disesuaikan dengan bisnis tiap perusahaan, dan tantangan industri manufaktur dalam menerapkan ESG sangat besar akibat kebutuhan energi yang tinggi dan kerap dituding sebagai sumber polusi.

Sebagian besar industri manufaktur di Pulau Jawa, diperkirakan sekitar 60-70% sumber energi yang dihasilkan PLN pada 2021, berasal dari batu bara yang merupakan energi tak terbarukan dan penyumbang emisi karbon terbesar.

Kebutuhan energi tak terbarukan ini tentunya akan meningkat tiap tahunnya jika tidak diimbangi dengan pemenuhan energi dari sumber energi baru terbarukan (EBT).

Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai usaha untuk mengurangi emisi karbon antara lain dengan melakukan transisi teknologi menuju tenaga surya atau penerapan solar panel serta rencana implementasi pajak karbon. Dengan demikian, penggunaan solar panel kini dinilai menjadi salah satu solusi awal yang penting bagi banyak perusahaan.

 

 

Tinggalkan Komentar