Senin, 26 September 2022
30 Safar 1444

Habis Nyungsep 3,69 Persen, Lapangan Banteng Pede Ekonomi 2022 Bisa 5,2 Persen

Senin, 07 Feb 2022 - 20:10 WIB
Habis Nyungsep 3,69%, Lapangan Banteng Pede Ekonomi Bisa 5,2%

Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi nasional nyungsep hingga 3,69%. Tahun ini, Kementerian Keuangan optimis bisa 5,2%. Mudah-mudahan bukan angin surga.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu memproyeksikan ekonomi nasional 2022 bertumbuh sebesar 5,2 persen. Ditopang meroketnya investasi dan ekspor, serta kelanjutan pemulihan konsumsi masyarakat. “Hal ini tentunya harus didukung oleh upaya pengendalian pandemi yang menyeluruh, termasuk dengan akselerasi vaksinasi secara masif,” ucap Febrio di Jakarta, Senin (7/2/2022).

Masih kata anak buah Sri Mulyani ini, reformasi struktural perlu terus diimplementasikan secara konsisten dan komprehensif. Guna memperkuat fondasi perekonomian dengan meningkatkan daya saing dan produktivitas nasional.

Namun demikian, ia mengungkapkan terdapat sejumlah risiko yang harus terus diwaspadai dan diantisipasi, khususnya penyebaran varian Omicron yang sejak akhir 2021 melanda berbagai negara dan menyebabkan gelombang baru COVID-19.

Baca juga
Pangkas Birokrasi, Sri Mulyani Transfer Langsung Dana BOS ke Sekolah

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa gelombang Omicron lebih cepat menyebar dibandingkan varian Delta, namun juga lebih cepat menurun.

Saat ini, Indonesia juga sedang dihadapkan pada peningkatan kasus harian varian Omicron yang sudah menyentuh angka di atas 36 ribu kasus per 6 Februari 2022, namun tingkat keterisian rumah sakit (BOR) dan kematian masih relatif lebih rendah dibanding gelombang Delta. “Meskipun demikian, kita harus tetap waspada dengan menjaga disiplin penerapan protokol kesehatan dan berjaga-jaga mempersiapkan berbagai langkah darurat jika diperlukan. Ketersediaan vaksin yang memadai dapat menjadi faktor krusial dalam penanganan pandemi gelombang Omicron,” tegasnya.

Dalam mendukung hal tersebut, Febrio menuturkan APBN akan fleksibel dan responsif guna menghadapi berbagai tantangan ke depan. Di samping risiko pandemi, pemerintah juga mengantisipasi berbagai risiko eksternal seperti tekanan inflasi tinggi, percepatan pengurangan pembelian aset alias tapering off di Amerika Serikat, serta potensi dampak isu geopolitik yang tengah terjadi.

Baca juga
Ekonomi Indonesia Aman, tapi Waspadai Laju Inflasi

“Dalam hal ini pemerintah bersama dengan otoritas lain yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus bersinergi menyiapkan bauran kebijakan antisipatif dalam menghadapi risiko-risiko global tersebut. Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia dan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan di Indonesia,” pungkasnya.

Pada hari yang sama, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021, sebesar 3,69%. Sedangkan secara kuartalan tumbuh 1,06%. “Secara kumulatif selama 2021 atau secara ctc tumbuh 3,69%,” kata Kepala BPS, Margo Yuwono dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (7/2/2022).

Margo kembali menegaskan pertumbuhan ekonomi secara kuartalan, tahunan, dan setahun penuh 2021. Secara tahunan, kuartal IV-2021 dibandingkan kuartal IV-2020 ekonomi Indonesia tumbuh 5,02%. Sebelumnya diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 sebesar 3,7%. LPEM FEB UI memprediksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal IV sebesar 5,1% sehingga perkiraan 2021 berada di angka 3,7%.

Tinggalkan Komentar