Hamas Tuding Israel Khianati Rencana Damai Trump di Jalur Gaza

Situasi tenda-tenda sementara untuk pengungsi Palestina di sebelah barat Kota Gaza, Rabu (25/3/2026). (Foto: Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak setelah kelompok Hamas melontarkan tudingan keras terhadap Israel. Hamas menilai ancaman Israel untuk melanjutkan operasi militer merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata sekaligus pengingkaran terhadap rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Juru bicara Hamas Hazem Qassem menegaskan bahwa narasi peperangan yang disebarkan media berbahasa Ibrani belakangan ini telah merusak suasana kondusif. Menurutnya, langkah Israel tersebut bertolak belakang dengan poin-poin dalam 'rencana Presiden AS Donald Trump' yang selama ini menjadi rujukan stabilitas kawasan.
"Ancaman untuk melanjutkan perang di Jalur Gaza adalah pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata. Ini jelas bertentangan dengan upaya perdamaian yang sedang dibangun," ujar Qassem dalam pernyataan resminya yang dikutip Rabu (6/5/2026).
Manuver Militer dan Penguasaan Wilayah
Di sisi lain, situasi di lapangan menunjukkan pergerakan signifikan dari militer Israel. Laporan radio Israel yang mengutip pejabat berwenang mengungkapkan bahwa tentara Israel telah memajukan 'garis kuning' atau garis demarkasi ke arah barat.
Dengan pergeseran ini, Israel diklaim telah menguasai 59 persen wilayah Jalur Gaza. Garis tersebut merupakan batas wilayah yang dikendalikan Israel di bawah fase pertama gencatan senjata yang saat ini tengah berjalan.
Pergerakan ini diduga kuat menjadi buntut dari rapat kabinet keamanan Israel pada Minggu (3/5/2026) malam. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Israel membahas opsi peluncuran kembali operasi militer skala besar dengan dalih kebuntuan negosiasi.
Kebuntuan di Meja Perundingan Kairo
Pemerintah Israel membenarkan langkah militer tersebut dengan menuding Hamas gagal mematuhi ketentuan perlucutan senjata. Bagi Israel, komitmen perlucutan senjata adalah syarat mutlak dalam kesepahaman yang dibahas sebelumnya di Kairo, Mesir.
Namun, tudingan itu dibantah oleh Hamas. Qassem menyatakan bahwa pihaknya telah menunjukkan sikap positif selama pertemuan dengan para mediator di Kairo. Ia menegaskan Hamas tetap berkomitmen bekerja sama dengan pihak regional dan internasional untuk menjaga ketenangan demi rakyat Palestina.
Saat ini, nasib perdamaian di Gaza berada di ujung tanduk. Alih-alih mencapai solusi permanen, kehadiran militer yang semakin meluas dan ancaman serangan baru justru membayangi keberlangsungan gencatan senjata yang kian rapuh.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.